
Waktu begitu cepat berlalu. Empat hari lagi merupakan hari pernikahan Adira dan Arkan. Hari ini Adira mendapatkan kabar tentang pernikahan Leo dari teman-temannya. Mereka juga bertanya apa yang terjadi dengan hubungannya dengan Leo sehingga Leo bisa menikah dengan orang lain.
Adira tidak terlalu terkejut mendengar kabar tentang pernikahan mantan kekasihnya itu. Wajar saja mereka menikah. Mungkin wanita itu sudah hamil. Adira sungguh tidak peduli akan hal itu.
Tak ingin memberitahukan kejadian yang sebenarnya antara dia dan Leo, Adira memilih mengirimkan undangan pernikahan kepada teman-temannya. Berbagai reaksi yang diberikan oleh teman-teman Adira. Ada yang memberikan ucapan selamat, ada yang terkejut dan ada juga yang tidak percaya dengan pilihan Adira.
"Mita, apa kau sudah menghubungi tuan menyebalkan itu untuk mengambil pesanannya ?" tanya Adira kepada karyawannya.
"Sudah, nona. Katanya sore ini akan mengambilnya."
Adira menatap nanar gaun pernikahan impiannya untuk terakhir kalinya. Begitu juga dengan setelan jas untuk calon suaminya.
"Bagus." kata Adira karena dia masih punya tiga hari lagi jika pria menyebalkan itu ingin melakukan komplain.
Sore harinya saat Adira akan pulang, ia tidak melihat gaun dan setelan jas pesanan pria menyebalkan itu.
"Apa pesanannya sudah di ambil ?" tanya Adira menunjuk ke arah manekin yang memakai gaun itu sebelumnya.
"Sudah, nona." jawab Mita yang juga sudah bersiap-siap akan pulang.
Adira merasa aneh saja pria itu datang tapi tidak menemuinya. Ah, baguslah setidaknya dia tidak membuat ku emosi. Kemudian Adira keluar meninggalkan butiknya untuk segera pulang ke rumah.
Ketika tiba di rumah, Adira di sambut oleh mamanya. Nia tersenyum melihat putrinya yang baru saja pulang. Wanita itu menatap dalam wajah anak gadisnya untuk mencari tahu bagaimana perasaan Adira sekarang. Pasti Adira sudah mengetahui jika Leo menikah hari ini.
"Mama kenapa ?" Adira merasa aneh dengan tatapan mamanya.
"Tidak ada. Mama hanya melihat wajah putri mama yang sebentar lagi akan menikah." bohong Nia.
"Ah, mama. Bisa saja. Aku tidak akan pernah berubah sekali pun sudah menikah nanti. Aku tetap jadi putri mama yang cantik." ucap Adira sambil memeluk mamanya.
"Mama senang melihat mu tetap ceria seperti ini."
__ADS_1
Adira menghela napasnya. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.
"Mama pasti mengkhawatirkan aku karena pernikahan Leo hari ini kan ? mama tenang saja. Sungguh aku tidak apa-apa. Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, ma dan aku yang memutuskannya." kata Adira panjang lebar meyakinkan mamanya.
"Baguslah kalau begitu. Sebaiknya kau fokus pada pernikahan mu. Mungkin kalian memang tidak berjodoh."
"Iya, ma."
"Jadi kapan kau akan mulai libur ? ingat kau harus melakukan beberapa perawatan sebelum menikah." Nia mengingatkan.
"Dua hari lagi ma, setalah itu aku akan libur."
Nia mengangguk mendengar ucapan Adira.
"Oh ya, ma. Apa mama pernah bertemu de ngan .."
"Dengan calon suami mu ?" Nia memotong kalimat Adira yang sepertinya bingung ingin menyebut calon suaminya.
"Belum. Kenapa ?"
"Em, itu. Ah, tidak ada apa-apa. Aku ke kamar dulu, ma." Nia mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang calon suaminya.
*
Sementara itu di sebuah hotel mewah tengah berlangsung pesta pernikahan Leo dan Bela. Leo sedikit pun tidak memperlihatkan senyuman di wajah tampannya. Berbanding terbalik dengan Bela. Wanita itu melebarkan senyumannya karena mulai hari ini ia akan menjadi istri dari bos perusahaan tempatnya bekerja. Pasti kehidupan akan berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tidak menyangka kehamilan yang tidak di inginkannya ini akan membawa keuntungan dalam hidupnya.
