
"Gue pengin main bareng lo lagi. Gue pengin perang bareng lo lagi. Cepet sehat bang." Nindi terus bermonolog dengan tatapan kosong lurus ke depan.
"Jangan nangis. Abang lo kalo tau lo nangis pasti dia juga sedih. Harusnya lo semangat, semangat doain dia biar cepet sembuh, semangat lah pokoknya." Suara seseorang dari balik punggungnya membuyarkan lamunan Nindi.
Dengan segera Nindi segera mengelap air matanya dan langsung memakai kacamata bulatnya lagi.
"Eh bang Glenn, ngapain disini?" Tanya Nindi dengan nada yang masih sedikit terisak.
"Lo sendiri ngapain? Kenapa gak ke taman sebelah aja yang banyak orang. Kenapa malah ke taman tua ini?"
"Gapapa, cuma taman ini itu taman yang sering dipake buat gue sama bang Andra berantem. Lucu kalau bayangin itu lagi." Nindi tertawa paksa.
"Ooo, jadi berita Andra masuk rumah sakit beneran?"
"Iya. Tadi pagi jam tiga gue sama Daddy bawa dia ke rumah sakit." Jelas Nindi.
"Ya udah balik kelas gih, lo gak takut disini sendirian? Taman ini angker lhooo." Ucap Glenn sengaja menakut nakuti Nindi agar segera kembali ke kelas.
"Mmm, tapi gue masih pengen disini bang. Lagian gue gak ikut pelajaran juga gak papa."
"Iya iya, yang sekolahnya milik keluarganya." Keduanya tertawa bersamaan. Seakan detik itu juga Nindi melupakan segala masalahnya.
"Makasih bang udah hibur gue. Lo gak balik ke kelas? Mending lo balik aja deh, daripada nanti ada yang liat kita eh malah jadi salah paham."
"Jadi salah paham juga gapapa. Guenya yang seneng." Ucap Glenn sambil tersenyum.
"Hah?"
"Bercanda, gak usah diseriusin. Lagian lo juga nganggap gue kaya abang lo kan?"
"Hmm, makasih bang Glenn." Dengan tiba tiba Nindi berdiri dan segera memeluk Glenn.
Sedangkan dilain tempat, Dion berusaha mengejar Glenn yang tadi berlari begitu saja.
"Mana sih Glenn yaampun." Dengan kebetulan, Dion melewati taman tua tersebut dan menyaksikan adegan yang membuatnya dejavu.
"Glenn, Nindi?" Ucap Dion pelan.
Dion masih tetap mengawasi Glenn dan Nindi yang berpelukan dan kemudian Glenn menghapus air mata Nindi yang kembali keluar.
Dion segera menghampiri keduanya.
"Woy! Ngapain lo peluk peluk dia." Ucap Dion memisahkan Glenn dan Nindi.
"Heh lo perempuan cupu. Lo jangan manfaatin temen temen gue ya, gue udah liat lo pelukan sama 2 sahabat gue di taman ini dan di tempat ini. Mau lo apa sih?"
"Aku gak manfaatin sahabat sahabat kakak. Terserah mau percaya atau gak!" Nindi berjalan menjauh meninggalkan Dion dan Glenn yang berdebat kecil.
***
__ADS_1
Setelah bel pulang berbunyi, Nindi dengan cepat bergegas pergi menuju rumah sakit.
Nindi bergegas menuju runag VVIP abangnya.
Ceklek!
"Bang Andra, lo udah bangun?" Ucap Nindi dengan girang.
"Hmm."
"Lah begitu doang. Lo marah sama gue? Bukannya gue ya yang seharusnya lagi marah sama lo?"
"Gak, gue gak marah. Gue cuma kesel aja kenapa gak ada yang nungguin gue!"
"Hehe, maaf bang. Tadinya gue pengin nungguin lo eh tapi gue berubah pikiran hehe."
"Lo gak ganti baju?"
"Gue ganti atasan sama ubah rambut aja. Gue ke kamar mandi dulu."
"Yaaaa."
Saat Nindi sedang berganti pakaian di kamar mandi, dua sahabat Andra datang untuk menjenguknya setelah berita bahwa Andra masuk rumah sakit tersebar di sekolah.
"Ndraaa, kok bisa lo disini? Andra yang kuat masuk rumah sakit broo!"
"Tau darimana lo gue masuk rumah sakit?"
