She Is Nerd?

She Is Nerd?
Diketahui


__ADS_3

"Sabar sabar. Jodoh gak akan kemana." Tata mengelus rambut Nindi yang malah mendapat decakan kesal oleh pemiliknya.


"Iya jodoh gak kemana, tapi gue yang bingung nyari mereka kemana kemana. Musti nunggu jodoh gue putus ama pacarnya dulu. Ya itu kalo jodoh gue lagi pacaran sekarang."


Keduanya tertawa dengan begitu lepas seperti tak ada beban yang sedang mereka tanggung. Sahabat yang sudah Nindi dan Tata impikan sejak dulu. Sahabat yang lucu, menyenangkan, asik, dan mudah diajak bicara serius maupun gajelas.


***


"Heh mata empat, sini lo!" Sasha dan dan para gank nya tiba tiba saja menghadang Nindi di koridor kelas sebelas.


Sebenarnya Nindi sudah merasa tentram dan nyaman karena tidak ada gangguan semenjak ia menjadi asisten Dion. Tapi kali ini, kayaknya Sasha akan bermain main dengan Nindi.


Nindi menghampiri Sasha dengan menundukan kepalanya.


"Ada apa kak? Aku harus pulang sekarang." Ucao Nindi sopan.


"Gue selama ini diemin lo bukan berarti gue kalah dari gembel kaya lo ya. Lo pake pelet apa sampe Dion ama Andra ngrebutin lo hah?" Sasha memegang dan menegakan dagu Nindi dengan jari telunjuknya.


Sabar Nin, sabar.


"Gak kak. Maaf kalo kedekatan aku sama kak Dion dan kak Andra bikin kak Sasha marah."


"Iya emang salah lo ngedektin mereka. Mereka itu cuma punya gue. Lo gak mau kan gue keluarin dari sekolah ini cuma gara gara ngedeketin mereka?" Sasha mengancam Nindi dengan senyuman licik yang sangat terlihat di wajahnya.


"Gak kak. Maaf aku harus pulang." Nindi pergi melenggang begitu saja tapi cekalan di tangannya yang begitu kencang membuat ia mengurungkan niatnya.


"Pulang pulang. Urusan kita belum selesai, sekali lagi gue peringatin. Jauhin Dion maupun Andra, gue tau lo nge deketin mereka cuma mau manfaatin aja kan?" Sasha terus saja membentak Nindi.


"Emang kakak siapanya kak Dion? Siapanya kak Andra?" Nindi memberanikan diri tapi masih dalam keadaan menunduk.


"Kenapa lo tanya tanya? Lo gak percaya kalo mereka itu pacar gue?"


Hahah, pacar lo katee? Nindi membatin sambil tersenyum samar.


"Percaya kak."


"Oke kali ini gue lepasin lo. Tapi kalo sampe gue ngeliat lo jalan bareng salah satu dari mereka, habis lo!" Tangan Nindi yang berada di genggamannya ia lempar begitu saja. Ia dan kedua temannya pergi meninggalkan Nindi sendirian.


"Anjiir, untung gue penyabar. Tunggu pembalasan gue nona jalaang!" Smirk kecil cukup memperlihatkan apa yang akan terjadi nanti.


***

__ADS_1


"Vanila latte nya satu." Kini Nindi sedang berada di cafe langganan nya semenjak ia pulang ke Indonesia.


"Wih, Nindi kok oenampilan kamu kaya gini. Biasanya aja cantik banget kaya bidadari turun dari kayangan." Ucap salah satu pelayan yang memang sudah akrab dengan Nindi.


"Iya nih. Ada misi, misi penyelamatan dunia. Buruan ah, haus gue."


"Iya siap delapan enam!" Pelayan tersebut meberikan tanda hormat dan kemudian pergi meninggalkan Nindi.


Nindi melepas ikat rambut dan kacamata bulatnya. Rambutnya ia biarkan tergerai. Kini ia berada di ruangan yang cukup privat, jadi orang orang tak akan ada yang tau Nindi yang sebenarnya.


"Ehm ehm ehm" Nindi bergumam sambil memainkan ponselnya.


"Hey!" Suara lelaki datang dari arah belakang membuat Nindi sangat terkejut. Jantungnya seakan berhenti berdetak detik itu juga.


