She Is Nerd?

She Is Nerd?
Restu Andra


__ADS_3

"Saya bilang jangan sentuh dia. Anda sudah tidak perlu lagi datang untuk menjenguk kami. Lalu untuk apa anda datang setelah bertahun tahun pergi?" Ucap Nindi dengan emosi yang meledak ledak.


"Jaga ucapan kamu Nindi! Saya kesini ingin bertemu dengan anak saya, jadi jangan halangin saya."


Glenn dan Dion, diam mematung tak tahu apa yang sedang terjadi. Glenn sempat berbisik kepada Dion untuk keluar dari ruangan ini sekarang juga.


"Yon, keluar dulu yuk." Glenn langsung saja menarik tangan Dion untuk keluar dari ruangan dengan suasana mencekam itu.


"Eh siapa sih ibu ibu tadi?" Tanya Dion kepada Glenn.


"Ya mana gue tahu, nyokapnya Andra kali? Tadi dia bilang sih gitu. Lo gak denger?"


"Ya denger sih. Tapi gue kepo aja gitu."


"Kalo denger ngapain nanya gue saepul!"


"Gue kepo bener dah Glenn, gue ngintip sedikit boleh kali ya?" Ucap Dion dengan serius yang malah mendapat pukulan kecil dari Glenn.


"Ngintip pala lo. Itu urusan keluarga mereka, gak usah ikut campur lo. Udah lo duduk diem disini."


"Lo tau kan? Gue itu orangnya punya penyakit kepo yang udah akut banget?" Ucap Dion menghadap Glenn dengan tatapan yang serius.


"Terus? Lo kaya mak mak komplek bener dah!"


"Haish, bodo amat lah gue tetep mau ngintip plus nguping. Kalo lo gak mau ikut ya lo duduk diem disini!"


"Eih Yon!" Pekik Glenn yang hanya diabaikan oleh Dion.


***


"Setelah bertahun tahun anda meninggalkan kami, lalu anda datang kesini? Saya gak percaya jika anda hanya ingin menjenguk Andra saja!" Ucap Nindi dengan sangat ketus.


"Nindi, kamu kenapa sih? Sebegitu bencinya kamu sama saya?"


"Saya gak akan membenci anda jika anda tidak pergi disaat kami sedang kesusahan. Lalu disaat kami sudah bisa dibilang sukses, anda datang."


"Nindi, jaga ucapan kamu. Saya kesini hanya untuk menjenguk Andra anak saya!"


"Udah udah. Ngapain sih ribut disini, lebih baik anda pergi dari ruangan saya. Saya gak butuh lagi yang namanya seorang ibu seperti anda! Dan juga, jangan pernah anda membentak ataupun kasar terhadap Nindi!" Ucap Andra yang sudah muak dengan perdebatan seorang "ibu" dan adiknya.


"Dan juga, jangan pernah anda datang dihadapan kita lagi. Karena kita gak butuh sosok seperti anda di hidup kami!"


"Kalian berdua sudah keterlaluan. Saya yang sudah mengandung kalian selama sembilan bulan kalian campak kan begitu saja?"


"Kami mencampakkan anda? Bang ada cermin gak? Gue mau ngasih cermin ke wanita itu biar dia bisa ngaca!" Nindi bertanya kepada Andra dengan smirk khasnya.


"Terserah apa mau kalian berdua. Tapi saya mungkin bisa diterima kembali oleh Daddy kalian!"

__ADS_1


Licik. Itu lah sifat yang tumbuh dalam diri seorang Renata Cahya Baskoro. Sesosok ibu yang sepertinya tidak pantas untuk dipanggil ibu. Ia meninggalkan keluarganya hanya karena keluarganya hampir saja jatuh bangkrut. Ia tak suka jika harus di ajak ber susah bersama.


Karena itulah, kedua anaknya sekarang sangat membenci sosok Renata.


Setelah perdebatannya dengan Nindi dan Andra, Renata keluar dari ruangan dengan wajah sangat kesal. Ia membuka pintu dengan kasar dan mendapati Dion yang sedang berdiri di samping pintu.


"Ngapain kamu di sini? Nguping?" Ucap ketus Renata.


"Emm, enggak. Saya mau masuk tadinya, eh malah lagi pada ribut." Ucap Dion gugup yang ditatap tajam oleh sosok Renata. Padahal, ia memang berniat untuk menguping. Tapi belum sempat menguping keseluruhan, perdebatan itu sudah usai.


"Ouh." Renata memalingkan tubuhnya dan wajahnya dengan begitu arogan.


"Dih, belagu banget tuh orang." Ucap Dion pelan supaya tidak terdengan oleh sesosok yabg sedang ia biacarakan.


