
Jantung seakan berdetak tiga kali kebih cepat dari biasanya. Bagi Dion tatapan Nindi sekarang seakan seperti setrum yang mampu membuatnya kaku seketika.
"E-elo ngapain ngeliatin gue?" Sentak Dion yang membuat Nindi terkejut.
"Nungguin jawaban tadi." Untung saja Nindi bisa mengelak.
"Jawaban apa?" Tanya Dion.
"Emm gak ada. Abaikan aja." Ucap Nindi mengibaskan tangannya.
"Seriusan, lo tanya apaan?"
"Enggak kak abaikan aja. Gak penting juga, hehe" Nindi tertawa sedikit tapi matanya langsung saja menutup membentuk garis.
Melihat itu, ingin sekali Dion membungkus satu makhluk yang kini berada disampingnya itu.
"Lo mau gak kalo makan dulu sebentar?" Tanya Dion yang lagi lagi dengan nada yang sangat datar.
"Boleh aja kak." Jawab Nindi.
Mereka berdua pun melaju menuju salah satu cafe yang yang berada tak jauh dari sekolahnya.
"Udah sampe!" Ucap Dion.
Nindi pun turun tanpa membawa tas nya. Ia mengekori Dion, yang lebih terlihat seperti asisten yang sedang mengikuti majikannya.
"Lo ngapain di belakang gue?" Ketus Dion.
"Takut jadi bahan omongan kak. Nanti kakak malu." Ucap Nindi sambil menunduk.
"Gak, gue gak malu." Dengan cepat Dion menggandeng tangan Nindi untuk masuk menuju cafe tersebut dan,,
Dugaan Nindi benar, banyak tatapan dari wanita yang sepertinya iri terhadap Nindi. Sosok perempuan cupu yang kini tengah digandeng oleh seseorang bak pangeran dari kayangan.
"Beruntung banget dia, cowoknya gak mandang fisik." Ucap salah satu pengunjung cafe dengan memandang kagum Nindi dan Dion.
"Lakinya fiks kena pelet!" Nyinyir pengunjung lainnya.
Nindi sempat tersenyum saat ada orang yang baru kali ini tidak memakinya seperti orang orang lainnya, dan mengabaikan orang-orang yang melontarkan kalimat kebencian yang memang sudah menjadi makanan tiap harinya jika ia berada di sekolah.
"Buruan duduk!" Kejut Dion yang langsung membuat Nindi tersadar dari lamunannya.
"Iya kak." Nindi tersenyum.
"Mau pesen apa?"
__ADS_1
"Aku minum aja, vanilla latte." Jawab Nindi.
"Oke!" Dion langsung saja memesan pesanannya dan pesanan milik Nindi.
Setelah menunggu beberapa menit, makanan milik Dion dan minuman keduanya pun sampai.
Hening. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, yaitu dengan Dion yang kini tengah menyantap makanannya dan Nindi yang tengah menyeruput vanilla latte nya.
Merasa awkward dengan situasi sekarang, Nindi memecahkan keheningan keduanya dengan melontarkan sebuah kalimat.
"Kak, kakak gak punya pacar?" Tanya Nindi langsung yang membuat Dion tersedak spaghetti nya.
"Uhuk!"
"Kenapa tiba tiba tanya begitu?" Jawab Dion bingung.
"Enggak papa sih, cuma kalo aku liat liat kakak kayak gak pernah pergi pergi gitu sama cewek.
"Gue pergi kok ama cewek." Ucap Dion.
"Oow..bagus deh, udah izin buat pergi sama aku sekarang?" Tanya Nindi.
"Izin ke siapa?" Tanya Dion lagi.
"Ke pacar kakak lah, kan kakak udah punya pacar?"
"Kakak barusan."
"Gue gak bilang kalo gue punya pacar. Gue kan cuma bilang kalo gue pergi sama cewek."
"Oow, gitu ya..hehe maap maap, kalo boleh tau siapa kak? Eh tapi kalo gak mau jawab juga gapapa, itu kan privasi kakak.
"Lo. Lo kan cewek? Lo gak sadar, atau lo itu cowok?" Ucap Dion dengan nada dan muka yang datar tanpa ekspresi.
"Oow gitu ya, maaf maaf. Kakak udah pernah pacaran?" Tanya Nindi lagi supaya tidak kehabisan topik.
"Pernah, satu kali. Kalo lo?"
"Aku juga satu kali sih, dan itu bikin aku patah hati banget waktu putus sama dia. Karena coba kakak bayangin, dua tahun menjalin hubungan tiba tiba putus cuma gara gara LDR, huh" Nindi menghembuskan napasnya kasar dan tak sadar bahwa baru saja ia curhat masalah dirinya.
"Ehee!" Dion tertawa kecil.
"Ternyata lo banyak omong juga ya, gue kira lo pendiem gitu. Bagus deh, setidaknya lo gak kaku kaku banget." Ucap Dion dan langsung saja mengelus puncak kepala Nindi.
