
Hari ini merupakan hari terakhir Adira datang ke butik sebelum ia menikah dua hari lagi.
"Mita tolong siapkan gaun pernikahan ku karena aku akan membawanya pulang sekarang." perintah Adira.
"Baik, nona. Setelan jas-nya juga ?" tanya Mita.
Adira tampak berpikir sejenak. Apakah akan memberikan pakaian untuk calon suaminya atau tidak ? tapi mama bilang calon suaminya sudah menyiapkan baju sendiri. Pikir Adira.
"Em, tidak usah. Nanti saja jika di perlukan." jawab Adira.
"Apakah tuan menyebalkan itu datang lagi ke butik untuk melakukan komplain ?" tanya Adira lagi.
"Sepertinya tidak ada, nona." Adira mengangguk mendengar jawaban karyawannya itu.
"Bagus kalau begitu." balas Adira.
"Ini." Mita menyerahkan gaun pengantin milik Adira yang sudah selesai ia bungkus.
"Terima kasih. Aku pulang dulu. Titip butik ya." pesan Adira sebelum ia keluar dari butik.
Entah akan berapa lama ia libur setelah hari pernikahannya nanti. Belum lagi jika suaminya nanti mengajaknya untuk pergi berbulan madu. Adira tersenyum geli mengingat akan hal itu. Apa iya mereka akan berbulan madu ? entah bagaimana rupa dan juga sikap pria yang akan menjadi suaminya itu saja ia tidak pernah tau. Adira berharap semoga saja pria yang akan menjadi suaminya itu adalah orang baik.
*
Keesokan harinya Nia mengajak Adira pergi ke salon kecantikan untuk melakukan perawatan wajah dan tubuh. Begitu juga dengan besoknya lagi. Dua hari ini Adira melakukan banyak hal untuk dirinya. Tapi sampai hari ini Adira bahkan belum pernah bertemu dengan pria yang akan menikah dengannya besok. Penasaran ? tentu saja Adira penasaran.
Ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Adira. Seorang asisten rumah tangga membawakan sebuah box untuknya.
"Ini ada kiriman buat, nona."
"Dari siapa, mba ?" tanya Adira penasaran.
"Katanya dari calon suami nona."
Mendengar hal itu Adira langsung mengambil box tersebut dan segera membukanya. Eh, bungkusannya seperti tidak asing. Batin Adira.
"Hah. Tidak mungkin." Adira terkejut melihat isi di dalamnya. Terlihat seperti sebuah gaun.
Adira segera membuka gaun pengantin yang baru saja ia terima dengan sempurna untuk membuktikan jika itu memang gaun pernikahan impiannya di buat di butiknya dan telah di jual kepada pria aneh menyebalkan. Atau jangan-jangan. Sesuatu terlintas di pikirannya.
__ADS_1
"Astaga. Apa mungkin pria itu ?" Adira mendadak memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing memikirkan kemungkinan yang terjadi.
*
Keesokan harinya.
"TIDAK !"
Adira tersadar dari tidurnya saat bermimpi bertemu pria yang datang ke butiknya dengan memakai masker.
"Adira ! Adira !" suara mamanya memanggil bersamaan dengan ketukan pintu kamar.
"Ada apa, ma ?" tanya Adira saat membuka pintu.
"Cepat mandi. Sebentar lagi orang-orang dari salon akan datang untuk mendandani mu." Nia mengingatkan putrinya.
"Hem. Iya, ma." Adira menutup pintu kamarnya kembali.
Adira kembali melihat gaun pengantin impiannya yang tergantung di sudut kamar. Ia tersenyum akhirnya ia bisa memakainya hari ini. Tapi saat mengingat calon suaminya dan pria yang memesan gaun itu, Adira kembali merasa pusing.
Pria itu mengunakan masker datang ke butiknya. Mungkin benar yang di katakan Leo, pria itu menggunakan masker untuk menutupi wajah buruk rupanya.
Kau harus membuat pakaian yang sama persis seperti yang kau inginkan untuk calon suami mu nanti.