Siapa dia? Aduhh, jangan samoe gue ketauan.


Nindi langsung mengambil ikat rambutnya dan menguncirnya. Nindi berbalik dan melihat sosok yang tak asing baginya.


"Hai, ada apa ya?" Tanya Nindi dengan sopan.


"Lo Nindi kan?" Lelaki tersebut bertanya untuk memastikan seseorang yang sedang diajak bicara dengannya.


"Iya kak. Kakak dari Capella?" Nindi bertanya seperti itu karena melihat almamater yang sama dengannya.


Deg!


Nindi menelan salivanya kasar, tubuhnya menengang. Matanya tak berhenti berkedip dan ia mengulum bibirnya untuk meredakan panik.


"Kakak siapa ya?" Tanya Nindi memastikan.


"Gue Glenn, kita pernah ketemu di cafe lunar."


Nindi diam mematung. Apakah rahasianya sudah terbongkar?


Kenapa lelaki tersebut mengetahui jati dirinya?


"Gue boleh duduk disini?" Tanya Glenn sambil melirik kursi di depan Nindi yang kosong.


"Boleh kak."


***

__ADS_1


"Jadi gitu ceritanya. Maaf ya udah bikin lo ketakutan karena pasti lo kira jati diri lo udah terbongkar ya?" Glenn tersendyum tipis kepada Nindi.


"Iya kak. Please jaga rahasia ini ya kak, aku mohon banget." Nindi mengatupkan kedua tangannya tanda permohonan.


"Iya santai aja. By the way, Andra belum tau lho kalo gue tau lo." Glenn kembali tersenyum sambil sesekali menyeruput minumannya.


"Iya kah?" Tanya Nindi antusias.


"Iya, dia pinter banget acting di depan Dion. Gue kalo denger Andra yang lagi ngibulin Dion kadang gue suka ketawa sendiri." Glenn tertawa diikuti Nindi yang juga tertawa bersama.


"Ngomong ngomong, kakak kok tau aku ada disini?"


"Sebenarnya gak tau. Cuma ini kan cafe bokap gue, jadi gue sering kesini. Nah tadi pas gue mau jalan ke sini gue papasan sama pelayan disini, katanya ada makhluk yang bentukannya kaya malaikat berubah jadi sosok yang mengerikan. Nah gue kan kepo." Lelaki tersebut tertawa terbahak bahak. Sementara Nindi yang mendengarnya hanya bisa memajang raut wajah yang kesal.


"Huh, kirain bang Glenn nguntitin gue. Eh gue manggilnya abang aja ya, biar lebih deket." Ucap Nindi sambil tersenyum.


"Santai aja, terserah mau lo panggil gue apaan. Sayang juga boleh." Glenn tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Yuck!" Nindi mengeluarkan lidah dan mengekuarkan suara seperti orang yang akan muntah.


"Hahaha, bercanda."


"Lo mau pulang sekarang? Ini udah agak sore, nanti abang tercinta lo nangisin lo khawatir lho dirumah."


"Lah dia mah gak peduli ama gue. Mau gue pulang jam sepuluh juga dia gak peduli. Hahaha" Nindi sedikit menjelekkan abangnya itu, walau sebenarnya itu bohong.


"Demi apa? Abanglo begitu?" Glenn memajukan kepalanya dengan raut wajah bingung.


"Enggak lah. Dia tuh care banget sama gue. Eh tapi jangan kasih tau bang Andra kalo gue muji muji dia, nanti gede kepala dianya." Nindi meringis memperlihatkan giginya yang tampak tersusun rapi.


"Iya iya, lo mau gue anter pulangnya?" Tawar Glenn pada Nindi.


"Gak usah. Makasih waktunya kak, aku jadi ada temen ngobrol deh." Nindi memasukan semua barangnya ke dalam tasnya dan kemudian pergi meninggalkan Glenn yang masih tersenyum pada dirinya.


"Bye bang!" Nindi melambaikan tangannya dan hanya dibalas anggukan dan senyuman oleh Glenn.


"Gue suka sama lo. Tapi kayaknya ada yang lebih pantes dari gue Nin. Sebisa mungkin gue akan jadi abang kedua lo yang perhatian sama lo." Glenn tersenyum dan kemudian beranjak dari kursinya.


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~

__ADS_1


____________________________________________________


__ADS_2