
Tepat pukul dua siang, semua rangkaian acara pernikahan telah selesai. Saatnya untuk kembali ke rumah. Begitu juga dengan Arkan dan Adira. Setelah meminta izin kepada ayah dan ibunya serta kedua orang mertuanya, Arkan membawa Adira pulang ke rumah yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan di antara kedua pasangan pengantin baru itu. Arkan begitu fokus dengan tablet di tangannya. Sedangkan Adira hanya melirik ke arah pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Tak terasa mobil yang dikendarai oleh asisten Arkan yang bernama Hen kini sudah tiba di sebuah rumah mewah.
"Silahkan, nona." Hen membukakan pintu mobil untuk nona barunya.
"Terima kasih." kata Adira setelah keluar dari dalam mobil.
"Selamat datang, nona." Seorang pelayan wanita menunduk hormat menyambut Adira.
"Terima kasih." balas Adira.
Adira terkesiap ketika Hen memutar mobilnya kembali ke luar halaman bersama Arkan. Dia mau ke mana ? batin Adira sambil melihat mobil yang kian menjauh.
"Silahkan masuk, nona. Saya akan mengantarkan anda ke kamar." suara pelayan wanita itu membuyarkan lamunan Adira.
"Ah, iya." Adira mengikuti langkah pelayan masuk ke dalam rumah.
Pelayan itu membawa Adira ke sebuah kamar yang ada di lantai bawah.
"Ini kamar anda, nona. Semua pakaian dan kebutuhan anda sudah di siapkan di dalam." terang pelayan yang hanya berdiri di depan pintu kamar.
"Terima kasih." untuk kesekian kalinya Adira mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama. Jika ada yang anda butuhkan panggil saja saya atau pelayan yang lain. Saya permisi." pamit pelayan itu.
"Tunggu !" Adira memanggil pelayan yang sudah ingin pergi.
"Ada apa, nona ?" pelayan itu berbalik.
"Kau tahu, tuan mu pergi ke mana ?" tanya Adira yang penasaran dengan suaminya yang langsung pergi setelah mengantarkannya ke rumah ini.
__ADS_1
"Maaf, nona. Saya kurang tahu." jawab pelayan jujur yang tidak mengetahui kemana tuannya pergi.
"Baiklah. Tidak apa-apa." Adira langsung menutup pintu kamar setelah pelayan itu pergi.
Adira melihat kesekeliling kamar barunya. Di dalam lemari juga sudah di sediakan berbagai jenis pakaian untuknya. Sepertinya pakaian baru semua. Tapi, semuanya hanya pakaian wanita. Apa jangan-jangan dia tidur di kamar lain ? batin Adira. Entahlah, Adira tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Adira mengambil sebuah dress dan menuju ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Adira merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan tak lama kemudian ia pun jatuh dalam tidurnya yang nyenyak.
Sementara itu Arkan yang sedang berada di ruangan kerjanya sedang bekerja seperti biasa. Setelah mengantarkan Adira, Arkan memutuskan untuk langsung kembali ke kantornya meskipun hari ini merupakan hari pernikahannya. Sedikitpun tidak mempengaruhi aktivitas Arkan dalam bekerja.
Adira terbangun saat hari sudah sore. Ia bingung harus melakukan apa. Adira keluar untuk melihat-lihat sekeliling rumah yang baru di tempatinya bersama sang suami. Arkan membeli rumah ini sebulan yang lalu. Ia sengaja mengajak Adira tinggal terpisah dengan orang tuanya. Padahal Ririn sudah berencana untuk mengajak menantunya tinggal di kediamannya agar ia punya anak perempuan.
"Ini kamar, tuan." kata pelayan yang mengikuti Adria.
Kamar utama yang terletak lantai atas. Perlahan tangan Adira membuka pintu kamar yang sedang tertutup itu. Meskipun merasa ragu dan takut, tapi rasa penasaran membawa langkah Adira untuk masuk ke dalam kamar pria yang sudah menjadi suaminya. Sedangkan pelayan yang bersamanya hanya menunggu di depan pintu.
Adira memperhatikan seluruh ruangan kamar utama yang lebih besar dari kamarnya. Sepertinya kamar ini belum pernah di tempati. Tercium dari bau khas perabotan yang masih baru. Setelah puas memperhatikan, Adira menutup kembali pintu kamar Arkan.
"Saya di sini baru satu minggu yang lalu, nona. Sebelumnya saya bekerja di rumah Tuan besar sudah sepuluh tahun." pelayan itu menerangkan.
