
Arkan memutuskan untuk kembali ke kamar dengan perasaan kacau. Saat tiba di kamar, Arkan melihat Adira yang baru saja naik ke atas tempat tidur. Kemudian Arkan juga naik ke tempat tidur.
"Kau kenapa ?" tanya Adira yang melihat wajah murung Arkan.
"Ada masalah ?" tanya Adira lembut.
Bukannya menjawab pertanyaan Adira, Arkan tiba-tiba menarik tangan wanita itu mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba Arkan langsung mencium bibir Adira. Menyesapnya dengan terburu-buru seolah menunjukan perasaannya yang sedang kacau.
Ciuman itu kemudian berubah jadi lebih menuntut ketika Adira juga membalas dengan ikut memainkan lidahnya saling membelit dan bertukar saliva. Tanpa sadar Adira mele-nguh membuat Arkan jadi menginginkan lebih.
Arkan menurunkan ciumannya ke leher jenjang Adira. Tangannya juga tidak tinggal diam, mencari sesuatu yang bisa ia mainkan pada tubuh wanita didepannya itu. Arkan sudah semakin menggila oleh harumnya aroma tubuh Adira. Malam ini Arkan tidak akan menahan dirinya lagi. Arkan seolah lupa dengan topeng yang masih ia pakai. Ah, pedulikan tentang itu . Adira juga tidak mempermasalahkan tentang wajahnya yang buruk rupa ini.
Puas memberikan kecupan pada tubuh sang istri yang terbuka, kini Arkan ingin pergi lebih jauh lagi. Arkan menarik gaun tidur Adira membuat kain tipis itu robek dan terlepas, sehingga menampilkan tubuh polos wanita itu. Adira semakin mende-sah saat Arkan dengan rakusnya memainkan dan menyesap dadanya
Aahhhh
Sesaat kemudian Adira kembali mendapatkan kesadarannya. Adira ingin menahan Arkan agar menghentikan kegiatannya, tapi Adira tidak tega melakukan itu dan ia pun sangat menikmati sentuhan suaminya. Entah sejak kapan Arkan melepas pakaiannya sehingga mereka berdua sudah sama-sama polos.
"Arkan." Adira menahan tangan Arkan saat akan melepaskan satu-satunya kain yang menutupi bagian intinya.
Arkan langsung mengangkat wajahnya melihat penolakan Adira. Mata yang tengah berkabut oleh gairah itu terlihat kecewa menatap Adira.
"Maaf." ucap Adira menyesal.
__ADS_1
Arkan langsung menarik tubuhnya menjauh dari Adira. Ia mengerti jika Adira menolaknya. Sekarang Arkan tahu sampai dimana ketulusan hati Adira. Ternyata wanita itu tidak ingin dia sentuh.
"Tunggu." Adira menarik tangan Arkan menahan agar pria itu tidak pergi meninggalkannya. Adira tahu Arkan kecewa.
"Aku mengerti kau tidak siap untuk menerima ku yang buruk rupa ini." kata Arkan dingin. Dia yang mulai ingin membuka hati untuk mempercayai Adira kini harus menutup rapat-rapat pintu hatinya agar ia tidak kembali terluka.
"Bu-bukan karena itu." kata Adira sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"A aku.."
Adira ragu untuk mengatakan bahwa jika saat ini ia sedang datang bulan dan tidak mungkin untuk mereka melakukan hubungan suami istri.
"Aku tidak butuh alasan." Arkan menarik tangannya yang di pegang oleh Adira. Ia ingin segera pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang tertahan dalam tubuhnya.
"Arkan !"
"Aku sedang mendapatkan tamu bulanan. Jadi kita tidak bisa melakukan itu." kata Adira dengan cepat.
Adira tidak ingin membuat Arkan jadi salah paham dengan penolakannya. Takut pria itu akan tersinggung dan menganggapnya tidak tulus menerima dia sebagai suami.
Arkan menatap dalam mata Adira untuk mencari kebenaran tentang apa yang di katakan oleh istrinya. Tapi bagi Adira tatapan itu seperti mengatakan keraguan dalam diri Arkan.
"Sumpah. Aku tidak bohong. Kau bisa membuktikan sendiri ucapan ku." Adira memegang tangan Arkan dan mengarahkan pada tempat di mana bukti itu berada agar Arkan merasakan sendiri bukti itu. Meskipun hal itu sangat memalukan bagi Adira.
__ADS_1
Arkan sedikit menarik sudut bibirnya setelah memastikan jika Adira tidak berbohong. Perlahan Arkan mendekat dan mencium kening Adira.
"Tidurlah." kata Arkan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Adira.
Adira tersenyum mendengar suara Arkan yang datar dan tidak sedingin tadi, Adira yakin jika Arkan tidak lagi marah padanya. Adira bangun dari tempat tidur setelah Arkan masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengambil pakaian di lemari kemudian memakainya. Adira kembali ke tempat tidur dengan perasaan kecewa bercampur lega. Kecewa karena lagi-lagi ia tidak bisa menuntaskan hasratnya dan lega karena akhirnya Arkan sudah mau melakukan lebih padanya meskipun harus gagal.
*
Keesokan harinya Leo datang menemui Adira di butik.
"Untuk apa lagi kau datang ke sini ?" tanya Adira tidak ramah.
"Adira, aku minta maaf." kata Leo lirih.
"Aku tidak akan menganggu hidup mu lagi. Aku do'akan semoga kau bahagia bersama suami mu."
Leo mencoba ikhlas untuk melepaskan Adira. Rasanya percuma jika ia terus mengejar wanita yang ia cintai ini. Adira itu begitu keras kepala. Semakin Leo mengejarnya maka ia akan semakin menjauh.
"Bagus kalau begitu. Dan terima kasih atas do'anya." balas Adira acuh.
"Tapi aku harap kau masih mau berteman dengan ku." Leo tersenyum masam melihat Adira meskipun Adira tidak sedikit pun melihat kearahnya.
Adira hanya diam tidak membalas perkataan Leo.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pergi dulu." kata Leo setelah itu dia keluar dari ruangan Adira dan langsung meninggalkan butik.
Seorang wanita mengepalkan tangannya melihat mobil Leo yang semakin menjauh. Wanita ini melepas kaca mata hitamnya dan menatap tajam bangunan butik.