Pakai saja ukuran tubuh mu.
Ukuran tubuh calon istri ku persis sama dengan ukuran tubuh mu.
Adira teringat kata-kata pria itu. Mengapa ia tidak menyadari tanda-tanda yang diberikan olehnya. Ya. Tuhan bagaimana nasib ku nanti jika benar-benar menikah dengan pria itu.
"Wah, anak mama cantik sekali." puji Nia yang baru saja masuk ke kamar Adira. Melihat putrinya sedang dirias.
Adira tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Akhirnya hari ini ia bisa mengenakan gaun pernikahan impiannya.
"Apa sudah selesai ?" tanya Nia kepada wanita yang merias Adira.
"Sudah, nyonya." jawab wanita itu kemudian ia mulai mengemasi barang-barangnya.
"Ayo, kita berangkat sekarang." Nia membantu Adira untuk berjalan menuju mobil dimana Abizar sudah menunggu bersama supirnya.
__ADS_1
Acara pernikahan Adira dan Arkan akan di adakan di sebuah hotel. Atas permintaan Arkan acaranya dibuat dengan tertutup dan hanya mengundang saudara dan teman dekat saja.
Sementara itu di kediaman mewah Wiratama. Arkan sudah berpakaian rapi ketika ibunya masuk ke dalam kamar.
"Mengapa masih di tutupi ?" Ririn menahan tangan Arkan saat putranya itu akan memasang sesuatu di wajahnya.
"Aku ingin melihat setulus apa dia akan menerima ku untuk jadi suaminya." jawab Arkan datar.
"Kau tidak percaya dengan pilihan ibu ?" tanya Ririn sedikit kecewa.
"Aku percaya pada ibu. Tapi aku harus membuktikannya sendiri sebelum hati ku benar-benar menerimanya." Arkan melanjutkan memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya seperti biasa.
"Arkan, ibu mohon. Belajarlah untuk melupakan masa lalu dan membuka hati untuk istri mu. Tidak semua wanita itu sama, Arkan. Masih ada wanita yang baik dan berhati tulus." kata Ririn sambil memeluk putra semata wayangnya.
"Sayang, ayo. Nanti kita terlambat." tiba-tiba Raka masuk ke dalam kamar Arkan.
*
Keluarga mempelai wanita sudah tiba di tempat acara. Senyum Adira terkembang saat seorang pria tampan menyambutnya.
"Surprise !" si pria tampan merentangkan tangannya untuk memeluk Adira.
"Kakak !" seru Adira dan langsung memeluk pria yang ia panggil kakak.
Melvin adalah putra pertama dari Abizar dan Nia. Selama tiga tahun terakhir ini Melvin tinggal di luar negeri untuk mengurus perusahaan kakeknya, Adam Mark yang ada di sana.
"Aku kira kakak tidak akan pulang." ucap Adira.
"Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk melihat mu menikah. Ternyata kau sudah dewasa. Tapi bagi ku kau tetap adik kecil ku yang masih sering ngompol." Melvin menggoda Adira.
"Ah, kakak. Jangan di sebut-sebut. Aku malu." rengek Adira manja dan membuat Melvin tertawa.
Karena fokus bercanda bersama, mereka tidak menyadari jika keluarga mempelai laki-laki sudah tiba. Arkan bahkan melirik melihat kemesraan Adira dan Melvin saat berjalan melewati meja mereka.
Suara MC menyadarkan Adira jika acara prosesi pernikahan akan segera di laksanakan. Mendadak wanita itu menjadi gugup ketika melihat ke depan.
Astaga. Pria itu. Adira menutup mulutnya tidak percaya jika pria yang akan menikahinya sebentar lagi tidak lain adalah pria bermasker yang datang ke butiknya.
Baju itu. Adira melihat pria itu juga mengenakan jas yang di buat olehnya.
__ADS_1
Adira langsung menunduk saat Arkan juga melihat ke arahnya. Jantung Adira semakin berdebar ketika tatapan mereka bertemu. Dalam sekejap kini Adira sudah sah menjadi istri dari Arkan Wiratama.