
Dua hari setelahnya, Sera menyeret kopernya menuju ke apartemen milik Bela. Untuk sementara waktu ia akan hidup menumpang bersama adik sepupunya itu sampai ia mendapatkan pekerjaan tetap.
"Astaga, Bela. Bayi siapa itu." Sera terkejut melihat seorang wanita berumur sekitar empat puluh lima tahun sedang menggendong seorang bayi.
"Masuklah dulu. Nanti aku ceritakan." Bela mengabaikan pertanyaan Sera.
"Ini kamar mu." Bela membukakan sebuah pintu kamar yang akan di tempati oleh Sera.
Apartemen milik Bela bukanlah sebuah apartemen mewah seperti tempat tinggal Sera sebelumnya. Itu hanya sebuah hunian sederhana memiliki tiga kamar yang tidak terlalu besar. Bela sengaja mengizinkan Sera tinggal bersamanya agar saudara sepupunya itu bisa membantu membayar uang air dan listrik.
"Jadi, itu anak mu ?" Sera terkejut setelah mendengar pengakuan Bela.
"Astaga aku bahkan tidak tahu jika kau sudah menikah." Sera menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh Bela.
"Lalu di mana suami mu ?" tanya Sera yang memang tidak tahu apa yang terjadi kepada Bela selama dua tahun belakangan ini.
"Dia menceraikan aku setelah bayi ku lahir dan mendapati bukan anaknya." Bela menghela napas mengingat pernikahannya bersama dengan Leo yang hanya bertahan lima bulan saja.
"Ya Tuhan, apa kau tidak berusaha merayunya dan membuatnya jatuh cinta pada mu ? padahal selama beberapa bulan kalian tinggal bersama." tanya Sera.
"Aku sudah berusaha, tapi dia tetap tidak dapat melupakan mantan kekasihnya. Entah apa yang di lakukan wanita itu pada Leo sehingga Leo masih mengejar-ngejarnya." jawab Bela.
__ADS_1
"Wow, apa dia cantik atau punya kelebihan lainnya ?"
"Tidak juga. Aku tidak tahu apa kelebihannya selain dari berasal dari keluarga kaya."
"Apa Leo mengejar kekayaan wanita itu ?" tebak Sera.
"Leo juga kaya. Dia bahkan mewarisi perusahaan milik keluarganya. Perusahaan tempat aku bekerja dulu." jawab Bela mematahkan tebakan kakak sepupunya.
"Ck, sayang sekali kau melepaskan tangkapan besar." Sera menggelengkan kepalanya.
"Jadi apa mereka sudah menikah sekarang ?" tanya Sera lagi.
"Mereka tidak menikah karena wanita itu sudah menikah dengan pria lain setelah beberapa hari pernikahan kami." Bela menjeda ucapannya.
"Kau tahu dia menikah dengan siapa ?" tanya Bela dan Sera menggeleng tanda tidak tahu.
"Wanita itu menikah dengan mantan tunangan mu yang buruk rupa itu." lanjut Bela lagi.
Sontak saja membuat Sera membelalakkan bola matanya mendengar kalimat terakhir Bela. Sera sungguh tidak menyangka jika dia dan Bela memiliki masalah dengan wanita yang sama.
"Jadi apa kau mau bekerja sama dengan ku untuk membalas dendam dengan wanita itu ?" tawar Bela yang memang sedang mencari rekan untuk menjatuhkan Adira.
__ADS_1
"Bagai mana caranya ?"
*
Satu minggu sudah berlalu. Hubungan Arkan dan Adira semakin mesra. Sera juga sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan berkat merayu seorang teman kencannya.
Setelah mengantarkan Adira ke butik, Arkan langsung menuju ke perusahaan.
"Apa saja jadwal ku hari ini ?" tanya Arkan kepada Asistennya.
"Satu jam lagi anda akan melakukan pertemuan dengan perusahaan Green World."
Arkan melihat jam di pergelangan tangannya.
"Kosongkan jadwal saat jam makan siang." perintah Arkan.
"Baik Tuan."
Siang ini Arkan Arkan ingin mengajak Adira untuk pergi makan siang bersama. Sejak menikah mereka sangat jarang melakukan hal itu selain hari libur. Mulai sekarang Arkan ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang istri.
Tepat pukul sembilan pagi Arkan masuk ke ruang rapat bersama dengan Hen. Namun ada pemandangan yang tak biasa di sana. Meskipun Arkan tidak mempedulikan tapi tetap saja itu sangat mengganggu baginya.
__ADS_1