
Arkan menghela napasnya, mengingat nasehat yang diberikan oleh ibunya. Mulai hari ini ia akan berusaha untuk menjalankan apa yang di sarankan oleh sang ibu. Arkan duduk di meja makan untuk sarapan. Seperti biasa susu di gelas Adira masih belum tersentuh karena setiap harinya Adira akan sarapan setelah Arkan pergi bekerja.
"Suruh dia sarapan sekarang." perintah Arkan sebelum menyentuh sarapannya.
Pelayan yang ada di sana pun segera menuju kamar Adira untuk menyampaikan perintah tuannya.
"Ada apa ?" tanya Adira kepada pelayan yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan memanggil nona untuk sarapan sekarang."
Adira mengerenyit mendengar apa yang di sampaikan oleh pelayan. Ada apa dengan pria itu pagi ini ? Adira yang memang sudah bersiap karena rencananya akan pergi ke butik setelah libur satu hari langsung mengikuti pelayan menuju ke meja makan.
Adira duduk di kursi tempatnya biasa. Berhadapan dengan Arkan. Wanita itu melihat suaminya belum menyentuh makanan dan piringnya juga masih kosong. Apa iya sengaja karena ingin menunggunya ? Tidak mungkin. Adira menjawab sendiri pertanyaan dalam benaknya.
Adira segera mengambil nasi goreng yang ia buat sendiri dan meletakkannya di piring Arkan.
"Tidak perlu melakukan itu jika tidak ada orang lain di sini." kata Arkan datar tapi dia tidak menolak ketika Adira melakukan itu.
"Aku melakukan ini bukan karena orang lain. Tapi karena kau suami ku." balas Adira sambil meletakkan nasi goreng di piringnya sendiri
__ADS_1
"Meskipun kau tidak menganggap ku." lanjut Adira lirih tapi Arkan masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Tidak.."
"Sstt. Jangan di bahas lagi. Tidak baik berdebat di depan makanan. Apalagi pagi hari." Adira memotong perkataan Arkan dan pria itu hanya diam karena membenarkan perkataan Adira. Berdebat di depan makanan dan di waktu pagi itu memang tidak baik karena tidak menghargai rezeki namanya.
Sejak hari itu mereka sarapan dan makan bersama ketika mereka ada di rumah. Meskipun mereka melakukannya dalam diam karena baik Arkan maupun Adira sama-sama tidak ada yang memulai bicara duluan. Adira tetap mengambilkan makanan dan minuman untuk Arkan dan Arkan tidak menolaknya. Arkan juga sudah tidak memakai masker lagi untuk menutupi wajahnya ketika berada di rumah.
Tiga bulan berlalu.
Pagi ini Adira di buat terkejut dengan kedatangan mantan kekasihnya, Leo yang kembali untuk menemuinya. Padahal hidup Adira sudah begitu damai selama beberapa bulan ini karena pria itu tidak lagi mengganggu hidupnya.
"Aku hanya ingin mengatakan pada mu jika anak yang di kandung Bela itu bukan anak ku." jawab Leo langsung pada intinya. Karena hanya itu tujuan Leo datang menemui Adira.
"Dia sengaja menjebak ku agar bertanggung jawab menjadi ayah dari anak yang memang sudah di kandungnya." lanjut Arkan lagi yang berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktu yang di berikan oleh Adira untuknya bicara.
"Untuk apa kau menjelaskan pada ku ? kau pikir aku peduli." kata Adira acuh.
"Sekarang pergilah. Aku sedang banyak kerjaan." Adira mengusir pria yang pernah ia cintai dulu.
__ADS_1
"Aku tahu. Aku mengatakan ini karena hanya ingin kau tahu jika aku tidak pernah mengkhianati mu apa lagi berselingkuh. Aku akan segera menceraikan Bela setelah bayinya berusia dua bulan." Bela sudah melahirkan tadi malam di usia pernikahannya yang belum genap lima bulan. Karena itulah Leo sangat yakin jika itu bukan anaknya dan Leo akan segera melakukan tes DNA untuk menyakinkan orang tuanya. Dan sejak menikah Leo juga tidak pernah menyentuh Bella.
"Terserah kau mau apa. Aku tidak peduli. Sekarang keluar dari ruangan ku." Adira memalingkan wajahnya dari melihat Leo.
"Baiklah. Aku akan pergi. Terima kasih untuk waktunya." Leo langsung pergi dari ruangan Adira karena tidak ingin membuat wanita yang ia cintai semakin kesal dengan keberadaannya.
Adira duduk di kursinya setelah Leo pergi. Sejujurnya Adira begitu terkejut mendengar jika Bela sudah melahirkan. Itu artinya saat Adira memergoki mereka waktu itu enam bulan yang lalu, Bela sudah hamil tiga bulan.
"Astaga."
Adira menutup mulutnya tidak percaya jika ada orang yang licik seperti itu. Jadi selama ini apa yang di katakan oleh Leo itu benar, jika ia tidak bersalah dan tidak pernah mengkhianatinya. Karena terlalu emosi dan kecewa Adira sampai tidak mempercayai Leo bahkan ia juga tidak ingin mendengar apa pun yang di katakan oleh mantan kekasihnya itu.
Adira membuang napasnya, menyadari jika waktu yang sudah berlalu tidak bisa di putar kembali. Anggap saja dia dan Leo tidak berjodoh. Lagi pula ia sudah menikah sekarang. Adira ikhlas dengan apa yang telah terjadi dan apa yang sedang di jalaninya sekarang. Selama enam bulan berpisah, Adira sudah bisa menghapus cinta dan kenangannya bersama Leo seiring dengan berjalannya waktu.
Sementara itu Arkan menggenggam ponselnya dengan kuat, menahan perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Pria itu baru saja menerima laporan dari orang suruhannya jika Leo datang ke butik dan bertemu dengan Adira. Arkan sendiri tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Arkan merasa marah tapi mengapa dia harus marah ? marah karena istrinya bertemu dengan sang mantan kekasih ? apa selama ini Arkan menganggap Adira sebagai istrinya ?.
Tidak ingin terus melayani perasaannya, Arkan kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan melupakan tentang Adira. Terserah wanita itu mau melakukan apa, Arkan tidak ingin peduli. Tapi pada kenyataannya Arkan tidak bisa membohongi perasaannya. Meskipun dirinya mengatakan tidak peduli, tapi tetap saja perasaannya kembali bergejolak ketika melihat Adira saat makan malam.
"Untuk apa dia datang menemui mu ?"
__ADS_1
Adira menghentikan tangannya yang ingin meletakkan nasi di piring Arkan mendengar pertanyaan dari pria itu.