
Arkan jadi serba salah melihat ibu dan mama Nia yang ternyata juga ada di dalam ruangan itu. Sedangkan kedua wanita itu saling senyum melihat Arkan yang malu-malu.
"Jangan di ganggu dulu. Adira lagi istirahat." kata Ririn kepada putranya.
"Arkan, ibu ingin bicara dengan mu." lanjut Ririn lagi.
Saat ini Ririn dan Arkan sedang duduk di kantin rumah sakit. Ririn menatap tajam ke arah putranya.
"Mengapa kau masih mengejar wanita itu ?" tanya Ririn sedikit marah.
Biasanya Ririn tidak pernah memarahi Arkan. Tapi kali ini gara-gara mengejar mantan tunangannya Arkan malah membahayakan nyawanya sendiri apa lagi sampai membahayakan Adira.
"Maaf, Bu."
Hanya itu saja yang bisa Arkan ucapkan karena ia sendiri mengakui jika itu memang kesalahannya. Arkan juga tidak tahu untuk apa ia tiba-tiba saja mengejar Sera.
"Apa kau masih mengharapkan Sera ?" tanya Ririn lagi.
"Itu tidak mungkin, Bu." jawab Arkan yakin.
"Bagus jika kau tau itu." balas Ririn.
"Ibu tidak akan pernah memaafkan mu jika kau kembali pada wanita itu. Apalagi jika kau sampai menyakiti Adira." kata Ririn lagi kemudian ia pun pergi meninggalkan Arkan sendiri.
Arkan menghela napasnya. Benar apa yang dikatakan oleh ibunya. Dia memang tidak pantas di maafkan jika menyakiti wanita sebaik Adira. Dan tentang Sera, Arkan sudah menyuruh Hen untuk menyelidikinya. Dua tahun lalu setelah meninggalkan Arkan, Sera menjalin hubungan dengan seorang pengusaha dari luar negeri dan ikut pindah ke sana.
Saat Arkan kembali ke kamar, Adira sudah terbangun dari tidurnya. Jantung Arkan berdetak kencang saat melihat Adira tersenyum. Bukan tersenyum kepadanya melainkan wanita itu tersenyum kepada ibu dan mamanya. Entah apa yang mereka bicarakan tapi wajah Adira terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Nah, Arkan sudah tiba. Ayo, kita pergi makan siang." Ririn mengajak Nia untuk pergi ke luar agar Arkan dan Adira memiliki waktu berdua.
"Iya. Ayo, mba." balas Nia yang mengerti maksud Ririn.
"Adira, ibu sama mama pergi sebentar ya." kata Ririn berpamitan dengan menantunya.
Setelah Ririn dan Nia keluar, kini tinggallah Arkan berdua dengan Adira. Arkan berjalan mendekat ke ranjang di mana Adira sedang duduk. Arkan langsung mencium pucuk kepala Adira.
"Bagai mana kabar mu ?" tanya Arkan sambil mendudukkan tubuhnya di kursi di samping ranjang pasien.
"Aku baik." jawab Adira singkat karena masih terkejut dengan perlakuan Arkan tadi yang tiba-tiba menciumnya.
Biasanya Arkan memang selalu mencium Adira. Tapi bukan ciuman sayang seperti itu, melainkan ciuman panas yang selalu membuatnya berakhir di kamar mandi.
"Ini makanan mu ?" tanya Arkan yang melihat tempat makan di meja samping tempat tidur Adira. Makanan yang tadi di bawa oleh mama Nia.
"Aku bisa sendiri." kata Adira ketus karena tidak mau di suapi oleh Arkan.
"Tangan mu kan masih sakit." Arkan melihat ke arah telapak tangan Adira yang di perban.
"Ini sudah tidak apa-apa. Tangan mu juga sakit." balas Adira masih dengan nada ketus. Ia melihat telapak tangan kanan Arkan juga di perban.
Tangan kanan mereka sama-sama terluka karena memegang kaca untuk memotong seat belt.
"Hanya sedikit dan ini sudah tidak sakit lagi." Arkan kembali ingin menyuapkan makanan ke mulut Adira tapi wanita itu menutup mulut dan memalingkan wajahnya.
Entah mengapa perasaan Adira jadi ingin marah kepada Arkan saat mengingat pria itu menyebut nama Sera dan juga mengejar wanita yang bernama Sera itu.
__ADS_1
"Kenapa ?" tanya Arkan melihat Adira memalingkan wajahnya dengan wajah yang tak bersahabat.
"Aku tidak lapar." jawab Adira singkat.
"Tapi kau harus makan agar cepat sehat. Ini sudah masuk waktu makan siang." kata Arkan lagi. Tapi Adira sedikit pun tidak bergeming dan masih memalingkan wajahnya.
"Baiklah jika kau tidak mau membuka mulut. Aku akan memaksa mu." kata Arkan.
Arkan menyuap makanan ke mulutnya sendiri dan ia memegang dagu Adira agar menghadap ke arahnya. Arkan lalu menempelkan bibirnya pada bibir Adira dan sedikit menggigit bibir wanita itu.
Hap
Makanan dalam mulut Arkan kini berpindah ke mulut Adira ketika ia membuka mulutnya saat Arkan dengan sengaja menggigit bibirnya.
Adira membelalakkan matanya terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu. Astaga. Jadi begini caranya memaksa. Batin Adira yang tidak pernah terpikirkan olehnya jika Arkan bisa berbuat begitu.
Adira terpaksa memakan makanannya yang ada di dalam mulutnya. Mau di buang tapi sayang. Karena itu adalah makanan kesukaannya yang di masak oleh mamanya. Dan Adira tidak merasa jijik sama sekali meskipun makanan itu dari dalam mulut Arkan.
Adira masih menatap tidak percaya pada Arkan saat Arkan mengusap bibirnya dengan ibu jari.
"Ingin aku suapkan atau aku paksa lagi ?" tanya Arkan dengan seringai liciknya.
"Tidak menjawab maka aku akan memaksa mu lagi." ancam Arkan karena Adira tidak menjawabnya dan malah menatap tajam padanya.
"Suapi saja." jawab Adira cepat karena tidak ingin Arkan melakukan aksi gilanya lagi.
"Bagus. Sekarang buka mulut mu." Arkan kembali menyuapi Adira dengan tangannya. Sebenarnya Arkan lebih suka melakukannya dengan mulutnya.
__ADS_1
Arkan juga menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena ia juga belum makan. Mereka makan dari tempat yang sama dan sendok yang sama. Adira tidak protes meskipun rasa marah dalam hatinya masih ada. Apa mungkin Adira cemburu karena kehadiran kembali mantan tunangan Arkan ?