
"Hah? Lo siapanya dia sih?"
"Ehmm, lupain kak. Aku ke kelas dulu ya. Sebentar lagi bel masuk. Duluan kak." Nindi tersenyum kikuk dan langsung berlari meninggalkan Dion di rooftop sendirian.
"Andra tau semua apa yang lo alamin?" Dion bergumam pelan.
Dion segera turun dari rooftop kenuju kelasnya. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada sahabatnya, Andra.
"Woy!" Dion menoyor Andra yang sedang memainkan ponselnya.
"Kata Nindi, lo tau semua apa yang dia alamin. Emang apa aja? Terus lo siapanya gitu kok bisa sampe deket banget?" Tanya Dion dengan kedua tangannya yang di masukkan ke dalam sakunya.
"Gue orang istimewa. Spesial lah pokoknya." Ucap Andra enteng dan masih terdokus pada ponselnya.
"Serius! Lo siapanya?" Suara Dion meninggi membuat Andra dan seisi kelas menoleh ke arahnya.
"Yon, gue gak mau berantem sama lo. Gini deh, beberapa bulan lagi lo bakal tau kok gue siapanya Nindi. Kalo lo mau tau, lo harus sabar." Ucap Andra menepuk bahu Dion.
"Oke. Kalo dalam beberapa bulan ini gue gak tau apa apa, gue laporin lo ke pacar lo kalo lo selingkuh dari dia." Senyuman licik tercetak di wajah Dion.
"Silahkan. Gue gak takut." Andra terkekeh kecil membuat Dion semakin geram kepadanya.
***
MINEnuel🙄
"Nindi, i think kita mesti break up."
"Maaf aku ga bisa ngomong secara langsung sama kamu karena kamu jauh disana."
"Aku gak bisa LDR sama kamu, dan aku juga mau fokus sama masa depan aku."
Nindi yang kini tengah berada di dalam mobil Dion terbelalak melihat pesan panjang dari pacarnya itu, tunggu mantannya mungkin?
Matanya berkaca kaca, satu tetesan air mata jatuh ke layar ponselnya. Dion yang menyadari itupun langsung menoleh ke arah Nindi.
"Woy! Ngapain nangis lo? Lo gak seneng gue anter pulang? Biasanya lo fine fine aja kalo gue anter pulang."
Tak ada jawaban dari Nindi. Jarinya gemetar untuk membalas pesan Nuel. Air matanya makin membanjiri layar ponselnya.
"Nin! Lo gak papa?" Dion sesekali menoleh ke arah Nindi tapi tetap terfokus pada jalanan.
Tangisnya pecah. Isakan tangis keluar dari mulutnya. Matanya yang tak terlapisi kacamata itu terlihat begitu merah. Pipinya basah, sangat basah.
Dion melihat ke arah Nindi yang masih melihat ke ponsel yang ada di genggamannya. Dion langsung saja mengambil ponseln itu dari Nindi.
Ia melihat nama Manuel yang baru saja mengirimi Nindi pesan.
__ADS_1
Dion membaca pesannya. Ada perasaan senang ketika tau bahwa Nindi putus dari kekasihnya itu, tapi ada juga perasaan sedih di hati Dion melihat Nindi yang tak berhenti menangis.
Dion menepikan mobilnya ke salah satu cafe dekat sekolah.
"Turun dulu Nin. Kita ngobrol di dalem."
***
"Jadi, apa lo bersedia ceritain beban lo ke gue? Biar lo gak nanggung sendirian." Ucap Dion berusaha mengatur kata katanya.
"Maaf kak. Aku belum bisa percaya sama orang lain dulu." Ucap Nindi yang masih terisak.
"Terus kenapa lo mau cerita sama Andra?" Dion memancing Nindi.
"Karena beda. Jangan samain orang lain sama dia." Tangisannya semakin menjadi.
"Dia spesial banget di hati lo?" Dion berusaha sabar dengan mengeluarkan kata kata yang tidak kasar atau membentak.
"Maaf kak. Jangan bahas kak Andra dulu, kakak berusaha nyari tau tentang hubungan aku sama kak Andra kan?" Nindi tersenyum dengan wajah yang sudah sangat basah.
"Sorry, gue gak berma--" kalimat Dion di potong begitu saja oleh Nindi.
"Kalo kak Dion pengen tau hubunganku sama kak Andra itu sebenernya apa, tunggu beberapa bulan lagi kak." Nindi memberi tau seperti apa yang Andra beri tahu pada Dion tadi di sekolah.
