Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Saran Sang Asisten


__ADS_3

Arkan mengusap wajahnya frustasi. Sudah satu minggu ini sang istri terus mendiamkan nya. Bahkan Adira juga tidak mengizinkan Arkan untuk menyentuhnya dengan alasan tengah mendapatkan tamu bulanan yang sudah melebihi periode normalnya.


"Hey, kau tunggu sebentar." seru Arkan kepada seorang wanita staf sekretarisnya.


Wanita itu baru saja mengantarkan sebuah laporan yang baru ia kerjakan. Wajahnya sudah pias saat sang CEO memanggilnya. Apakah ia sudah melakukan kesalahan. Wanita sudah bersiap siap untuk menerima amukan dari atasannya.


"Iya, tuan." wanita itu menunduk takut.


"Kau tahu kenapa wanita mendiamkan pasangannya ?"


Duarrr


Wanita itu langsung mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan tak biasa dari sang atasan. Tidak salah seorang Arkan Wiratama menanyakan tentang hal seperti itu ?


"Istri ku mendiamkan ku dan tidak mau di sentuh itu kenapa ?" tanya Arkan menjelaskan lagi.


"Maaf, tuan. Mungkin istri anda sedang marah pada anda." jawab wanita itu meskipun takut-takut.


"Marah ?" Arkan mengkerutkan keningnya.


"Tapi aku merasa tidak berbuat salah padanya. Kenapa dia marah ?" tanya Arkan lagi.


"Hati kaum wanita itu sangat sensitif, tuan. Jadi hal-hal yang kecil saja bisa membuatnya tersinggung, marah dan cemburu." jelas wanita itu.


"Hah, cemburu ?" Arkan semakin bingung mendengar jawaban stafnya.


Arkan menggerakkan tangan mengusir wanita itu. Semakin ia bertanya membuat Arkan semakin bingung.


Saat pulang Arkan bertanya kepada sang asisten.

__ADS_1


"Kau tahu kenapa seorang wanita cemburu ?"


Hen yang sedang fokus menyetir mengulum bibirnya menyembunyikan senyuman mendengar pertanyaan dari tuannya. Sudah satu minggu sang tuan tidak juga menyadari sikap istrinya sendiri.


"Mungkin nona cemburu dengan nona Se.." Hen menghentikan kalimatnya, tak ingin menyebut nama wanita dari masa lalu tuannya.


"Em maksud saya dengan mantan tunangan anda saat acara di yayasan." jawab Hen yang memang sudah mengetahui dari awal.


"Tapi aku tidak pernah mengenalkan dia pada Adira. Dari mana Adira bisa tahu ?" balas Arkan.


"Bisa saja nona sudah mengetahui karena mencari tahu sendiri." jawab Hen.


"Mengapa Adira tidak mengatakan apapun pada ku."


"Mungkin nona ingin anda jujur dan menceritakan semua sendiri." Hen memberikan saran.


"Ada bisa mencobanya."


Arkan menghela napasnya membayangkan jika ia harus menceritakan tentang Sera kepada Adira. Dia tidak ingin membuat Adira marah. Begitu pikir Arkan.


Tak terasa mobil kini sudah berhenti di depan butik milik Adira. Arkan menghubungi sang istri dan tak lama kemudian Adira keluar dari butik dan langsung masuk ke dalam mobi.


"Apa kau ingin mampir ke suatu tempat ?" tanya Arkan sekadar berbasa-basi untuk membuka obrolan dengan sang istri.


"Tidak." jawab Adira singkat.


"Jadi langsung pulang ?" tanya Arkan lagi.


"Ya." balas Adira.

__ADS_1


Arkan sendiri bingung harus bertanya apa lagi jika Adira hanya menjawab singkat seperti itu. Pria itu merasa frustasi melihat sikap Adira. Mungkin ia harus melakukan seperti yang di sarankan oleh Hen.


Setibanya di rumah Arkan mengikuti Adira masuk ke dalam kamar. Arkan langsung memeluk tubuh sang istri. Wanita yang sudah satu minggu ini mendiamkannya.


"Aku tahu kau marah pada ku. Tapi tolong katakan aku harus apa agar kau tidak marah lagi ?" bisik Arkan dengan nada memohon.


Dasar tidak peka. Adira menggerutu dalam hati.


"Pikir saja sendiri." balas Adira ketus.


Adira ingin melepaskan belitan tangan Arkan yang sedang memeluknya. Tapi pria itu malah semakin mengeratkan tangannya. Arkan menempelkan keningnya dengan kening Adira. Mengikis jarak antara mereka.


"Apa karena wanita di yayasan waktu itu ?" kata Arkan lirih. Ia sungguh sangat enggan untuk membicarakan tentang Sera.


Adira menghentikan gerakannya yang ingin melepaskan diri dari pelukan sang suami saat mendengar perkataan Arkan.


"Aku sudah tidak ada apa-apa hubungan dengannya lagi. Aku bahkan tidak tahu dia ada di sana." jelas Arkan yang ingin segera mengakhiri perang dingin yang di tunjukkan sang istri.


Adira masih diam tidak menanggapi apa yang disampaikan oleh Arkan.


"Tolong jangan menyiksa aku seperti ini. Aku mohon."


Adira akhirnya menghela napas. Pertahanannya runtuh mendengar permohonan sang suami. Meskipun sikap Adira terkesan galak tapi hatinya sangat rapuh dengan rayuan. Apa lagi rayuan sang suami.


"Baiklah." Adira menyerah membuat Arkan tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak senyum.


"Aku ingin kau berkata dengan jujur. Mengapa kau tidak mengangatakan apa pun pada ku tentang wanita itu ?" kata Adira dengan bergemuruh.


Arkan melepaskan pelukannya lalu membawa Adira duduk di tepi tempat tidur. Ia menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Adira.

__ADS_1


__ADS_2