Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Hamil


__ADS_3

Adira membuka matanya perlahan saat mobil yang ditumpanginya berhenti. Hari masih terlalu pagi, bahkan matahari saja belum terbit. Adira memeluk tubuhnya saat merasakan hawa dingin di pagi hari, di tambah dengan angin yang berasal dari baling-baling sebuah helikopter. Seorang pria paruh baya sudah menunggunya di samping helikopter itu.


"Perkenalkan nama saya Wiliam. Saya yang akan menjaga dan menemani perjalanan nona." kata pria yang seumuran dengan papanya dengan wajah yang kaku tanpa ekspresi.


"Terima kasih, paman." balas Adira kemudian melangkahkan kakinya menaiki helikopter yang akan membawanya ke suatu tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya.


Setelah hampir dua jam melakukan perjalanan lewat jalur udara, kini Adira menjejakkan kakinya di sebuah pulau yang dikelilingi oleh pantai dengan pasir putih yang begitu indah.


"Silahkan, nona." paman Wiliam mengarahkan Adira ke sebuah Villa yang tidak jauh dari pantai itu.


Baru saja Adira melangkahkan kakinya ke dalam villa tersebut, dia merasakan mual dan perutnya seperti di aduk.


"Di mana kamar mandinya ?" tanya Adira yang sudah tidak tahan ingin memuntahkan isi perutnya.


Seorang wanita penjaga villa langsung membawa Adira menuju ke kamar mandi yang ada di dapur. Adira langsung mengeluarkan cairan kuning sampai ia merasa benar-benar puas. Tiba-tiba saja Adira merasakan tubuhnya lemas setelah muntah. Seketika wajahnya menjadi pucat.


"Nona, anda tidak apa-apa ?" tanya wanita penjaga villa itu.


"Mungkin aku hanya masuk angin." begitu pikir Adira karena sejak semalam sore ia melakukan perjalanan dengan mobil sampai helikopter, selama lebih dari dua belas jam. Adira bahkan tidak makan tadi malam dan juga tidak sarapan pagi ini.


"Mari saya antarkan ke kamar." wanita itu lalu mengantarkan Adira ke sebuah kamar.

__ADS_1


Semua kebutuhan Adira sudah di sediakan di dalam kamar. Mulai dari pakaian sampai dengan peralatan make up. Adira kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Mungkin setelah bangun tidur nanti tubuhnya akan kembali segar.


Entah sudah berapa lama Adira tertidur, wanita itu mengerjabkan mata saat merasakan tenggorokannya kering. Adira membangunkan tubuhnya untuk keluar mengambil minuman.


"Anda sudah bangun, nona." sebuah suara membuat Adira terkejut. Seorang wanita berseragam pelayan mendekati ranjang di samping Adira.


"Apa ada yang anda butuhkan ?" tanya wanita itu lagi.


"Aku haus. Boleh tolong ambilkan air putih." pinta Adira yang masih merasakan lemah.


Wanita itu kemudian mengambil segelas air yang sudah ia sediakan di nakas samping tempat tidur dan menyerahkan kepada Adira.


"Oh, terima kasih." kata Adira tidak enak karena ternyata air itu bisa ia ambil sendiri tapi ia malah meminta bantuan pelayan.


"Anda kenapa, nona ?" tanya pelayan itu cemas melihat Adira memegang kepalanya.


"Kepala ku pusing."


"Kalau begitu anda berbaring saja lagi." saran pelayan.


"Tidak, aku ingin mandi dulu. Dari kemarin aku belum membersihkan diri." tolak Adira karena ia merasakan tubuhnya sudah sangat lengket.

__ADS_1


"Baiklah. Izinkan saya membantu anda." dan pelayan itu pun membantu Adira ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Adira kembali duduk di tempat tidur karena ia masih merasa pusing. Beberapa saat kemudian pelayan yang tadi masuk ke dalam kamar sambil membawa makanan bersama seorang dokter wanita.


Dokter segera memeriksa keadaan Adira. Wanita yang memakai jas putih itu kemudian tersenyum setelah melakukan pemeriksaan di beberapa bagian tubuh Adira.


"Selamat, nona. Anda hamil."


"Apa ?" Adira membelalakkan matanya mendengar diagnosis dari dokter.


*


Saat ini Arkan sedang duduk di kursi kebesarannya. Pria yang biasanya tidak suka membuang-buang waktu itu kini tampak sedang melamun. Arkan menatap sebuah kotak yang berisi jam tangan di atas meja kerjanya. Sejak tadi pagi hanya itu saja yang ia lakukan. Arkan bahkan sedikit pun tidak menyentuh pekerjaannya.


"Apa sudah ada kabar ?" tanya Arkan datar saat menyadari seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari jam tangan yang di berikan oleh istrinya semalam.


Tidak, bukan di berikan tapi bungkus kado yang berisikan jam tangan itu di jatuhkan Adira di ruangan Arkan saat melihat Arkan sedang berpelukan dengan Sera.


"Maaf, tuan. Mereka masih belum menemukan apapun." jawab Hen.


"Saatnya makan siang, tuan." Hen meletakkan sekotak makanan di atas meja. Tapi beberapa saat sampai Hen keluar dari ruangan itu, Arkan masih belum menyentuh makanan itu.

__ADS_1


"Kau di mana ?" suara lirih Arkan sambil mengusap foto Adira yang ada di layar ponselnya.


__ADS_2