She Is Nerd?

She Is Nerd?
Tumbang


__ADS_3

Ponselnya tersambung, tapi kenapa Andra tak mau mengangkatnya?


Apa ia juga sedang marah karena Nindi tak juga memaafkannya?


"Bang, angkat napa sih!" Nindi hanya mondar mandir di depan pintu kamar Andra.


Rriinggg, rrriinggg..


Tunggu, itu suara ponsel Andra. Suaranya berasal dari dalam kamar. Apa jangan jangan Andra meninggalkan ponselnya di kamar?


"Aelah, pake gak dibawa lagi." Nindi memutar bola matanya kesal.


Nindi berjalan menuju salah satu asisten rumahnya yang kini sedang membersihkan mini bar nya untuk bertanya.


"Tadi bang Andra pergi kemana?" Tanya Nindi langsung.


"Saya belum liat sih kalo den Andra nya pergi. Dari tadi pulang sekolah dia gak keluar kamar, pintunya kamarnya juga dikunci." Ucap salah satu asisten tersebut.


"Oo gitu, makasih ya." Nindi tersenyum dan kemudian pergi menuju kamarnya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi seseorang dengan nama Andra belum juga memunculkan batang hidungnya.


"Dad, bang Andra kemana sih ya. Tumben jam segini belum pulang?" Tanya Nindi pada Daddy nya yang memang sedang pulang lebih awal dari kantornya.


"Coba kamu tanya temennya tuh si Glenn atau gak si Dion?" Ujar Daddy nya.


"Aku tanya bang Glenn aja deh." Nindi mengambil ponselnya dan langsung mengetikkan sebuah pesan kepada Glenn.


Bang Glenn


"Bang Glenn, bang Andra nya lagi sama lo gak? Daritadi belum pulang dia."


"Kalo ada, suruh pulang. Jangan ilang ilangan kaya bocah."


"Tau sih kalo dia laki, tapi suruh pulang aja lah. Takut gue kalo dianya diculik wewe gombel."


Rentetan pesan Nindi kirimkan kepada Glenn. Tidak langsung dijawab, karena Glenn juga terakhir online juga sekitar pukul enam sore.


"Kayaknya lagi ama bang Glenn deh Dad."


"Iya kah? Syukur kalo gitu. Berarti dia gak kenapa kenapa."


"Oiya Dad, masalah sekolah gimana?" Tanya Nindi tiba tiba.

__ADS_1


"Gimana apanya?" Tanya Daddy nya bingung.


"Ini sekolah udah makin kacau. Kok bisa sih orang kaya dia jadi kepala sekolah di sekolah kita?"


"Ceritanya panjang kalo Daddy ceritain sekarang." Ucap Daddy nya tersebut.


"Parah banget, udah anaknya disekolah sok berkuasa. Ih jengkel banget aku." Gerutu Nindi kesal.


"Udah udah, ngapain bgomongin orang sih Nin." Ucap Daddy nya sambil tertawa.


"Hehe maap."


***


Bang Glenn


"Andra gak sama gue kok Nin. Kemaren juga gue ama Dion nelfonin dia gak diangkat angkat."


Balasan chat Nindi dibalas sekitar pukul tiga pagi oleh Glenn.


Lalu kemana Andra pergi jika Glenn pun tak bersamanya kemarin?


Nindi yang masih belum juga tidur karena sedang menonton drama favoritnya menjadi semakin panik. Kemana abagnya itu pergi?


Ia keluar kamar dan berusaha menghampiri kamar Daddy nya.


Dengan segera, Nindi pergi berlari menuju kamar abangnya yang terkunci itu.


Tok tok tok!


"Bang Andra, keluar bang!" Nindi semakin panik setelah tau tak ada yang membalas panggilannya.


"Bang, lo ada di dalem kan?" Ucap Nindi dengan suara yang sangat terlihat sangat panik.


Pukul tiga pagi, dan kini Nindi berteriak dengan kencang memanggil nama abangnya itu seolah ia sedang berada di lapangan yang kosong tanpa orang.


"Kunci cadangan. Iya kunci cadangan kamar bang Andra kan ada di ruang penyimpanan khusus." Nindi berderap pergi menaiki tangga untuk menuju ruang penyimpanan yang berada di lantai dua.


"Nah ini kunci kamar bang Andra, untung setiap kamar selalu ada kunci cadangan."


Nindi berlari kembali menuruni tangga dan pergi menuju kamar abangnya lagi.


Ceklek!


"Hah kosong? Bang Andra?" Nindi mendekati kasur Andra dan boom!

__ADS_1


Seorang lelaki bertubuh jangkung kini sudah tergeletak di bawah samping kasur dengan muka yang sangat pucat dan gelas yang sudah pecah.


"Bang Andra! Lo kenapa bisa gini bang."


Dengan segera Nindi segera menghubungi ambulans untuk segera datang.


"Bang bertahan ya bang, maafin gue." Nindi memeluk tubuh Andra sambil menangis sesenggukan. Nindi membopong tubuh abangnya itu untuk dinaikan ke atas kasur.


"Gue panggil Daddy dulu. Lo jangan kemana kemana." Nindi tersenyum untuk mentralkan suasana.


Ia pergi menuju lift untuk pergi ke lantai empat supaya lebih cepat.


"Dad." Nindi membuka pelan pintu ruang kerja Daddy nya itu.


"Eh Nindi, tumben jam segini belum tidur ada apa?"


"Emm, sebelum nya maaf Nindi udah masuk ruangan ini tanpa ketuk pintu. Nindi cuma mau ngasih tau kalo bang Andra.." Nindi menggantungkan ucapannya.


"Andra kenapa?"


"Bang Andra pingsan Dad. Dan aku rasa itu udah dari kemarin, mukanya pucat. Tapi aku udah hubungin ambulans kok, jadi Daddy gak perlu khawatir. Nanti aku aja yang nemenin bang Andra ke rumah sakit, Daddy selesaiin aja dulu kerjanya."


"Kamu gimana sih Nin, masa anak Daddy lagi begini Daddy tetep harus ngelanjutin kerja. Gak, Daddy akan ikut kamu buat pergi ke rumah sakit. Ayo kita kebawah. Siapa tau ambulans juga udah datang."


Mereka berdua segera pergi menuju lantai satu untuk melihat Andra dan menuggu ambulans datang.


"Ya ampun Andra, kamu kok bisa gini?" Daddy nya berusaha untuk menahan agar air matanya tak keluar dan membuat Putrinya semakin sedih.


"Dad, bang Andra gak kenapa kenapa kok. Bang Andra kan kuat." Nindi tersenyum dan mengelus pundak Daddy nya.


"Misi tuan, ada ambulans di luar." Security rumahnya datang menghampiri Nindi dan Daddynya.


"Baik. Bilang biar saya aja yang bawa Andra."


Ayah Nindi dengan sigap membopong Andra dan memasukannya segera ke mobil ambulans.


"Cepat, saya gak mau anak saya kenapa kenapa."


***


Maaf kali ini aku upnya gak sampe 1000 kata🙈


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~

__ADS_1


____________________________________________________


__ADS_2