
Salah seorang karyawan butik masuk ke dalam ruangan Adira untuk memberitahukan jika ada seseorang yang ingin bertemu.
"Nona, ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan anda."
"Suruh dia masuk ke ruangan ku." jawab Adira.
Setelah beberapa saat karyawan itu keluar, pintu ruangannya kembali terbuka. Seorang wanita muda dan cantik masuk ke dalam ruangan Adira.
"Silahkan duduk, nona." tawar Adira sopan dan ramah.
"Tidak perlu." jawab wanita itu ketus.
Adira terkejut melihat sikap wanita itu yang tidak secantik paras wajahnya. Apa wanita ini punya masalah dengannya ? tapi Adira saja tidak mengenal siapa wanita ini.
"Maaf. Anda siapa ? dan ada keperluan apa datang menemui ku ?" tanya Adira masih dengan nada sopan.
Adira mencoba mengingat-ingat wajah wanita yang sedang berdiri didepannya. Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi sepertinya tidak. Adira yakin dia memang tidak mengenal wanita ini.
"Kedatangan ku kesini hanya untuk memberitahukan mu jangan jadi wanita jal**g. Gara-gara kau rumah tangga ku jadi hancur. Suami ku meninggalkan ku karena mengejar jal**g seperti mu." cerca wanita cantik itu.
Wajah Adira jadi merah padam karena menahan marah mendengar perkataan wanita itu. Pikiran Adira langsung teringat dengan Leo. Ya, wanita ini pasti istrinya Leo. Istri yang sudah di ceraikan oleh Leo.
Bukannya meluapkan kemarahannya, Adira justru tersenyum mengejek wanita itu.
"Hah, tidak salah kau mengatakan aku jal**g ? bukannya julukan itu lebih pantas untuk mu ?" balas Adira.
"Kau menggoda pria beristri, apa namanya kalau bukan jal**g ?" kata Bela.
__ADS_1
"Memangnya kau pernah melihat aku menggoda suami mu ?" tanya Adira.
"Ups, mantan suami mu." Adira meralat perkataannya dengan wajah mengejek.
"Kau pikir aku tidak tahu, Leo selalu datang menemui mu." cerca Bela.
"Bukan salah ku jika dia datang menemui ku. Aku juga tidak menyuruhnya melakukan itu. Tidak seperti mu yang lebih dulu mendatangi pria ke apartemen dan menggodanya." sindir Adira.
"Kau .." Bela sudah ingin membalas perkataan Adira tapi dengan cepat Adira memotongnya.
"Jika kau datang kesini hanya untuk mengungkapkan kekesalan mu sebaiknya kau silahkan pergi. Karena aku masih punya banyak pekerjaan lain dari pada mendengar curhatan mu." tangan Adira menunjuk pintu keluar.
" Cih."
Bela melengos menatap Adira sebelum keluar dari ruangan wanita itu. Ia sungguh geram melihat Adira yang pandai sekali menjawab dan membalikkan kata-katanya. Bela tidak akan berhenti sampai di sini. Ia pasti akan kembali lagi untuk membuat perhitungan kepada Adira. Karena Adira.
Bela menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari butik Adira dengan perasaan kesal. Dia yang lebih dulu mencari gara-gara dengan Adira tapi malah dia sendiri yang sakit hati.
Sore harinya seperti biasa, Arkan ke butik untuk menjemput Adira. Hari ini Arkan mengendarai mobil sendiri karena Hen sedang keluar kota untuk urusan pekerjaan.
"Kau ingin mampir ke suatu tempat ?" tanya Arkan sebelum menjalankan mobilnya.
"Tidak ada. Langsung pulang saja." Adira merasa malas karena suasana hatinya yang buruk setelah kedatangan Bela, mantan istri Leo.
Saat tiba di lampu merah, Arkan tidak sengaja melihat seorang wanita yang duduk di dalam mobil sebelahnya.
"Sera."
__ADS_1
Adira langsung menoleh saat mendengar Arkan menyebut nama wanita lain.
"Siapa Sera ?" tanya Adira penasaran.
Arkan tidak menjawab pertanyaan Adira. Bahkan menoleh pun tidak pada istrinya itu. Arkan malah membuka kaca mobil di sebelahnya untuk melihat lebih jelas lagi wanita yang ia sebut Sera itu.
"Sera."
Panggil Arkan lebih kuat lagi. Berharap wanita yang sedang mengemudikan mobil di sebelahnya itu mendengar teriakannya dan ternyata berhasil. Wanita itu pun melihat ke arah sumber suara yang memanggil namanya.
Sementara Adira yang duduk di sebelah Arkan ikut melihat apa yang di lihat oleh pria itu.
"Arkan kau mau kemana ?" Adira menahan lengan Arkan yang ingin keluar dari mobil.
Suara klakson mobil yang berada di belakang mereka sudah berbunyi ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Arkan langsung melajukan mobilnya mengejar mobil yang di kendarai oleh Sera. Wanita itu sudah melaju dengan cepat di depannya.
"Arkan hati-hati." Adira mulai ketakutan saat Arkan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Suasana jalanan yang cukup padat pada saat jam pulang kantor membuat Arkan menyalip kendaraan lain yang ada di depannya agar tidak kehilangan jejak Sera.
Adira yang sedang ketakutan melihat kegilaan Arkan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memegang erat pegangan yang ada pada mobil itu. Tangannya juga sudah berkeringat.
"Arkan, aku takut." teriak Adira seakan mau menangis.
Tapi Arkan seolah tidak mendengar suara Adira. Fokusnya kini pada mobil yang dikendarai oleh mantan tunangannya yang melaju semakin kencang. Begitu juga dengan Arkan yang ikut menambah kecepatan agar dapat mengejar mobil Sera.
"AWAS !"
__ADS_1
Pekik Adira melihat sebuah truk tiba-tiba muncul dari depan mobil yang disalip oleh Arkan.