Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Ingin Minta Maaf


__ADS_3

Wajah Adira menjadi pias mendengar suara dingin Arkan. Dari suaranya saja Adira tahu jika saat ini pria yang menjadi suaminya itu sedang marah. Beruntung saat ini Adira masih memeluk Arkan sehingga ia bisa menyembunyikan wajah piasnya di dada pria itu. Setelah berhasil menguasai perasaannya, Adira melepaskan pelukan pada tubuh Arkan sambil tersenyum.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Adira berusaha bersikap setenang mungkin. Padahal dalam hatinya sungguh merasa takut Arkan akan marah karena ia telah lancang menyentuh pria itu.


"Kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh suami ku ?" Adira beralih melihat Leo. Seolah melupakan rasa takutnya kepada Arkan.


"Keluar dari ruangan ku sekarang karena aku akan pulang. Suami ku sudah datang menjemput ku." kata Adira seakan memamerkan jika Arkan sangat perhatian kepadanya.


Akhirnya Leo keluar dari ruangan Adira dengan perasaan kesal. Leo merasa terusir. Tapi bukan itu yang membuatnya marah. Leo marah saat melihat Adira memeluk dan mencium pria lain di hadapannya. Namun Leo tidak bisa berbuat apa-apa karena pria itu adalah suami sah Adira.


"Sialan !" maki Leo sambil berjalan keluar dari butik Adira.


Leo melihat jelas kemarahan dari mata pria yang sudah menikah dengan mantan kekasihnya itu. Sorot mata Arkan yang dingin seakan mampu untuk menusuknya bagaikan sebuah pisau. Jelas kemarahan itu di tujukan untuknya. Itu artinya Arkan marah padanya karena telah berani menemui Adira di belakangnya.


Sementara itu Adira merasa gugup saat kini hanya tinggal berdua bersama Arkan. Dengan cepat Adira merapikan meja kerjanya.


"Sudah." Adira menyampirkan tali tas di bahunya.


Arkan langsung memutar tubuhnya untuk membuka pintu dan keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun dan Adira mengikuti dari belakang.


Sepanjang perjalanan Arkan hanya diam dan Adira pun tidak berani untuk bersuara atau pun bertanya. Adira hanya menunduk sambil melihat jari-jari tangannya yang sengaja ia mainkan untuk mengusir rasa takutnya. Adira tidak pernah merasa takut seperti ini kepada Arkan. Bahkan wanita itu selalu menentang dan berdebat dengan Arkan tanpa rasa takut. Tapi tidak untuk kaki ini.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Adira langsung masuk ke dalam kamar sedangkan Arkan terlebih dahulu pergi ke ruangan kerjanya sebentar sebelum masuk ke kamarnya juga.


"Arkan." panggil Adira saat Arkan baru saja masuk ke dalam kamar.


Adira sungguh tidak ingin menyimpan rasa ketakutannya terlalu lama yang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Aku, aku minta maaf." terserah Arkan mau marah yang penting ia minta maaf dulu. Sadar akan kesalahannya.


Lama Adira menuggu Arkan membalas permintaan maafnya tapi pria itu dengan santai berjalan melewatinya begitu saja. Melepaskan satu persatu pakaian yang menempel di tubuhnya sehingga Adira menunduk malu. Tidak ingin melihat tubuh polos suaminya.


Adira menunggu dengan gelisah jawaban dari Arkan. Adira membuang napas panjang saat Arkan justru masuk ke dalam kamar mandi.


Sudahlah. Lebih baik aku menyiapkan makan malam. Batin Adira.


"Tidak perlu menyiapkan makan malam. Kita akan makan di luar." setelah mengatakan itu Arkan kembali menutup pintu kamar mandi untuk melanjutkan kegiatannya.


Oh, astaga. Dari mana dia bisa tahu aku ingin pergi menyiapkan makan malam. Batin Adira.