Dion memasuki ruangan Andra dan mendapati Nindi yang sedang menangis sambil memeluk Andra.


"Ndra.." ucap Dion dengan suara yang lirih.


"Hussstttt..." Andra mengisyratkan Dion dengan menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya.


"Kenapa dia?" Uap Dion lagi dengan suara yang lirih supaya tidak mengganggu Nindi.


"Gue benci orang itu. Gue akan jagain lo disini sampe lo bener bener sembuh, supaya lo gak diganggu ataupun di cuci otak sama perempuan itu!" Dari posisi yang duduk menunduk sambil memeluk Andra, Nindi bangkit dan mengelap air matanya.


Ia berbalik arah dan menatap Dion dengan tatapan sengit. Nindi berjalan dan kemudia duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Glenn, mana Yon?" Tanya Andra pada Dion karena mendapati Dion yang sendirian masuk ke ruangannya.


"Di mana?" Tanya Nindi yang tiba tiba bangkit dari duduknya.


"Ya cari ndiri lah, intinya diluar."


"Oke, thanks."


***


Nindi keluar dari ruangan Andra dan menyusuri koridor untuk mencari sosok Glenn. Tak jauh dari ruangan abangnya itu, sesosok yang dicarinya ternyata tengah bermain dengan ponselnya.


"Bang Glenn!" Nindi mendekati Glenn dan kemudian duduk disampingnya.


"Bang, gak masuk ke ruangan bang Andra?" Tanya Nindi pada Glenn.


Melihat mata yang bengkak dan wajah yang sedikit kemerahan membuat Glenn sedikit panik.


"Lo nangis lagi?" Ucap Glenn sambil memegang kedua pipi Nindi.


"Heem, ini semua gara gara perempuan itu." Ucap Nindi yang matanya mulai kembali berkaca kaca.

__ADS_1


"Udah udah, jangan diterusin. Jangan cerita sekarang dulu, cerita aja kapan kapan kalo lo udah siap. Mau makan di kantin?" Tawar Glenn pada Nindi untuk makan di kantin yang ada dirumah sakit.


"Enggak, nanti aja. Ke kamar bang Andra yuk."


"Baik tuan putri." Nindi tersenyum dan langsung menggandeng tangan Glenn. Karena Nindi sudah menganggap Glenn seperti abangnya sendiri, jadi ia sudah tidak terlalu canggung pada Glenn seperti saat pertama mereka bertemu.


Ceklek!


Dua orang yang sedang di dalam ruangan itu, terkejut melihat kedatangan dua orang dengan keadaan yang sedang bergandengan tangan.


"Wah parah, dasar cewe chili!" Ucap Dion terkejut sambil bertepuk tangan.


"Brisik lo!" Nindi kini kembali duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Glenn, gue mau tanya sama lo."


"Eh tapi Yon, lo bisa duduk di sebalah Nindi dulu gak? Ada yang mau gue bicarain sam Glenn."


"Oh oke, omel aja dia bro. Udah ngembat cewek lo! Hahahha."


Dion bernjak dari samping kasur Glenn menuju sofa yang tempatnya berada di ruang tamu.


"Duduk bentaran doang kok gue. Habis itu balik lagi." Ucap Dion mendahului sebelum Nindi mulai mengomel dan akhirnya berbuntut panjang.


"Oh!"


***


"Lo kenal sama Nindi Glenn?" Tanya Andra langsung.


"Kenal lah. Lo belum tau ya kalo gue tau Nindi nerd itu Nindi adek lo." Glenn tersenyum dan menaikkan slaah satu alisnya.


"Hah? Kok lo bisa tau?"


"Panjang sih ceritanya, intinya yang belum tau tuh cuma si dodol Dion aja. Dia itu begoo nya kebangetan gue rasa. Masa dia gak curiga atau apa gitu."


"Ya udah jangan sampe dia tau. Solanya kalo ada banyak yang sampe tau, ditebas pala gue ama dia. Haha" ucap Andra lirih.


"Intinya kalo gue ngobrol akrab sama Nindi lo jangan kaget." Senyum menggoda pun dikeluarkan dari wajah Glenn.


"Jangan bilang lo mau ndeketin adek gue?"


"Nggak, tenang aja. Tapi kalo lo ngerestuin sih bisa bisa aja, hahahha." Keduanya pun tertawa cukup keras membuat Dion merasa kesal.


"Udah belum ngobrolnya woi. Bukannya ngomelin Glenn malah ketawa ketawa lo berdua. Ada apaan?"


____________________________________________________

__ADS_1


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________


__ADS_2