
Bela mengepalkan tangannya melihat foto yang baru saja di kirim oleh Nesa. Foto Adira dan Arkan sedang berjalan bergandengan mesra. Kekesalan Bela bertambah tambah melihat kebahagiaan Adira yang begitu di sayang dan di jaga oleh suaminya di saat tengah hamil besar begini. Sementara dia tidak pernah mendapatkan layanan seperti itu dari suaminya dulu saat hamil.
"Sialan. Dasar wanita penggoda." maki Bela yang tidak terima dengan keberuntungan wanita yang telah membuat rumah tangganya hancur.
Bela masih menyalahkan Adira dengan takdir buruk yang menimpa dirinya. Padahal itu merupakan kesalahannya sendiri. Dia lah yang sudah menghancurkan hubungan Adira dan Leo. Dan berharap bisa hidup mewah setelah berhasil menjebak Leo untuk menikahinya.
Berbeda dengan Bela yang terus memaki dan mengumpat, Sera hanya terdiam menatap nanar foto kemesraan pria yang dia cintai bersama dengan warga lain yang kini menjadi istrinya. Apa lagi istri mantan kekasihnya itu sedang hamil besar. Mungkin sebentar lagi akan melahirkan. Arkan pasti sangat bahagia, tidak mungkin pria itu akan berpaling dari wanita yang sudah melahirkan anaknya. Ya, Sera cukup mengenal Arkan, seorang pria yang begitu setia jika sudah mencintai seseorang. Hanya dia yang begitu bodoh sudah meninggalkan pria sebaik Arkan. Tak terasa air mata menetes di pipi Sera.
Sudah berbagai cara ia lakukan untuk membuat Arkan kembali padanya. Tapi apa yang ia dapatkan hanyalah pria itu semakin menjauh dan tidak tergapai. Kini Sera tahu mengapa mereka tidak di izinkan masuk ke dalam mall itu, karena Arkan dan Adira berada di sana.
"Sudahlah, ayo kita pergi saja. Lagi pula kita tetap tidak di izinkan masuk." Sera mengusap air matanya sebelum Bela menyadari dia menangis.
__ADS_1
"Tunggu, Sera. Apa kau tidak mau bertemu dengan mantan kekasih mu. Ini saat yang tepat untuk menghancurkan hubungan mereka. Ayo, kita coba sekali lagi."
Kini bukan lagi Sera yang bersemangat untuk mendapatkan Arkan, melainkan Bela yang begitu ingin menghancurkan Adira.
"Tidak usah, Bela. Mereka bukanlah sesuatu yang bisa kita sentuh. Sebaiknya kita pergi saja." Sera menarik lengan Bela untuk segera pergi sebelum terjadi sesuatu kepada mereka, tapi adik sepupunya itu masih ingin tetap tinggal.
"Kita tunggu sebentar lagi." jawab Bela kekeuh.
"Hey, kembalikan ponsel kami." teriak Nesa kepada pria berseragam yang menyeretnya keluar. Kemudian pria itu melempar ponsel di tangannya tepat di depan Nesa sebelum ia menginjaknya dengan kuat. Sehingga ponsel itu menjadi hancur tidak berbentuk. Begitu juga dengan ponsel kedua temannya yang mengalami nasib serupa.
"Astaga, ponsel ku." Nesa memungut ponselnya yang sudah hancur.
__ADS_1
Bela dan Sera yang melihat itu menggenggam kuat ponsel mereka. Keduanya masih belum tahu mengapa teman-temannya itu di usir dan ponsel mereka di rusak.
"Serahkan ponsel kalian !" seorang pengawal memberi isyarat kepada Bela dan Sera dengan tangannya. Tapi Bela malah menyembunyikan ponselnya dan menentang.
"Untuk apa ? jangan macam-macam kalian ya." kata Bela melawan. Sementara Sera dengan patuh ingin menyerahkan miliknya, tapi buru-buru tangannya di tahan oleh Bela.
Dengan tanpa dia duga seseorang dari belakang mengambil ponsel Bela.
"Hey, apa-apaan kalian !" kata Bela tidak terima.
Melihat itu Sera pun menyerahkan ponselnya. Ia tahu mereka pasti orang-orang surauhan Arkan dan mungkin ada hubungannya dengan foto yang dikirim oleh Nesa tadi. Sama seperti ketiga temannya, ponsel Bela dan Sera juga di rusak. Kemudian orang-orang itu pergi, masuk kembali ke dalam mall.
__ADS_1