Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Terserah Adira


__ADS_3

Adira menikmati makan malam sendirian di malam pengantin mereka. Sungguh Adira tidak peduli dengan suaminya lagi karena ia sudah berusaha untuk berbuat baik tapi pria itu malah mengatakan yang tidak-tidak padanya.


Sampai Adira menyudahi makannya, Arkan tidak kunjung keluar. Setelah makan Adira kembali ke kamar. Ia menyuruh pelayan untuk membiarkan makanan tetap di meja. Siapa tahu Arkan ingin makan nanti.


Melihat Adira sudah masuk ke kamarnya, Arkan lalu datang ke meja makan untuk makan malam. Arkan sengaja tidak ingin makan bersama istrinya.


"Siapa yang memasak makanan ini ?" tanya Arkan ketika melihat menu makanan yang berbeda dari yang selalu di sajikan di rumah orang tuanya.


"Istri anda yang memasak makanan ini, tuan." jawab pelayan yang ada di sana.


Arkan mulai menyantap makanannya karena ia bukan tipe orang yang memilih-milih makanan. Apapun yang di sajikan ia akan memakannya. Semua makanan ini sangat enak. Benarkah wanita itu yang memasaknya ? tanya Arkan dalam hatinya.


Sementara itu Adira yang bersembunyi di balik dinding mundur dengan perlahan kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia begitu terkejut melihat Arkan yang sedang makan malam sendiri. Adira sempat melihat wajah Arkan dari samping. Wajah yang selama ini ia tutup dengan masker.


"Astaga. Separah itukah cacat di wajahnya ?" Adira melihat sebelah pipi Arkan mengkerut seperti bekas luka bakar.


Adira ingin pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di jadikan tempat wadah untuk mengaduk maskernya. Tapi ia mengurungkan langkah kakinya saat melihat Arkan sedang makan. Adira malah bersembunyi di balik tembok untuk mengintip Arkan yang sedang tidak memakai penutup wajah.


Keesokan harinya, saat Adira sarapan, Arkan baru saja turun dari kamarnya. Pria itu melewati Adira begitu saja saat melihat wanita itu tengah menikmati makanannya. Tatapan mata mereka bertemu, namun tidak ada sepatah katapun yang di ucapkan baik Adira maupun Arkan.


"Apa dia tidak pernah sarapan di rumah ?" tanya Adira setelah Arkan pergi.


"Tuan selalu sarapan di rumah setiap hari, nona." jawab pelayan jujur.


Sekarang Adira mengerti jika Arkan sengaja menghindarinya. Pria itu memang tidak mau makan bersama dengannya seperti tadi malam.


Setelah selesai sarapan Adira kembali masuk ke kamarnya sebelum ia pergi ke butik pukul delapan seperti biasanya.

__ADS_1


Semua karyawan butik menatap heran melihat bos mereka datang ke butik hari ini. Bukannya baru kemarin Adira melangsungkan pernikahan. Tapi tidak ada satupun yang berani menanyakan langsung kepada Adira.


Adira bekerja seperti biasa dan pulangnya juga seperti biasa. Adira membawa setelan jas yang telah ia buat untuk suaminya untuk pernikahan mereka. Adira meletakkan sendiri pakaian itu di dalam lemari baju Arkan.


Hari ini juga Adira memasak sendiri makanan untuk makan malam. Setelah mandi dan berganti pakaian, Adira makan malam sendiri tanpa memanggil Arkan.


"Apa dia sudah pulang ?" tanya Adira kepada pelayan yang ada di sana.


"Sudah, nona. Tuan ada di kamarnya."


Setelah selesai makan, Adira kembali ke kamarnya dan tidak lupa juga ia berpesan kepada pelayan agar membiarkan makanan tetap di meja karena Adira yakin sebentar lagi Arkan pasti turun untuk makan malam.


Seperti malam kemarin, Adira kembali mengintip Arkan yang sedang menikmati makan malamnya dan setelah itu wanita itu kembali lagi ke kamar.


Besok paginya, pagi-pagi sekali Adira bangun untuk menyiapkan sarapan. Setelah selesai memasak sarapan Adira kembali ke kamar dan meminta pelayan untuk menata makanan di atas meja agar Arkan sarapan sebelum berangkat kerja.


"Di mana dia ?" tanya Arkan saat melihat minuman untuk Adira masih utuh.


"Nona masih di kamarnya, tuan." jawab pelayan.


"Apa yang di lakukannya semalam di rumah ?" tanya Arkan lagi.


Padahal ia sudah tahu jika Adira pergi bekerja semalam.


"Setelah tuan berangkat, nona juga pergi bekerja dan pulang sorenya."


Arkan kembali menyantap sarapan yang di masak oleh istrinya. Arkan sempat melihat Adira sedang memasak di dapur tadi pagi saat ia baru saja keluar dari ruangan olahraganya.

__ADS_1


Tak terasa sudah hampir satu bulan Arkan menikah dengan Adira dan begitu juga kegiatan mereka setiap harinya. Sekali pun mereka tidak pernah bertemu di dalam rumah. Adira memilih masuk ke dalam kamar saat Arkan pergi dan pulang kerja. Begitu juga saat Arkan sedang sarapan dan makan malam.


Arkan merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia makan malam ini.


"Siapa yang memasak makanan ini ?" tanya Arkan ketika merasakan rasa makanan yang berbeda dari biasanya.


"Saya, tuan."


"Dimana dia ?" tanya Arkan lagi.


"Nona ada di kamarnya."


"Apa dia sudah makan ?" Arkan melihat piring Adira masih bersih ada di sana.


"Belum, tuan. Nona belum keluar kamar sejak pulang dari kerja sore tadi." Adira juga berpesan kepada pelayan agar menyiapkan makan malam untuk Arkan.


Arkan langsung menyudahi makannya. Dalam hatinya merasa khawatir dengan Adira. Ada apa dengan wanita itu ? mengapa ia tidak keluar dari kamar dan makan malam.


Arkan kemudian kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya menghubungi seseorang.


"Apa saja yang dia lakukan hari ini."


"Masih sama seperti kemarin, tuan. Nona masuk ke butik pukul delapan dua puluh dan tidak keluar lagi setelah itu. Pukul empat kurang dua puluh menit nona keluar butik dan langsung kembali ke rumah." orang suruhan Arkan melaporkan kegiatan Adira sedetail mungkin seperti biasanya.


Tidak ada yang aneh. Tapi kenapa dia mengurung diri di kamar ? tanya Arkan dalam hatinya.


Arkan kembali turun ke lantai bawah. Ia melihat makanan masih ada di atas meja. Itu artinya Adira belum makan. Arkan berniat untuk melihat Adira di kamarnya. Bagaimana pun ia merasa cemas. Takut terjadi sesuatu kepada wanita yang kini sudah menjadi istrinya.

__ADS_1


Perlahan Arkan mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kamar Adira dan melihat bagaimana keadaan wanita itu.


__ADS_2