Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Adira Sakit


__ADS_3

Saat Arkan ingin membuka pintu kamar Adira, tiba-tiba saja ponsel di tangannya berdering. Arkan lalu mengangkat panggilan itu sembari berjalan menuju ke ruangan kerjanya. Arkan kembali fokus dengan pekerjaannya sehingga lupa untuk melihat keadaan istrinya.


Besok paginya seperti biasa, Arkan duduk untuk sarapan sebelum pergi ke perusahaan. Arkan kembali teringat dengan Adira begitu melihat susu di gelas Adira yang belum tersentuh.


"Apa dia sudah keluar dari kamar ?" tanya Arkan pada pelayan yang ada di sana.


"Belum, tuan." jawab pelayan yang tidak berani untuk mengganggu istri dari tuannya.


Arkan menghela napasnya. Dengan terpaksa ia melangkah menuju kamar Adira. Mulanya Arkan ingin langsung membuka pintu kamar itu, tapi di urungkan niatnya karena takut jika wanita yang sudah menjadi istrinya itu sedang mandi atau apa. Arkan lantas mengetuk pintunya. Tapi sudah beberapa kali mengetuk namun pintu tidak juga terbuka, bahkan ia tidak mendapat sahutan dari pemilik kamar itu. Kemudian Arkan langsung membuka pintu kamar dan melihat Adira masih terbaring di tempat tidur.


Perlahan Arkan berjalan mendekat ingin melihat lebih jelas. Adira benar-benar tidur dengan nyenyak, sehingga tidak menyadari kedatangan Arkan. Tapi, sepertinya ada yang berbeda dari wanita itu. Wajah Adira yang biasanya putih bersih kini terlihat memerah seperti kepanasan. Tapi suhu kamar cukup dingin, tidak mungkin Adira kepanasan. Atau jangan-jangan dia sakit ? pikir Arkan.


Arkan menempelkan punggung tangannya di kening Adira untuk merasakan suhu tubuh wanita itu. Dan benar dugaannya, ternyata Adira demam. Arkan segera keluar dari kamar dan memanggil pelayan untuk mengompres Adira agar panas tubuhnya menurun. Ia juga memerintahkan Hen memanggilkan dokter kepercayaan keluarganya untuk memeriksa Adira.


"Huh, benar-benar menyusahkan." umpat Arkan.


Beberapa hari ini Adira sedang banyak kerjaan. Ia mendapatkan pesanan dari pelanggannya untuk membuatkan pakaian seragam keluarga untuk acara pernikahan. Adira jadi kurang istirahat sehingga membuatnya sakit.


"Bagaimana keadaannya, om ?" tanya Arkan kepada dokter Gavin.


"Tenang saja, nak. Istri mu hanya demam biasa. Mungkin dia terlalu capek dan kurang istirahat." terang dokter paruh baya yang mungkin seumuran dengan ayahnya Arkan.

__ADS_1


"Kau harus memastikan agar ia mendapatkan cukup istirahat dan makan dengan pola yang teratur." pesan dokter Gavin lagi.


"Terima kasih, om." ucap Arkan sebelum dokter Gavin pulang.


Arkan kembali ke kamar Adira dan melihat wanita itu masih belum sadar. Arkan kemudian keluar karena ia ingin segera pergi ke kantor setelah memanggil pelayan untuk memberikan obat ketika Adira bangun nanti.


Di perusahaan Wiratama Grup.


Arkan tengah fokus mengerjakan pekerjaannya ketika ponselnya berbunyi. Arkan langsung menjawab panggilan dari pelayannya dari rumah yang menyampaikan jika Adira saat ini sudah sadar dan memaksa ingin pergi ke butik. Beruntung Arkan sudah perpesanan kepada para pelayan agar tidak membiarkan wanita itu keluar dari rumah.


Sebentar lagi jam makan siang. Arkan berniat untuk kembali ke rumah untuk makan siang sekaligus melihat keadaan istrinya. Saat Arkan baru saja tiba, pria itu terkejut melihat ibunya yang ternyata sudah ada di rumahnya.


Setiap hari Ririn menelpon pelayan senior untuk menanyakan tentang anak dan menantunya, begitu pun dengan hari ini. Pelayan memberitahukan jika nona mereka sedang sakit dan Ririn bergegas menuju ke rumah Arkan untuk melihat keadaan menantunya.


"Arkan, istri sedang sakit di rumah mengapa kau malah pergi bekerja ?" Ririn langsung menyembur putra semata wayangnya.


"Bu, Aku hanya pergi sebentar dan sekarang sudah pulang." Arkan membela dirinya.


Adira juga sudah mengatakan tadi jika Arkan baru dua jam yang lalu pergi ke kantornya setelah dokter selesai memeriksanya. Dari mana Adira tahu ? karena wanita itu bertanya kepada pelayan yang memberinya obat tadi.


Setelah meletakkan tasnya di kamar dan berganti pakaian, Arkan kembali turun ke ruang makan karena ibunya mengajaknya makan siang bersama. Arkan terkejut melihat Adira juga ada di sana. Arkan pikir istrinya itu akan makan di kamar mengingat wanita itu masih sakit. Begitu juga dengan Adira yang terkejut melihat Arkan dengan tanpa maskernya. Kini Adira bisa dengan jelas melihat wajah suaminya yang buruk rupa.

__ADS_1


Pandangan mata mereka bertemu. Kini Arkan tidak bisa mengelak lagi karena tidak mungkin ia menghindari Adira saat ibunya ada bersama mereka. Arkan menarik kursi bagian tengah di antara Adira dan ibunya.


Sekarang mereka sudah berkumpul di rumah dan makan siang pun segera di mulai. Adira dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Hal yang belum pernah dilakukannya selama satu bulan ini sejak mereka menikah. Ririn tersenyum melihat pelayanan Adira kepada Arkan. Ririn yakin suatu hari nanti Adira mampu meluluhkan hati putranya yang sudah dua tahun ini beku.


Setelah makan, Ririn menyuruh Adira untuk beristirahat di kamar. Arkan tidak kembali ke kantornya siang ini karena ibunya masih ada di rumah. Ia tidak mungkin meninggalkan Adira yang sedang sakit di rumah. Bisa-bisa dia di semprot dengan omelan ibunya.


Ririn mendatangi Arkan yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Arkan, bagaimana Adira menurut mu ?" tanya Ririn.


"Biasa saja." jawab Arkan singkat tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di depannya.


"Biasa bagaimana ? ibu lihat dia begitu telaten melayani mu di meja makan dan juga ibu dengar dari pelayan dia selalu menyediakan makan malam untuk mu." kata Ririn lagi.


Arkan menghela napasnya mendengar perkataan Ririn. Ibunya itu tidak tahu saja, Adira melakukan itu hanya karena ibu ada di sini.


"Arkan, meskipun kau belum mencintai Adira tapi hargailah apa yang sudah ia lakukan untuk mu. Bersikap baiklah padanya dan belajar menerimanya sebagai istri." nasehat Ririn lagi.


Ririn sudah mengetahui bagaimana hubungan antara Arkan dan Adira sejak dia menikah karena ada seseorang yang menjadi mata-matanya di rumah putranya ini.


"Ibu, beri aku waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehadirannya. Ini baru satu bulan, Bu." ucap Arkan.

__ADS_1


"Iya, ibu mengerti, nak. Tapi mulailah sering bertemu meskipun hanya sekedar makan bersama." saran Ririn.


"Atau mungkin tidur bersama." Ririn menggoda putranya.


__ADS_2