Ririn memang sengaja menyuruh tiga orang pelayan di rumahnya untuk bekerja di rumah baru putranya. Karena sejak Arkan mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Arkan menjadi lebih sensitif dan memiliki temperamen yang buruk dan susah di mengerti. Arkan sangat sulit untuk menerima orang baru di sekitarnya.
"Oh, apakah tuan mu itu tinggal di sini sebelumnya ?"
"Tidak, nona. Sebelumnya tuan tinggal bersama orang tuanya di rumah keluarga Wiratama. Dan baru hari ini tuan akan tinggal di sini bersama nona." kata pelayan itu jujur, masih berjalan mengikuti nona barunya.
"Biasanya dia selalu makan malam di rumah atau tidak ?" tanya Adira lagi. Wanita itu benar-benar tidak mengetahui apapun tentang suaminya. Jadi inilah cara satu-satunya untuk mendapatkan informasi yaitu bertanya dengan pelayannya.
"Tuan biasa pulang sebelum makan malam dan akan makan malam bersama kedua orang tuanya di rumah."
Saat ini Adira sudah sampai ruangan dapur. Ia melihat desain dapur yang cantik yang pastinya membuat kegiatan memasak semakin menyenangkan. Tiba-tiba saja muncul keinginan Adira untuk memasak di dapur ini. Akhirnya wanita itu menghabiskan waktu sorenya dengan kegiatan di dapur.
Seperti biasanya Arkan tiba di rumah pada pukul enam lewat tiga puluh menit. Namun ada yang berbeda hari ini. Hari ini pria itu pulang ke rumah barunya dan Arkan langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Pada pukul tujuh malam Adira keluar dari kamar menuju dapur. Dilihatnya dua orang pelayan sedang menyiapkan makanan di meja makan.
"Apa tuan mu sudah pulang ?" tanya Adira kepada pelayan.
"Sudah, nona. Tuan ada di kamarnya."
"Kalau begitu aku akan memanggilnya untuk makan malam." Adira melangkahkan kakinya menuju kamar Arkan.
Adira berjalan menaiki tangga sambil berpikir, apa yang akan ia katakan nanti ? dan bagaimana reaksi Arkan karena sejak tadi pagi saat keduanya tiba di tempat acara pernikahan mereka, keduanya belum terlibat pembicaraan secara langsung. Arkan tidak menyapa ataupun mengajaknya bicara sepatah kata pun.
Begitu sampai di depan pintu kamar Adira langsung mengetuk pintu. Namun setelah beberapa kali ketukan Adira tetap tidak mendapat sahutan dari dalam. Akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Dia tidak ada. Batin Adira setelah dia menelisik ruangan itu dan tidak melihat Arkan di sana. Adira sudah mau berbalik dan ingin keluar tapi ia tiba-tiba di kejutkan oleh suara bariton suaminya.
"Mengapa kau masuk ke kamar ku ?" tanya Arkan yang tiba-tiba berdiri di belakang Adira. Entah dari mana pria itu muncul.
"Em, itu. Aku memanggil mu untuk makan malam." jawab Adira masih merasa terkejut dan gugup karena ini pertama kali interaksi antara dia dengan Arkan setelah sah menjadi suami istri.
"Jangan pura-pura menunjukkan perhatian pada ku." kata Arkan datar.
"Apa maksud mu ?" tanya Adira tidak mengerti. Padahal baru hari ini mereka menikah. Mengapa pria itu mengatakan bahwa ia hanya pura-pura.
"Kau pikir aku tidak tahu kau mau menikah dengan ku hanya karena ingin membalas kekasih mu yang berselingkuh." Arkan mengatakan fakta yang ia ketahui setelah menyelidiki pria yang bersama Adira waktu itu.
"Dari mana kau tahu ?" tanya Adira yang masih terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Arkan yang tentunya benar adanya.
"Hah, aku bisa mengetahui apapun yang ingin ku ketahui." kata Arkan menyombongkan diri.
"Jadi, kau tidak perlu bersikap layaknya sebagai seorang istri yang baik di hadapan ku. Tapi nyatanya kau merasa jijik melihat ku." lanjut Arkan lagi.
"Terserah kau mau menganggap aku hanya pura-pura atau apa. Kenyataannya sekarang kau adalah suami ku meskipun kau tidak menganggap aku istri mu." kata Adira panjang lebar mengeluarkan semua kemarahan di dalam hatinya.
Setelah itu Adira langsung keluar dari kamar Arkan. Terserah pria itu mau makan atau tidak, ia tidak peduli. Adira kembali ke meja makan seorang diri dan tanpa menunggu suaminya, Adira mulai menyantap makanannya.
__ADS_1