Arkan sudah seperti cenayang yang bisa membaca pikirannya. Eh, tunggu. Apa dia tadi mendengar apa yang di katakan oleh Leo ? saat Leo mengatakan bahwa Arkan tidak pernah mengajaknya makan malam romantis. Makanya malam ini Arkan mengajaknya makan malam di luar.


Di dalam kamar mandi. Arkan melihat pantulan dirinya di cermin. Ia memegang pipi kanan dan pipi kirinya yang terdapat bekas luka bakar. Arkan teringat saat pertama kali wajahnya menjadi seperti ini. Sang tunangan, wanita yang sangat ia cintai dan beberapa bulan lagi akan menjadi istrinya ketakutan dan jijik melihat dirinya. Tapi mengapa tadi Adira dengan berani menciumnya ? apa Adira tidak jijik dengan bekas luka ini.

__ADS_1


Jangan menghina suami ku. Dia jauh lebih sempurna dari mu.


Kata-kata Adira tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Sebenarnya Arkan mendengarkan semua apa yang di bicarakan olah Adira dan Leo. Mendengar semua pembelaan Adira terhadapnya. Adira memujinya dan penolakan Adira untuk kembali kepada Leo. Tapi semua itu belum mampu untuk membuat hati Arkan mempercayai Adira. Ia butuh lebih banyak bukti untuk melihat ketulusan hati wanita yang sudah menjadi istrinya.


Arkan melepaskan luka bakar yang terbuat dari kulit sintetis sehingga kini tampaklah wajah tampannya seperti saat sebelum kecelakaan. Kemudian Arkan mengguyur tubuhnya di bawah air dingin untuk menenangkan amarah dalam hatinya. Marah dengan apa yang di katakan oleh Leo tentang dirinya. Biasanya Arkan tidak pernah peduli dengan apa yang orang-orang katakan terhadapnya maupun menghinanya. Tapi tidak dengan hari ini, gara-gara ucapan Leo tadi Arkan jadi memutuskan untuk mengajak Adira makan malam romantis malam ini.


"Ah, sial."


Arkan memaki dirinya sendiri karena ia menyadari sudah terpancing dengan ucapan mantan kekasih istrinya dan ia tidak bisa mengabaikannya.


Setelah selesai mandi, Arkan kembali memakai luka bakar untuk menutupi wajah tampannya seperti biasa sebelum keluar dari kamar mandi. Dan sekarang gantian Adira pula yang mandi. Saat Adira keluar, Arkan baru saja selesai bersiap.


"Aku tunggu di bawah." kata Arkan sebelum ia keluar dari kamar.


Adira membuka lemari pakaian dan mulai mencari-cari gaun yang akan di pakainya. Yang serasi dengan penampilan Arkan agar tidak membuat suaminya itu malu.


Setelah setengah jam bersiap Akhirnya Adira turun. Tapi ia tidak melihat Arkan di bawah. Kemudian Adira bertanya kepada pelayan di mana suaminya. Adira menuju ke ruang kerja karena Arkan ada di sana. Baru saja Adira ingin mengetuk pintu tapi pintu itu tiba-tiba di buka dari dalam oleh Arkan. Pandangan mata mereka bertemu dan saling mengunci dengan hati yang sama-sama berdesir.


"A aku sudah siap." kata Adira tanpa memutus pandangan.


Mendengar suara Adira, kesadaran Arkan kembali. Arkan menatap Adira dengan dalam. Terpana melihat kecantikan Adira malam ini yang menyanggul rambut panjangnya sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Kulit putih bersih itu semakin terpancar dengan gaun berwarna maroon yang di kenakan oleh Adira.

__ADS_1


Arkan hanya mengangguk tanpa menjawab. Lalu ia menutup pintu ruang kerja dan berjalan sambil memegang tangan Adira membuat Adira terkejut. Adira berjalan mengikuti Arkan. Melihat pada tangannya yang di pegang oleh sang suami.


__ADS_2