
Taksi berhenti dan menginterupsi Nindi yang masih berkutat pada ponselnya itu.
"Udah sampe Neng."
"Eh udah sampe?" Nindi melihat keluar jendela memastikan.
"Makasih pak, aku udah bayar pake grob pay tadi. Sekali lagi makasih ya pak." Nindi turun dari taksi dan segera memasuki rumahnya.
Nindi berjalan dengan penuh kebahagiaan, tapi di balik rasa bahagia itu, ada kesedihan yang membelenggunya. Dimana Nuel akhir akhir ini bersikap dingin padanya, membalas pesannya dengan sangat lama, bahkan secara tersirat mengatakan bahwa Nindi selama ini telah mengganggunya.
Nindi pergi ke kamarnya dan kemudian berganti pakaian.
***
Nindi menuruni tangga menghampiri Andra yang sedang berada di ruang keluarga.
"Bang, Nuel bilang aku selama ini ganggu dia." Nindi duduk di sebelah Andra dan kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Andra.
"Hah? Gue gak salah denger?" Ucap Andra menggeser tubuhnya sehingga Nindi terjatuh ke samping.
"Ish! Pinjem bentar bahu lo, gue butuh temen curhat." Nindi kembali mnyenderkan kepalanya.
"Nuel bilang, lo ganggu dia?" Andra memicingkan matanya bertanya pada Nindi.
"Iya, dia ga bilang secara langsung sih. Chat dia kemaren yang gue harus nunggu satu hari lamanya buat nunggu dia bales chat gue, itu kek mengandung makna tersirat gitu." Matanya mulai berkaca kaca.
"Udahlah mungkin dia banyak tugas. Positive thinking aja Mbul." Andra tersenyum pada adiknya tersebut sambil mengelus rambutnya.
"Makasih bang. Makasih udah selalu ada buat gue, makasih udah selalu ngingetin dan nasehatin gue." Kaca bening di matanya mulai menebal dan saat itu juga Nindi memecahkan kacanya. Cairan bening itu membasahi pipi Nindi.
"Udah lah, gak usah nangis. Gue abang lo, jadi emang seharusnya gue ada di sisi lo. Gue bakal jagain lo, siapapun yang nyakitin lo gue bakal habisi orang itu. Termasuk kalo pacar lo itu nyakitin lo." Andra memeluk Nindi dan kemudian tersenyum pada adiknya itu.
***
"Bang berangkat bareng please." Nindi menghampiri Andra di kamarnya.
"Eh buset jombiii." Andra terkejut melihat penampilan Nindi yang super berantakan.
"Mata lo kenapa? Di gigit kecoa? Apa digigit tikus? Lo gak ngaca apa pas mandi ngeliat penampilan lo ini." Ya, Penampilan Nindi dengan mata bengkak yang merah membuat Andra khawatir terhadapnya.
"Ini gue nangis semaleman bang. Gue nonton drama korea, terus juga mbayangin gue sama Nuel pengen bisa kaya gitu. Tapi kenyataannya, hubungan gue sama Nuel kaya udah gak sehat. Jadi gue nangis semaleman. Buruan lah berangkat bareng gue." Nindi menarik-narik lengan Andra.
"Lah? Bukannya lo biasanya selalu bareng Dion?"
"Gue malu bang, gue aja kek gini. Kek jombi kata lo barusan." Nindi mengeluh dan duduk di kasur Andra.
__ADS_1
"Ya udah. Tapi lo urusin sendiri kalo Dion mad sama lo!" Andra memasukan buku buku pelajaran ke dalam tasnya.
"Mad med mad med. Biarlah, gue juga gak mau mikirin orang lain dulu. Gue mau fokus ke hubungan gue sama Nuel. Apa perlu gue balik ke Amrik buat ketemu Nuel bang?" Nindi membuang napasnya gusar. Suaranya melirih, dan kemudian ia menundukan kepalanya.
"Ngapain balik lagi? Lo kesini karena kemauan lo sendiri, lo harus tanggung jawab Mbul. Biarin aja, kalo Nuel sayang dan setia sama lo, dia gak bakal macem macem disana. Percaya sama gue." Andra tersenyum dan menarik tangan Nindi untuk keluar.
"Haish! Jangan ditarik tarik gue bisa jalan sendiri."
"Takutnya lo pingsan. Hahaha.."
"Haish! Untung abang gue."
***
Dion menunggu Nindi di depan gang. Tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang, membuat ia mendengus kesal.
