She Is Nerd?

She Is Nerd?
Bekal


__ADS_3

"Gak usah. Makasih waktunya kak, aku jadi ada temen ngobrol deh." Nindi memasukan semua barangnya ke dalam tasnya dan kemudian pergi meninggalkan Glenn yang masih tersenyum pada dirinya.


"Bye bang!" Nindi melambaikan tangannya dan hanya dibalas anggukan dan senyuman oleh Glenn.


"Gue suka sama lo. Tapi kayaknya ada yang lebih pantes dari gue Nin. Sebisa mungkin gue akan jadi abang kedua lo yang perhatian sama lo." Glenn tersenyum dan kemudian beranjak dari kursinya.


***


Pagi ini bukan pagi yang menyenangkan untuk Nindi. Setelah mendapat anacaman dari Sasha kemarin, pikirannya sedikit buyar. Tapi bukankah seharusnya ia senang jika Dion tidak ada disampingnya?


"Bang, gue duluan ya naik taksi." Nindi menggendong tasnya lesu.


"Gak di anter bos lo tuh si Dion?"


"Nggak, gue gak mau berhubungan ama dia lagi kayaknya. Gue diancem sama pacar lo. Sebenarnya gue gak takut sih sama anceman dia, tapi gue takut kalo gue makin nekat itu malah ngebahayain buat penyamaran gue."


"Pacar pala lo. Dia tuh sakit jiwa gue rasa." Ucap Andra enteng.


"Ya udah gue duluan ya. Bye bang, lagi pula kalo gue gak boleh berhubungan sama lo atau Dion ada orang lain yang masih bisa gue deketin. Hahahah" Nindi tertawa dan berlari menuju pintu depan menyisakan Andra yang masih diam tak paham dengan apa yang Nindi utarakan barusan.


"Hah?" Andra menganga sebelum akhirnya tersadra saat ponselnya berdering.


***


"Pagi Ta. Pagi banget lo datengnya?" Nindi menyapa Tata yang sedang sibuk dengan buku bukunya.


"Lo udah kerjain ini belum? Liat dong. Gue frustasi nih belum selesaiin ini." Tata mengacak ngacak rambutnya karena tugas sekolah yang belum ia selesaikan.


"Aelah, pantes lo dateng pagi banget. Nih." Nindi memberikan bukunya pada Tata dan langsung disambar cepat oleh Tata.


"Busyeet, cepet amat neng."


"Gue gak ada waktu bener dah. Gue khilaf kemaren gue marathon drakor jadi belum nyelesaiin ini." Mendengar ucapan Tata barusan Nindi terkekeh dan sedikit menoyor kepala sahabatnya itu.


"Ya elah, eh lo ada lagi suka sama seseorang gak sih Ta?" Nindi bertanya dengan pandangan lurus dan Tata yang masih sibuk menyakin tugas milik Nindi.


"Gak tau, ada mungkin. Tapi kayaknya dia suka sama orang lain deh." Tata berujar sambil masih tetap menyakin tugasnya.


"Ooo, gue ada. Tapi gue juga belum bisa mupon."


"Aelah, lupain aja lah mantan lo itu."


"Gak semudah yang lo bayangin. Dua tahun bareng dia itu bukan waktu yang sebentar, banyak kenangan yang gue jalanin sama dia. Dan itu bikin gue susah lupa."


"Ya pelan pelan aja lo lupain dia. Pasti bisa kok, semangat kaka." Tata mengangkat lengannya memberi bentuk tanda semangat.


***


Tadi pagi Nindi sempat membawa dua bekal. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Glenn sebagai rasa terima kasih Nindi karena sudah menemaninya ngobrol ber jam jam.


"Gue ke toilet bentar ya Ta." Bohong Nindi pada Tata.


"Siyapp!"

__ADS_1


Nindi berjalan keluar kelas dan pergi menuju area kelas dua belas. Banyak kakak kelas yang menatapnya risi, menatapnya jijik, dan bahkan sesekali ada yang melontarkan kata kata tidak mengenakkan.


"Misi kak, kak Glenn nya ada?" Ucap Nindi sopan pada salah satu siswa yang mungkin sekelas dengan Glenn.


"Oh Glenn. Ada, bentar ya."


"Glenn ada yang cari lo!" Lelaki tersebut berteriak dan kemudian ia pergi meninggalkan Nindi.


Glenn keluar bersama Dion dan Andra. Betapa terkejutnya Andra melihat Nindi kini sekarang berada di depan kelasnya.


"Iya kamu nyariin aku?" Tanya Glenn pada Nindi.


"Iya, aku mau kasih ini. Semoga suka ya, ini ucapan terima kasih aku kemarin." Nindi tersenyum pada Glenn dan sesekali melirik Andra yang menatapnya bingung.


"Oh harusnya gak perlu repot repot. Tapi makasih ya sekali lagi." Glenn melontarkan senyumnya pada Nindi membuat Nindi juga tak tahan untuk menarik kedua ujung bibirnya.


"Wei wei, apa apaan nih. Lo ngapain kasih dia bekel?" Semprot Dion langsung pada Nindi yang langsung merubah mood Nindi.


"Aku duluan ya kak. Nggak enak di area sini lama lama." Nindi melambaikan tangannya pada Glenn sambil tersenyum.


"Dih gak jawab pertanyaan gue."


Andra masih diam menatap punggung Nindi yang semakin menjauh. Sementar Dion hanya mengumpati gadis itu yang sudah menghilang dari pandangan.


"Hah?" Andra membuka mulutnya bingung.


