Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Kejutan


__ADS_3

Sejak Sera menjadi sekretaris CEO di perusahaan Green World, tak jarang Arkan akan minta di wakilkan jika ada pertemuan dengan perusahaan tersebut. Arkan benar-benar tidak suka melihat wanita itu apa lagi harus terlibat kerja sama dengannya.


"Dimana Tuan Arkan ?" tanya Sean yang merupakan CEO dari Perusahaan Green World.


"Maaf, Tuan. Tuan Arkan sedang sibuk sekarang."


Sean hanya mengangguk mendengar jawaban Asisten dari sekaligus sekretaris Arkan. Sebagai seorang CEO Perusahaan besar seperti Wiratama Grup sudah pasti Arkan selalu sibuk pikir Sean. Sedangkan Sera hanya diam sambil menyimpan perasaan kesal dalam hatinya.


Pulang dari bekerja Sera tampak lesu. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Sudah beberapa kali pertemuan dengan perusahaan Wiratama Grup tapi hanya satu kali ia bertemu dengan Arkan.


"Kau kenapa ? apa menjadi sekretaris CEO itu sangat melelahkan ?" tanya Bela yang sudah lebih dulu tiba di rumah.


"Arkan seperti menghindari ku. Setiap kali pertemuan dia tidak pernah hadir dan hanya di wakili oleh sekretarisnya saja. Kalau begini terus bagaimana aku bisa mendekatinya." kata Sera sambil memijit kepalanya.


"Aku sudah mengajarkan cara yang ampuh, tapi kau tidak mau melakukannya."


"Arkan bukanlah pria bodoh yang bisa di jebak dengan cara murahan seperti itu." kata Sera yang tidak setuju dengan cara yang di ajarkan oleh Bela beberapa hari yang lalu.


"Dia tidak bisa di miliki dengan cara paksaan. Untuk mendekatinya harus dengan cara yang halus dan menyentuh hatinya." Sera teringat dengan masa lalu saat-saat ia mulai dekat dengan Arkan.


Sera sudah sangat mengenali bagai mana sifat Arkan karena itulah dia tidak bisa memakai cara yang kotor dan licik. Yang ada nanti malah akan membuat Arkan bertambah benci kepadanya.


"Tapi bagi mana cara kau ingin menyentuh hatinya jika kau saja tidak bisa menyentuh tubuhnya." ejek Bela.

__ADS_1


"Entahlah." Sera menghela napasnya, memikirkan tentang bagai mana rencana selanjutnya.


"Kalau begitu kau langsung saja datang ke kantornya untuk bertemu." Bela memberi saran.


Sera terdiam sejenak tampak memikirkan saran dari adik sepupunya itu.


*


Adira tersenyum setelah menutup telepon dari ibu mertuanya. Ia menyudahi pekerjaannya karena ingin segera pergi.


"Meta titip butik ya. Aku mau pergi." kata Adira sambil tersenyum.


"Baik. Tapi nona mau ke mana ?" tanya Meta.


"Aku mau pergi membeli sesuatu." setelah itu Adira langsung keluar dari butik. Sebuah mobil sudah menunggunya di depan.


Setelah mendapatkan kado untuk Arkan, Adira kemudian pergi ke toko kue sebelum ia pergi ke kantor suaminya itu untuk memberikan kejutan.


Sementara itu Sera baru saja tiba di perusahaan Wiratama Grup. Ia memperkenalkan diri sebagai utusan dari Perusahaan Green World ingin mengantarkan berkas penting kepada Arkan secara langsung agar ia mendapatkan izin untuk bertemu pria itu.


Sera mengulum senyumnya ketika rencananya berhasil.


"Silahkan masuk, nona."

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Sera sopan kepada staf wanita yang mengantarkannya ke ruangan Arkan.


Sera membuka pintu ruangan Arkan dengan hati berdebar. Ia sudah menyiapkan hadiah untuk mantan kekasihnya itu yang berulang tahun hari ini.


Langkah kaki Sera terhenti di depan pintu. Ia menatap penuh rindu pada wajah tampan Arkan saat pria itu sedang fokus dengan pekerjaannya. Sera melangkahkan kakinya dengan anggun berjalan menuju ke meja kerja Arkan. Senyuman terus terkembang di wajah cantiknya.


"Selamat ulang tahun." Sera meletakkan sebuah kado di meja kerja Arkan.


Seketika Arkan terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Arkan langsung mengangkat wajahnya untuk melihat wanita yang sedang berdiri di depannya. Pria itu mengeraskan rahangnya melihat Sera sedang tersenyum.


"Untuk apa kau datang ke sini ?" sentak Arkan yang membuat senyum di bibir Sera sirna.


"Keluar dari sini sekarang !" bentaknya lagi.


"Arkan, aku mohon sebentar saja izinkan aku untuk bicara dengan mu." pinta Sera memohon.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Keluar !" Arkan bahkan berdiri dan menghentak kuat meja kerjanya yang membuat Sera ketakutan.


Meskipun merasa takut melihat kemarahan Arkan, tapi Sera malah nekat berlari mendekat dan langsung memeluk tubuh Arkan dengan kuat.


"Arkan, aku mencintai mu." Sera mengungkapkan perasaannya sambil memeluk erat tubuh mantan kekasihnya tanpa peduli jika saat ini kemarahan Arkan sudah sampai di ubun-ubun.


"Lepaskan aku !" Arkan memegang kedua lengan Sera untuk mendorong tubuh wanita itu.

__ADS_1


Clek


Suara pintu ruangan Arkan terbuka membuat keduanya sama-sama melihat ke arah pintu. Arkan begitu terkejut melihat kedatangan dua orang wanita yang sama-sama ia cintai.


__ADS_2