"Ish, mana sih ni bocah. Ninggalin gue? Kebangetan!" Dion segera melajukan mobilnya supaya cepat sampai ke sekolahnya.
Betapa terkejutnya ia melihat Nindi yang baru saja keluar dari mobil Andra.
Ia semakin geram dan semakin ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua.
"Apa mereka pacaran? Eh tapi si Nindi kan udah punya pacar." Dion menggumam sambil sesekali memukul stir mobilnya sendiri.
Ia mengikuti Nindi dan Andra yang berjalan berdampingan sangat akrab. Tertawa dan saling memukul pelan.
Tanpa Dion sadari, telapak tangannya mengepal. Mengepal semakin kencang hingga urat urat di tangannya terlihat begitu jelas.
Andra mengantarkan Nindi ke kelasnya. Melambaikan tangan dan kemudian pergi.
Dion langsung menyeret Andra menuju lorong sepi tempat ia mengintip Nindi dan Andra yang berpelukan waktu itu.
Dion memukul Andra beberapa kali. Sampai tangannya tak sanggup lagi untuk memukul sahabatnya itu.
"Heh! Apa apaan sih lo yon? Ngapain lo gebuk gue? Ada masalah apa lo sama gue?" Andra mendorong Dion hingga ia jatuh tersungkur.
Dion langsung bangkit dan mendekatkan tubuhnya pada Andra dengan tatapan tajam bak elang yang ingin memgambil anak ayam.
"Ada hubungan apa lo sama Nindi?" Tanya Dion pada Andra.
"Hah? Ngapain lo tiba tiba tanya kaya gitu. Lo suka sama Nindi?" Tanya Andra menahan tawanya.
"Kalo gue bilang iya kenapa? Lo gak terima?"
"Gak! Gue gak terima, Karena dia udah punya pacar. Jangan ganggu dia!" Kali ini, Andra mulai emosi pada Dion, ingin sekali ia memukulnya tapi ia menahannya. Andra pergi meninggalkan Dion sendirian yang diam mematung.
__ADS_1
"Andra tau Nindi udah punya pacar?" Dion menggumam lirih.
***
"Woy! Ngapain sih diem dieman gini? Kalo ada masalah cerita napa?" Glenn menatap bingung kedua sahabatnya itu yang saling mendiamkan.
"Tanya ae ndiri ama perebut pacar orang!" Andra menyindir tegas Dion.
"Lo nyindir gue? Lagian yang ngerebut pacar orang siapa juga? Gue gak ngerasa gue ngrebut!" Dion meninggikan suaranya yang membuat seisi kantin menoleh ke arahnya.
"Lo! Lo gak sadar kalo lo ngrebut Nindi dari pacarnya?"
"Gak! Karena gue emang gak ngrebut dia."
"Haish! Nindi itu siapa? Pacar lo Ndra? Ini gimana sih, cerita napa. Gue kaya anak bawang nj!r disini gak tau apa apa."
"Nindi itu siswi disini. Anak nerd yang gue ceritain ke lo di cafe kemaren. Dia tuh udah punya pacar eh Dion malah mau ngrebut."
"Oo, yang kemaren lo ama dia bisik bisikan di sono?" Andra menunjuk tempat yang waktu itu Nindi tempati.
"Hem." Jawab Andra.
"Dion suka ama si Nindi? Tapi Nindi udah pacar? Pacarnya siapa? Lo Ndra?" Tanya Glenn yang masih bingung dengan kejadian yang terjadi.
"Muke gile! Orang dia a--" Ucapannya terpotong. Hampir saja ia membongkar identitas Nindi. Bisa bisa dihajar habis habisan Andra kalo samapi membongkarnya.
"A? A apa?" Dion bertanya dengan nada yang dingin.
"A--a a anak cupu! Gak mungkin lah dia pacar gue. Dia tuh udah punya pacar, cuma lagi renggang gitu." Jelas Andra gugup.
"Kok lo tau kalo hubungannya lagi renggang?" Ucap Dion penuh selidik.
"Lah? Lo juga tau kalo hubungannya lagi renggang? Malah nanya gue, harusnya gue yang tanya ke lo! Darimana lo tau." Kini giliran Andra yang bertanya penuh dengan selidik.
"Dia curhat ke gue kemaren! Kenapa lo?"
"Lah dia udah curhat ke lo? Ngapain curhat lagi ke gue. Dasar tuh bocah." Ucap Andra lirih.
"Kok lo akrab banget sih Ndra sama Nindi. Sebenernya dia siapa lo sih?"
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________
__ADS_1