"Pada ngapain sih kalian? Buruan masuk. Gue mau menyantap makanan ini." Ejek Glenn pada kedua temannya itu.


"Bukan apa apa. Dia cuma ngasih gue ini." Glenn menunjukan kotak bekal yang diterimanya dari Nindi.


"Oh jadi Glenn laki laki yang dimaksud." Gumam Andra tapi masih bisa terdengar oleh Dion dan Glenn.


"Hah? Barusan lo ngomong apa? Glenn laki laki yang dimaksud?" Jiwa ke kepoannya seakan meledak ledak dalam dirinya.


"Gak. Lo salah denger, enak gak Glenn masakan Nindi."


"Enak. Entar kotaknya gue balikin ke lo ya." Glenn mengankat sebelah alisnya.


"Hah? Kok gue, balikin sendiri lah." Andra menjawab Glenn dengan gelagapan.


"Ya gak papa sih gue balikin sendiri. Gue jadi bisa ketemu lagi sama dia." Kini giliran Glenn mengejek dan menertawakan Dion dalam diam yang masih tak paham maksud semua ini.


"Ehmm enak banget. Kasian deh lo pada gak ada yang nganterin bekal." Glenn tertawa renyah namun hanya mendapat decakan kesal dari kedua sahabatnya itu.


***


Sepulang sekolah Dion langsung pergi menuju kelas Nindi untuk meminta penjelasan.


Kepalanya seakan mau meledak jika harus membayangkan kejadian siang tadi.


Dion mengintip ke jendela kelas untuk memastikan bahwa Nindi masih di dalam. Benar saja, kini Nindi masih memasukkan buku bukunya ke dalam tas.


"Hei!" Sapa Dion sambil tersenyum. Bukannya menjawab, Nindi malah terus memasukan bukunya dan kemudian melenggang meinggalkan Dion.

__ADS_1


"Tunggu Nin. Lo kenapa sih?" Tanya Dion yang masih berdiri di dalam kelas Nindi membuat Nindi menghentikan langkahnya.


"Nggak papa kak. Udah dulu ya, aku mau pulang buru buru." Nindi segera mempercepat langkahnya dan pergi meninggalkan Dion yang masih berada di dalam kelas sendirian.


Nindi keluar sekolah dan memesan taksi online. Tujuannya sekarang bukanlah rumah, melainkan cafe milik Glenn kemarin.


Dion membuntuti Nindi dari belakang dengan jarak aman.


"Kemana sih tu bocah." Dion menyetir dan tetap terfokus pada taksi di depannya.


Taksi itu berhenti di sebuah cafe yang sangat Dion kenali.


"Cafe nya Glenn? Ngapain dia?" Dion segera memarkirkan mobilnya dan kemudian turun mencari Nindi.


Nindi masuk ke cafe tersebut dan duduk di tempat biasa. Di lantai dua di ruangan yang cukup memiliki privasi.


"Hai, aku balik lagi." Sapa Nindi pada pelayan yang sudah sangat dikenalnya.


"Wih nona manis kesini lagi. Mau ketemu mas Glenn?" Tanya pelayan itu langsung.


"Oh engga, aku cuma mau pesen vanila latte kaya biasanya. Aku keatas duluan ya, pesenan aku juga jangan lupa." Nindi mengedipkan sebelah matanya dan kemudian pergi menuju lantai dua.


Dion yang baru saja masuk ke dalam cafe tersebut sempat bingung kencari keberadaan Nindi. Karena tak ada Nindi dari ujung ke ujung. Ia kemudian berinisiatif pergi ke lantai dua ke tempat ia dan kedua sahabatnya biasa nongkrong.


Ia jalan perlahan ketika mendengar tawa seseorang. Ya, itu Nindi dan Glenn. Mereka sedang tertawa bersama.


Niatnya Nindi hanya akan mampir untuk minum vanila latte seperti biasanya, tapi sepertinya Glenn juga sedang ada di cafe tersebut dan berniat menemani Nindi mengobrol.


Dion menguping pembicaraan mereka berdua. Tapi tidak cukup terdengar, membuat ia memberanikan diri untuk naik dan menemui keduanya.


"Wei Glenn!" Sapa Dion seolah olah tak melihat Nindi.


"Wei, kesini ngapain lo?" Semprot Glenn langsung.


"Mau ngelarisin cafe bokap lo lah. Lo ngapain disini?"


"Gue lagi nemenin Nindi ngobrol ama sekalian balikin kotak bekalnya. Mau gabung lo?" Glenn melirik Nindi dan sempat menangkap wajah Nindi yang seolah berkata 'jangan woy!'


"Eh Nindi, katanya mau balik. Kok mampir ke sini? Lo lupa lo masih jadi asisten gue? Lo harus pergi kemanapun gue pergi. Lo gak lupa perjanjian itu kan?" Dion menyudutkan Nindi yang wajahnya kembali ke sosok Nindi si nerd yang panikan.


"Ehm, aku berhenti jadi asisten kakak. Maaf ya, bang Glenn aku pulang dulu." Nindi beranjak dari kusinya dan kemudian pergi meninggalkan Glenn dan Dion.


"What?! Abang, sejak kapan lo jadi abangnya dia?" Tanya Dion muak.


"Sejak lo gak tau apa apa." Glenn juga beranjak pergi meninggalkan Dion yang masih diam mematung bingung dengan apa yang baru saja ia lihat.


"What! Pada ninggalin gue, gila kalian semua." Umpat Dion dengan keras.


____________________________________________________


Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~


____________________________________________________

__ADS_1


__ADS_2