
Setelah lima belas menit Adira menunggu akhirnya Arkan keluar dari kamar mandi. Adira menundukkan pandangannya. Tidak ingin melihat tubuh polos Arkan yang hanya memakai handuk di pinggangnya. Sementara Arkan dengan santainya memakai pakaian di depan Adira.
"Mengapa kau kabur dari rumah ?" Arkan yang telah siap berpakaian berdiri di depan Adira.
Perlahan Adira mengangkat wajah untuk melihat lawan bicaranya.
"Aku tidak ingin bertemu dengan mu." jawab Adira jujur.
"Kenapa ?"
"Karena kau selalu mencari masalah dengan ku."
Arkan mengkerutkan keningnya mendengar alasan yang diberikan oleh Adira.
"Jadi mau mu bagai mana ?" tanya Arkan.
"Aku hanya ingin hidup tenang dan damai di rumah ini. Jadi mari kita tidak saling mencampuri urusan masing-masing." jawab Adira.
"Tidak bisa begitu." tolak Arkan.
Entah mengapa Arkan tidak suka dengan saran Adira yang mengajak agar tidak mencampuri urusan masing-masing.
"Kenapa tidak bisa ?" Adira langsung berdiri menentang Arkan. Menatap tajam pria itu.
"Karena kau istri ku." jawab Arkan sambil menekankan ucapannya.
Adira membulatkan mata mendengar jawaban Arkan. Apa ia tidak salah dengar barusan Arkan mengatakan aku istrinya ?
Adira yang awalnya ingin marah tiba-tiba berubah setelah mendengar perkataan Arkan.
"Apa karena itu kau cemburu Leo menemui ku ?" tanya Adira tiba-tiba yang membuat Arkan bertambah kesal.
"Cih, percaya diri sekali kau."
"Terus mengapa kau melarang aku pergi ke butik tadi ?" pertanyaan yang sejak tadi ingin Adira tanyakan kepada Arkan.
__ADS_1
Arkan bingung mau menjawab apa. Sebenarnya ia melarang Adira keluar rumah tadi karena takut wanita itu akan kabur lagi. Tapi jika ia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa Adira besar kepala karena istrinya itu terlalu percaya diri.
"Itu hukuman buat mu karena meninggalkan rumah tanpa izin dari ku." jawab Arkan yang tidak sesuai dengan kata hatinya.
"Bukannya itu yang kau inginkan. Jadi kau tidak perlu melihat ku lagi." balas Adira.
"Cukup. Jika kau berbuat sekali lagi maka aku akan pastikan kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini." kata Arkan yang ingin segera menyudahi pembicaraan ini.
"Tapi kau.."
"Sudahlah. Sekarang ayo makan. Aku sudah lapar." Arkan menarik tangan Adira keluar kamar.
Arkan sudah tidak sabar ingin mengulangi momen makan bersama Adira di rumahnya yang sudah beberapa hari ini tidak dilakukannya. Arkan tidak melepaskan pegangan tangannya sampai mereka tiba di meja makan. Dua orang pelayan yang ada di sana terlihat terkejut melihat tuan dan nonanya berjalan sambil berpegangan tangan.
Seperti biasa Adira akan mengambilkan makanan untuk Arkan dan momen inilah yang di tunggu-tunggu oleh Arkan. Setelah beberapa hari di tinggal Adira ternyata Arkan baru menyadari jika ia merasa kehilangan dengan pelayanan Adira di meja makan.
"Aku ingin tambah lagi." kata Arkan tiba-tiba. Membuat Adira yang sedang menikmati makanannya menoleh. Ingin memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Aku ingin tambah." Arkan mengulangi permintaannya sambil menggeser sedikit piringnya yang sudah hampir kosong. Adira segera mengambilkan makanan untuk Arkan lagi. Arkan sangat menyukai makanan yang di masak oleh Adira. Sehingga Arkan makan begitu lahap dan ingin menambah lagi sampai ia kenyang.