"Lo sendirian aja Ndra? Ucap Glenn setelah daritadi hanya diam.
"Nggak, ada Nindi noh di kamar mandi lagi ganti seragam."
"Nindi pacar lo?"
"Bukan lah, Nindi a.." Andra mendelik kaget pada ucapannya sendiri.
"Emm, iya Nindi pacar gue."
Glenn yang mendengar percakapan kedua sahabatnya itu hanya bisa tersenyum. Ia sudah mengetahui semuanya sedangkan Dion dengan bodohnya tak sadar sadar akan keanehan dari Nindi si Nerd dengan Andra.
"Bang, lo udah makan belum." Terkejut. Satu kata mungkin bisa mewakilkan Nindi sekarang setelah melihat Glenn dan Dion yang sedang berada di ruangan abangnya itu.
"Bang? Lo manggil pacar lo bang?"
"Kenapa emangnya? Gak suka lo?"
Dion meneliti Nindi dari ujung rambut sampai kaki, karena melihat keanehan.
"Lo kok pake rok CIHS? Katanya lo bukan anak sekolahan situ?"
__ADS_1
"Emm, kenapa emangnya? Pacar gue kan anak dari yang punya sekolah itu. Jadi ya gue minta aja buat dia ngasih gue seragam sekolahnya. Kenapa, masalah?"
"Dih biasa aja kali. Glenn, lo ngapa diem diem aja."
"Lo berdua yang ribut ngapain gue harus ikut campur. Lagian kalo mau ribut jangan disini, kasian Andra noh kupingnya kepanasan dengerin ocehan kalian berdua." Ujar Glenn sambil pergi mendekati Andra sahabatnya.
"Lo keluar deh dari ruangan Andra sono!" Ucap Nindi mengusir Dion.
"Dih lo yang keluar tuh harusnya." Balas Dion sambil duduk di sofa.
"Awas ya lo!" Ucap Nindi kesal.
"Ndra, lo kok bisa begini?"
"Gue gak tau juga sih Glenn. Waktu itu gue lagi marahan ama Nindi, jadi gue ngurung diri gue aja di kamar. Gue tau lo bakal mikir gue lemah, tapi kalo Nindi marah sama gue itu rasanya kek ada yang nge ganjel. Makanya gue berusaha ngehindar dulu dari dia biar dia bisa tenang."
"Tapi lo tau gak kalo Nindi tadi nangisin lo?"
"Nggak. Iya kah?" Senyuman tipis terulas di bibir Andra.
"Bang, gue keluar dulu ya cari angin. Sumpek gue disini laki semua." Nindi tiba tiba saja muncul diantara percakapan glenn dan Andra.
"Bagus, keluar aja sono!" Ucap Dion ketus.
***
"Dih, gue pengin banget nungguin bang Andra. Tapi males banget ada Diondel ondel itu." Gumam Nindi sambil terus berjalan di koridor rumah sakit.
"Perempuan itu!" Ucap Nindi kesal melihat seorang wanita paruh baya yang hendak memasuki ruangan Andra.
"Tunggu!" Cegat Nindi pada wanita tersebut.
"Mau apa anda ke ruangan kakak saya."
"Jaga ucapanmu ya Nindi. Saya itu ibu kamu, sopan sedikit!" Ucap wanita itu sambil terus berjalan dan membuka pintu ruangan Andra.
"Saya bilang jangan masuk ke ruangan ini!" Suara keras Nindi membuat ketiga Andra dan kedua sahabatnya menoleh ke arah pintu masuk.
"Andra, kamu kenapa sayang?" Wanita itu mendekati Andra dan langsung memeluknya.
"Saya bilang jangan sentuh dia. Anda sudah tidak perlu lagi datang untuk menjenguk kami. Lalu untuk apa anda datang setelah bertahun tahun pergi?" Ucap Nindi dengan emosi yang meledak ledak.
"Jaga ucapan kamu Nindi! Saya kesini ingin bertemu dengan anak saya, jadi jangan halangin saya."
Glenn dan Dion, diam mematung tak tahu apa yang sedang terjadi. Glenn sempat berbisik kepada Dion untuk keluar dari ruangan ini sekarang juga.
"Yon, keluar dulu yuk." Glenn langsung saja menarik tangan Dion untuk keluar dari ruangan dengan suasana mencekam itu.
____________________________________________________
__ADS_1
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
____________________________________________________