
Arkan menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam lift. Meskipun pandangannya sedikit berkunang-kunang tapi ia dapat mengenal dengan tepat sosok wanita itu. Tubuh Arkan terhuyung ketika pandangan matanya melihat ke arah perut wanita itu.
"Tuan." Hen dengan sigap menahan tubuh Arkan agar tidak terjatuh.
Sementara di ujung sana Adira berdiri mematung melihat tubuh lemah Arkan. Wajah suaminya itu terlihat sangat pucat yang menandakan jika sedang sakit. Jauh di dalam relung hati Adira sangat merindukan pria yang sedang sakit itu setelah lima bulan tidak bertemu.
"Lepaskan aku." Arkan berusaha melepaskan diri agar ia bisa berlari untuk memeluk wanita yang sangat ia rindukan.
Dengan tertatih Arkan semakin melajukan langkahnya untuk menuju Adira. Tangisan dan senyuman sekaligus tergambar di wajah sakit Arkan apalagi saat melihat peruAdira bentuk tubuh Adira. Adira semakin terenyuh melihat keadaan suaminya saat ini. Sejenak ia melupakan tentang penghianatan pria itu. Sementara Nia dan Ririn hanya diam menyaksikan pertemuan yang penuh haru itu. Tak terasa air mata menetes di pipi kedua wanita itu.
"Sayang." Arkan langsung memeluk erat tubuh Adira.
Tubuh Adira bahkan sedikit terhuyung ke belakang karena dekapan Arkan. Adira hanya bisa terdiam merasakan tubuh Arkan yang bergetar saat memeluknya. Pelukan itu seakan mengalirkan rasa rindu yang teramat sangat dalam.
__ADS_1
"Sayang, maafkan aku." Arkan menangkup wajah Adira dengan kedua tangan setelah melepaskan pelukannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah cantik Adira yang sudah lima bulan tidak di lihatnya.
Arkan kemudian mengalihkan tangannya ke perut Adira yang sudah membesar. Mata pria itu berbinar ketika mengusap perut sang istri. Sementara Adira memejamkan mata, menikmati sentuhan yang sudah sangat lama ia harapkan. Yaitu sentuhan tangan suaminya yang memberi ketenangan untuknya dan juga bayi yang ada dalam kandungannya.
*
Saat ini Arkan sudah kembali ke ruang rawatnya. Tangannya juga sudah di pasang infus. Nia dan Ririn memberikan waktu berdua untuk Arkan dan Adira, karena itulah mereka memilih pergi ke kantin rumah sakit.
Sejak tadi Arkan terus menggenggam tangan Adira dan tidak mau melepaskannya. Arkan juga terus memandangi wajah wanita yang sangat ia rindukan.
"Sudahlah. Aku bosan mendengarkan kau mengatakan itu." Adira masih melihat Arkan dengan tatapan datar. Meskipun begitu dalam hatinya merasa kasihan dengan kondisi Arkan saat ini.
"Aku akan terus mengucapkannya sampai kau mau memaafkan ku." senyum Arkan terkembang mengatakan itu.
__ADS_1
Meskipun Adira belum memaafkannya, tapi Arkan merasa cukup bahagia karena sang istri sudah pulang dan ada di depannya sekarang.
"Selamat siang, Tuan." Hen masuk bersama seorang perawat yang mengantarkan makan siang untuk Arkan.
Setelah meletakkan makanan di nakas, perawat itu segera keluar dari ruang rawat. Sementara Hen menyerahkan sebuah tablet kepada Arkan.
"Aku ingin kau melihat ini." Arkan memberikan tablet yang menampilkan sebuah video cctv.
"Setelah itu terserah kepada mu mau memaafkan ku atau tidak." sejak lama Arkan ingin menunjukkan bukti rekaman cctv di ruangan kerjanya saat Adira melihat ia bersama Sera. Tapi ia langsung tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan itu karena Adira langsung menghilang bagai di telan bumi.
Seketika Adira kembali merasakan sesak mengingat saat itu. Ia melihat dengan jelas bagaimana tangan Arkan memegang kedua bahu mantan kekasihnya dan tangan Sera melingkar di tubuh Arkan. Wanita itu bahkan bersandar di dada suaminya. Adira memejamkan matanya untuk menahan air agar tidak jauh di pipinya. Sakit. Itulah yang ia rasakan jika melihat kejadian itu lagi.
"Sayang, lihatlah videonya dulu agar kau tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya. Sungguh aku tidak pernah menghianati mu." Arkan sudah tidak sabar ingin mengakhiri kesalahpahaman ini dan ingin agar Adira segera memaafkannya.
__ADS_1
Adira menghela napasnya sebelum ia memutar video tersebut. Ia harus menguatkan hati untuk melihat Arkan bersama wanita lain. Tapi Adira juga sangat penasaran apa yang mereka lakukan sebelum ia sampai di sana.