Malam semakin larut, saatnya kini pesta berakhir. Para tamu undangan sudah pulang. Begitu juga dengan kedua orang tua Leo dan Bela. Wanita itu mengikuti Leo keluar dari aula tempat acara. Tidak ada adegan mesra seperti pasangan pengantin baru lainnya. Bahkan bergandengan tangan pun tidak di lakukan oleh Leo. Pria itu berjalan laju meninggalkan istrinya yang jauh tertinggal di belakang.
"Pak, tunggu. Anda mau ke mana ?" teriak Bela sambil berjalan kesusahan mengangkat gaunnya mengejar langkah panjang Leo.
"Aku mau pulang." jawab Leo singkat.
__ADS_1
"Tapi hotel sudah menyediakan kamar pengantin un..."
"Terserah jika kau mau tinggal di sini." Leo memotong kata-kata Bela.
Leo meneruskan langkahnya menuju pintu keluar hotel. Mau tidak mau Bela harus mengikuti suaminya. Meskipun dalam hatinya menggerutu karena tidak bisa menikmati malam pengantin di kamar VIP di hotel mewah ini.
"Pak, Leo. Tunggu. Aku ikut." Bela sedikit berlari mengejar Leo yang sudah tiba di mobilnya.
Selama dalam perjalanan, sedikit pun tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Leo memikirkan tentang Adira yang beberapa hari lagi akan menikah. Sedangkan Bela memikirkan bagaimana caranya untuk menaklukkan Leo. Jangankan untuk mendapatkan cinta suaminya. Pria itu bahkan tidak melirik sedikit pun ke arahnya sejak tadi.
Sesampainya di apartemen Leo langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Membuat Bela yang yang mengikuti Leo tersentak kaget saat pintu tertutup ketika ia ingin masuk. Bela menarik napasnya mencoba untuk bersabar.
Ini baru hari pertama Bela. Kau harus sabar untuk mewujudkan impian mu menjadi orang kaya. Batin Bela menyemangati diri sendiri.
Tangan bela perlahan membuka pintu kamar Leo. Dilihatnya Leo sedang membuka pakaian dengan posisi membelakanginya. Leo segera berbalik ketika menyadari pintu kamarnya terbuka. Baru saja Bela ingin melangkah masuk ke dalam kamar, suara Leo sudah menghentikannya.
"Jangan pernah menginjakkan kaki di kamar ini. Aku tidak sudi berbagi dengan mu. Pergilah cari kamar yang lain." kata-kata tajam Leo untuk Bela.
Tak ingin emosinya meledak di hadapan Leo, Bela memilih pergi, tangannya kembali menutup pintu kamar Leo. Kemudian Bela mencari kamar lain yang ada di apartemen milik suaminya itu.
Akhirnya Bela menemukan sebuah kamar. Ia segera masuk kedalam dan mengunci pintunya rapai.
"Aaarrrgggg...!"
Bela menarik kasar seprai dan selimut di tempat tidur. Ia melempar semua bantal yang tersusun rapi dan mengacak-ngacaknya untuk melampiaskan kekesalannya kepada Leo.
"Awas kau Leo. Suatu hari nanti aku akan membalas mu dan membuat mu menyesal telah memperlakukan aku begini." umpat Bela sambil membayangkan wajah Leo.
*
Arkan baru saja masuk ke kamarnya setelah melewati tengah malam. Ia melihat sebuah gaun pengantin yang begitu indah menggantung di sudut kamarnya. Kemudian ia terbayang wajah gadis yang akan menjadi istrinya dua hari lagi. Bukannya merasa bahagia. Arkan justru mengingatnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Tak ada wanita yang benar-benar tulus di dunia ini mencintai tanpa memandang rupa dan harta. Luka masa lalu telah membuat Arkan tidak lagi percaya dengan wanita mana pun termasuk Adira, calon istrinya yang telah menerima lamarannya meskipun sudah tahu keadaan wajahnya yang buruk rupa.