"Emang kenapa si? Beberapa bulan lagi ada apa?"
"Sabar kak." Nindi kembali tersenyum sambil melepas kuciran rambutnya.
Dion membatin sambil melihat lagi Nindi yang mengucir rambutnya ke belakang.
"Lo tau gak? Lo mirip ama pacarnya Andra." Ucap Dion sambil memajukan kepalanya.
"Oo, iya. Kenapa kak?"
"Lo gak kaget?" Tanya Dion bingung.
"Enggak." Nindi tersenyum ke arah Dion yang membuat Dion salah tingkah terhadapnya.
"Dih! Ngapain senyum senyum."
***
"Mbul, kita mesti hati hati banget kayaknya nih. Si Dion tingkat ke kepoannya makin akut."
"Biarlah, bentar lagi kan gue bakal bongkar diri gue, jadi gue juga udah kasih clue clue ke dia. Kalo dia masih gak paham ya berati dia begoo. Hahah" Nindi tertawa renyah.
"Hish! Eh kayaknya si Dion suka ama lo deh, tadi pagi aja gue di libas ama dia." Andra memberi tau Nindi kejadian tadi pagi yang dialaminya.
__ADS_1
"Iya gue udah tau kalo lo di gebukin ama dia."
"Oiya bang, Nuel mutusin gue." Matanya berkaca kaca, Nindi menunjukan chat Nuel yang dikirimkan tadi sepulang sekolah.
"Hah? Kurang ajar emang tuh bocah! Lo udah setia nunggu dia disini, eh dianya malah begitu. Kalo dari awal gak sanggup LDR ngapain masih biarin lo pergi coba!" Nindi mendengar jelas nada keemosian dan kebencian yang di keluarkan Andra.
"Biar bang, setidaknya gue tau kalo Nuel gak baik buat gue. Dan gue emang bukan jodohnya." Nindi mengelap matanya dan kemudian tersenyum kaku.
"Sabar ya Mbul, lo bisa kok dapetin yang lebih baik dari dia." Andra tersenyum dan menepuk bahu Nindi.
***
"Haduhh, malem malem gini ngapain coba. Biasanya nge drakor, tapi gak ada drama yang cocok Hadehhh."
" Chat Nuel?"
"Bodo amat lah gue udah gak peduli sama dia! Gue harus bisa move on dengan gak ngelakuin apapun yang berhubungan sama dia!" Nindi menggeleng gelengkan kepalanya yakinz
Nindi memainkan ponselnya dn membuka instagram. Sudah lama ia tak membuka instagram pribadinya maupun akun instagram keduanya.
"Hmm, rame banget. Manuel posting apa aja y?"
Tanpa sadar, Nindi malah stalking akun mantannya tersebut. Padahal ia sudah berjanji akan move on?
"Lima hari yang lalu. Hmm, Nuel belum post lagi."
Nindi kemudian mencari akun milik seseorang yang dulunya sangat ia benci. Ya, itu Dion.
"Dua jam yang lalu. Rajin up beginian ternyata dia, melebihi gue yang perempuan haha." Nindi terkekeh seraya melihat lihat postingan Dion.
"Woy!"
"Eh! Ngapain sih bang, ngagetin aja. Kalo jantung gue copot gimana?"
"Gak bakal, kan ada paru paru tuh nanti yang bakal megangin jantung lo." Amdra tertawa kecil dan langsung mengambil ponsel Nindi.
"Wih wih wih, stalking stalking Dion lo ya. Baru aja putus udah mau ama orang lain aja nicchhh." Andra tersenyum pada Nindi yang malah membuat Nindi kesal setengah hidup.
"Ngapain sih! Gue tadi mau stalking Nuel. Tapi, ahhh gak tau lah. Siniin hp gue!" Bukannya diberikan, Andra justru malah mengangkat ponsel Nindi tinggi tinggi.
"Lo beneran suka gak sama Dion? Kalo beneran suka, gue yang jadi cupid deh. Gimana gimana?" Andra menaikan salah satu alisnya dan Masih tetap dengan mengangkat ponsel milik Nindi.
"Gak bang! Gue gak suka bener deh ama si Diondel ondel itu. Siniin buru lah hp gue!"
"Nih nih, kalo gitu jangan keseringan natap foto Dion. Tar naksir lo! Hahah." Andra melenggang pergi dari kamar Nindi karena melihat Nindi yang sudah siap memegang bantal untuk dilemparnya.
____________________________________________________
__ADS_1
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________