
Satu minggu sudah berlalu. Keadaan Adira sekarang sudah membaik. Tapi Adira masih belum di izinkan oleh Arkan untuk pergi ke butik. Saat ini Adira sedang menyiapkan makan malam. Aktivitas yang sudah satu minggu ini tidak ia lakukan.
Sementara itu di perusahan Wiratama Grup. Arkan sedang memikirkan tentang Adira. Arkan sudah meyakinkan dirinya untuk menerima Adira sepenuhnya setelah melihat sendiri bagai mana ketulusan hati wanita yang sudah enam bulan ini menjadi istrinya. Arkan akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Arkan memerintahkan kepada sang asisten untuk menjemput Adira dan mengantarkannya ke suatu tempat. Karena Arkan ingin membuat kejutan kepada istrinya.
Adira baru saja selesai mandi ketika Arkan mengirim pesan untuk bersiap-siap karena Hen, asisten suaminya akan menjemput Adira sebentar lagi. Tepat pukul enam petang Hen sudah tiba dan langsung mengantarkan Adira ke sebuah hotel mewah.
Adira sedikit mengerenyitkan keningnya saat Hen mengantarkannya ke sebuah kamar.
"Apa benar Arkan menyuruh ku menunggu di sini ?" tanya Adira memastikan.
"Benar, nona. Sebentar lagi tuan akan datang." jawab Hen.
"Dan tuan meminta nona untuk memakai ini." Hen menyerahkan sebuah papar bag kepada istri tuannya.
Setelah itu Adira menutup pintu dan menguncinya. Jujur saja Adira takut jika harus sendirian di dalam kamar hotel. Padahal Adira tidak tahu jika Hen di tugaskan oleh Arkan untuk berjaga di depan pintu kamar sampai ia datang. Karena Arkan tidak ingin ada drama pria mabuk salah masuk kamar dan meniduri istrinya seperti kejadian di dalam novel-novel.
Di dalam kamar Adira segera membuka paper bag yang di berikan oleh Hen. Adira tersenyum melihat isinya yang ternyata sebuah gaun. Sedetik kemudian senyuman Adira berubah menjadi terkejut saat ia melihat gaun itu dengan sempurna.
"Astaga. Untuk apa dia menyuruh ku memakai gaun seksi ini ?"
__ADS_1
Gaun yang berwarna hitam bertali spaghetti dan sangat singkat jika di pakai itu lebih mirip seperti sebuah linggere. Pakaian yang bisanya di pakai oleh wanita-wanita penghibur. Adira menelan ludah melihat tampilan tubuhnya di depan cermin setelah memakai gaun itu.
"Ya Tuhan. Aku sudah seperti wanita penghibur." Adira terkekeh sendiri sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin.
"Apa suami ku berniat menjual ku kepada laki-laki hidung belang ?" katanya asal.
Adira tidak merasa curiga sama sekali karena Arkan pernah mengajaknya makan malam di dalam kamar hotel sebelumnya.
Adira duduk di tepi ranjang sambil menunggu Arkan tiba. Sesekali ia membetulkan pakaiannya yang terasa begitu sempit, sehingga dadanya yang sedikit berisi itu menyembul keluar. Sangat tidak nyaman untuk Adira. Tapi demi untuk menyenangkan hati sang suami, Adira tetap memakainya.
Adira terkesiap ketika tiba-tiba pintu di buka dari luar. Padahal tadi ia sudah menguncinya. Adira pikir itu Arkan. Tapi Adira begitu terkejut saat melihat ternyata seorang pria asing yang masuk ke dalam kamar. Wanita itu refleks menyilangkan kedua tangan untuk menutupi dadanya.
Pria itu tidak menjawab dan malah berjalan mendekat menuju Adira sehingga membuat Adira mundur. Wajah wanita itu jelas menunjukkan ketakutan. Seperti yang Arkan duga, istrinya itu pasti tidak mengenalinya tanpa ada bekas luka bakar di wajahnya.
"Pergilah. Anda pasti salah kamar. Sebentar lagi suami ku akan datang. Aku takut dia salah paham karena melihat mu di sini." kata Adira mencoba bicara baik-baik.
"Suami mu yang cacat dan buruk rupa itu tidak akan datang." kata Arkan sambil menampilkan seringai di wajah tampannya.
Deg
Apa jangan-jangan benar Arkan akan menjual ku. Adira kembali mengingat kata yang asal di ucapkannya tadi.
__ADS_1
"A apa maksud mu ? kau jangan menghina suami ku." kata Adira yang sudah diserang rasa takut dalam hatinya.
Bagai mana tidak takut jika saat ini dia hanya berdua dengan laki-laki asing dalam sebuah kamar hotel. Bagai mana jika pria ini melakukan sesuatu padanya.
Oh, Tuhan. Aku saja belum di apa-apain oleh suami ku. Batin Adira.
"Tapi memang benarkan, suami mu itu buruk rupa ?" kata Arkan lagi.
"Jaga mulut anda. Siapa anda sudah berani-beraninya menghina orang lain." balas Adira yang tidak terima jika ada orang yang menghina suaminya.
"Sudahlah. Untuk apa kau membela pria itu. Lebih baik kau tinggalkan dia dan jadilah milik ku." kata Arkan mencoba untuk menguji kesetiaan sang istri.
"Cih, aku tidak sudi jadi milik pria kotor seperti mu. Lebih baik kau pergi sekarang. Jika tidak aku akan panggilkan pihak keamanan hotel untuk mengusir mu." ancam Adira.
Wanita itu mulai resah karena suaminya tak kunjung tiba. Padahal Hen mengatakan tadi sebentar lagi Arkan akan sampai.
"Silahkan kau memanggil keamanan bahkan polisi sekali pun." Arkan kembali melangkah maju mendekati Adira.
Apa dia masih tidak mengenali suara ku ? padahal aku sudah bicara sebanyak ini. Dasar wanita yang tidak peka. Batin Arkan yang baru menyadari jika istri itu memang wanita yang sangat ceroboh. Sama seperti pertemuan mereka yang ke-dua kalinya dulu. Adira juga tidak mengenali Arkan sebagai calon suaminya padahal Arkan sudah memberikan kartu namanya pada pertemuan pertama.
Adira semakin memundurkan langkahnya saat melihat pria asing yang tidak lain adalah Arkan yang melangkah semakin mendekat ke arahnya. Adira panik saat tubuhnya kini sudah membentur dinding. Dia tidak bisa mundur lagi sedangkan pria itu semakin dekat. Di tengah ketakutannya, Adira melihat tasnya di atas meja di sampingnya. Seperti sebuah keberuntungan. Adira segera meraih tas itu untuk mengambil ponselnya agar ia bisa menghubungi Arkan untuk meminta pertolongan. Adira langsung menekan panggilan pada nomor kontak Arkan. Adira bernapas lega saat panggilan itu terhubung.
__ADS_1