Nindi yang merasa sentuhan yang begitu lembut itu, seketika mengejang dan seluruh tubuhnya terasa membeku sebeku es. Aliran dari kepalanya turung ke perutnya dan merasakan banyak sekali kupu kupu yang tengah menggelitiki perut dalamnya.
__ADS_1
Dion yang melihat ekspresi Nindi diluar ekspetasi nya pun tersenyum samar. Ia mengira Nindi akan tersenyum menggoda dan meminta lebih seperti kebanyakan cewe yang pernah ia temui.
"Hahaha, sorry sorry baru aja gue bilang lo gak kaku kaku amat, eh sekarang malah mbeku tuh badan." Ledek Dion pada Nindi.
"Eeh," Nindi terkesiap dan langsung mengalihkan perhatiannya dengan menyeruput vanilla lattenya.
"Emm, kalo gue bilang gue suka sama lo. Lo gimana?" Ucap Dion langsung yang sebenarnya gengsi untuk ia ungkapkan.
"Emm, gapapa sih. Hak kakak buat suka sama aku." Nindi tersenyum kembali membuat matanya tertutup membentuk garis.
"Lo gak suka gue?" Tanya Dion sedikit kecewa.
"Jujur kak, aku suka sama kakak. Karena kakak baik, sama baiknya kayak kak Glenn dan kak Andra. Tapi kalau yang dimaksud kakak suka yang akan bisa menjurus ke cinta. Aku belum ngerasain itu di kakak, maaf banget." Ucap Nindi mengatupkan telapak tangannya dengan terus menerus mengucapkan kata maaf.
Dion yang mendengar ucapan Nindi barusan, merasa kecewa. Ia sudah rela mengalahkan rasa gengsinya untuk mengungkapkan kalimat yang sudah lama tak ia ucapkan kepada seorang wanita, tapi malah mendapat sesuatu yang tidak sesuai harapannya.
"Oke. Gapapa kok, tapi kalo gue boleh tau kenapa ya? Apa karena lo belum move on?" Ucap Dion datar.
"Aku gak tau juga sih, aku ngerasa kalo aku udah move on tapi ya begitulah. Mungkin trauma?"
"Dih, lebay lo! Gitu aja bikin trauma!" Ucap Dion dengan senyum terpaksa nya seakan meremehkan.
"Tapi ada alasan lain sih aku belum bisa terima kakak?" Ucap Nindi yang membuat Dion kembali menunjukan sedikit ekspresi berharapnya.
"Apaan?"
"Aku takut kalau kakak tau aku yang sebenarnya, kakak bakal ngejauh dan ilfeel sama aku." Ucap Nindi.
"Emang kenapa? Emang lo yang sebenernya gimana?"
"Sebentar lagi kakak bakal tau kok. Tapi kalo kakak pengin tau banget, ya intinya aku yang sekarang ini akan berubah menjadi sosok yang mungkin aja kakak benci banget." Ucap Nindi memberikan sedikit kode kode supaya Dion tak terlalu terkejut nantinya saat Nindi memperkanalkan dirinya sebagai anak kedua pemilik CIHS disaat ulang tahun sekolah nanti, seperti apa yang sudah abangnya sarankan.
"Sumpah gue gak paham. Lo ngomong gak jelas, muter muter. Udah gue tahu kok, lo gak perlu kasih alesan yang gak mutu gitu. Kalo emang lo gak suka gue ya udah. Gak usah sok ngasih harapan buat gue!" Ucap Dion sedikit meninggikan suaranya.
Dalam batinnya Nindi berkata,"sumpah goblog banget ni orang. Hadehhh!"
"Gak kak. Gak gitu, kalo kakak emang beneran suka sama aku mungkin kalo aku terus bareng kakak, aku bisa terbiasa dan mungkin aku juga bisa suka sama kakak. Tapi kalau kakak mau menyerah sampai disini, gak papa juga kok." Nindi tersenyum, setidaknya ia sudah berusaha untuk membalas perasaan Dion.
"Buat apa? Gak penting, kalo lo emang gak suka sama gue ya udah!" Ucap Dion sambil memutar matanya kesal.
"Oke. Gapapa kalo kakak emang mau menyerah sampai sini aja. Setidaknya aku udah berusaha buat buka hati kalo emang kakak beneran suka dan mau berjuang. Hehe by the way, makasih udah pernah suka sama aku." Senyuman yang Nindi berikan setelah mengucapkan kalimat barusan, membuat hati Dion yang baru saja kembali membeku setelah penolakan yang diberikan Nindi, seketika kembali mencair walau masih ada sebagian yang masih beku.
____________________________________________________
Guys, aku minta tolong buat kalian semua supaya like dan komen tulisan aku, jujur dengan melihat itu aku jadi yakin kalo sebenernya kalian itu bener bener suka sama karya aku. Jadi aku semangat buat terus update. Jika kalian tidak keberatan boleh juga di vote cerita aku ini. Terima kasih sebelumnya, jujur aku selalu liat siders di cerita aku ini yang bikin aku sedih. Semoga terhibur dengan cerita aku\~
__ADS_1
____________________________________________________