"Mulai sekarang biasakan untuk berbagi tempat tidur dengan ku." kata Arkan yang melihat wajah Adira di tekuk. Arkan tahu Adira pasti keberatan untuk tidur bersama.
Arkan lalu naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Melihat Arkan yang sudah berbaring sambil menutup mata dengan sebelah lengannya, dengan ragu-ragu Adira akhirnya membaringkan juga tubuhnya di sebelah Arkan. Adira berbaring dengan membelakangi Arkan.
Adira yang baru saja hendak memejamkan matanya terkejut ketika lampu kamar tiba-tiba mati. Seluruh pandangannya menjadi gelap gulita.
"Arkan." Adira meraba-raba tempat tidur di sampingnya.
"Kenapa lampunya mati ?" terdengar suara Adira seperti ketakutan.
Adira memeluk lengan Arkan yang berhasil ia raih dalam gelap. Rupanya wanita itu takut dengan suasana yang gelap. Selama ini Adira selalu tidur dengan lampu menyala.
"Arkan, aku takut." Adira semakin mengeratkan pelukan pada lengan Arkan.
Arkan baru tahu jika Adira takut akan gelap. Padahal Arkan sengaja mematikan lampu kamarnya dengan menggunakan remot. Arkan tidak ingin Adira melihat wajahnya saat ia tidur.
__ADS_1
"Takut apa ? ini cuma gelap." balas Arkan.
"Tapi aku takut." rengek Adira seperti anak kecil.
"Kau tinggal pejamkan mata dan tidur. Tidak akan terjadi apa-apa." kata Arkan.
"Tapi kau jangan kemana-mana." pujuk Adira.
"Hem." balas Arkan singkat.
Arkan menarik sudut bibirnya dalam gelap melihat tingkah Adira seperti ini. Wanita yang biasanya terlihat cukup tangguh dan tidak cengeng itu ternyata punya sisi penakut dan manja.
"Arkan." panggil Adira tapi pria itu tidak menyahut.
"Arkan." panggil Adira lagi sambil menggoyangkan lengan
Arkan.
"Hem."
"Jangan tidur dulu." rengek Adira dengan suara manjanya.
"Ya."
"Arkan."
"Hem."
"Arkan." Adira terus memanggil Arkan sampai ia tertidur dan jika Arkan tidak menjawab maka Adira akan menggoyang lengan pria itu sampai Arkan menjawabnya.
Entah sudah berapa lama suara Adira tidak terdengar lagi. Mungkin wanita itu sudah tertidur pulas. Hembusan napasnya juga terdengar teratur. Arkan menyalakan lampu tidur di sampingnya. Adira memang sudah tidur dengan tetap memeluk sebelah tangan Arkan. Sejenak Arkan menatap pada wajah wanita yang sudah menjadi istrinya selama enam bulan ini.
Cantik.
Satu kata yang terlintas di benak Arkan saat melihat wanita yang sedang tertidur di sampingnya. Perlahan Arkan menarik tangannya yang sedang di peluk oleh Adira. Ia meraih ponselnya dan melihat waktu sekarang masih pukul sembilan malam. Terlalu awal dari waktu tidur Arkan yang biasanya tidur di atas jam sebelas malam. Biasanya jam segini Arkan masih berkutat dengan pekerjaan di ruang kerjanya.
__ADS_1
Setelah makan malam tadi Arkan masuk ke dalam ruang kerjanya dan memeriksa laporan masuk dari beberapa perusahaan cabang. Namun malam ini Arkan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya karena teringat dengan Adira yang tidur di kamarnya. Arkan memutuskan untuk kembali ke kamar dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu. Arkan ingin kembali ke ruangan kerjanya setelah melihat Adira yang belum tidur, tapi langkah kakinya justru menuju ke tempat tidur dan berbaring di sana. Dan sekarang setelah Adira tidur Arkan berniat melanjutkan pekerjaannya tapi lagi-lagi tubuhnya enggan beranjak meninggalkan Adira.