Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Terakhir Kalinya


__ADS_3

Sementara itu, hari ini Leo baru saja pulang dari luar kota. Setelah seminggu melakukan perjalanan bisnis. Leo di sambut oleh mama dan papanya yang sudah menunggu di apartemen miliknya.


"Mama, papa." sapa Leo yang merasa aneh melihat kedua orang tuanya.


Tak biasanya mereka datang ke apartemen Leo jika tidak ada sesuatu hal yang penting.


"Ada yang ingin papa bicarakan dengan mu." nada suara Edward tidak bersahabat.


Leo mulai merasakan suasana tidak baik di sekelilingnya. Pria itu menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Ada apa pa, ma ?" Leo mendudukkan tubuhnya di depan orang tuanya.


"Kau harus menikahi Bella secepatnya." perintah Edward.


"Apa ?" Leo terkejut mendengar perkataan papanya.


"Kau harus bertanggung jawab karena telah menghamilinya."


"Tapi, pa ..."


"Tapi apa ? kau tidak mau mengakui perbuatan mu ?" kata Edward mulai emosi.


"Kau mau menghancurkan reputasi keluarga dan perusahaan ? apa kata teman-teman papa dan para pemegang saham jika tau perbuatan bejat mu itu." marah Edward lagi.


"Benar kata papa mu Leo. Lagi pula anak yang di kandung Bela itu anak mu. Apa kau tidak merasa kasihan jika anak yang tidak berdosa itu lahir tidak punya papa." pujuk Rita. Ibunya Leo.


"Ma, Aku mencintai Adira. Lagi pula belum tentu anak yang di kandung Bela itu anak ku. Kami hanya satu kali tidur bersama dan aku tidak ingat apapun yang terjadi malam itu." terang Leo.


"Dasar anak bren**ek ! papa tidak pernah mengajarkan mu menjadi pria tidak bertanggung jawab seperti ini. Apa pun yang terjadi kau harus menikah dengan Bela sebelum kehamilannya bertambah besar." Edward langsung pergi dari apartemen putranya.

__ADS_1


Leo tertunduk lemah. Perintah papanya tidak bisa di bantah. Mau tidak mau dia harus menikah dengan Bela. Tapi saat ini pikiran masih tertuju pada Adira. Wanita yang ia cintai dan ia rindukan karena sudah satu minggu ia tidak menemui Adira.


Leo melihat jam di pergelangan tangannya. Saat ini pasti Adira masih ada di butiknya. Leo segera masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya. Kemudian pria itu bergegas pergi ke butik untuk menemui Adira.


Baru saja Leo memarkir mobilnya, ia melihat Adira yang baru saja keluar dari dalam butik. Leo segera keluar dari dalam mobil untuk menyapa wanita itu.


"Adira, sudah lama tidak bertemu."


Adira memutar matanya malas melihat kedatangan Leo lagi. Wanita itu sedikit pun tidak menggubris sapaan dari mantan kekasihnya itu. Ia terus saja berjalan menuju mobilnya.


"Adira, tunggu. Aku ingin bicara dengan mu satu kali ini saja untuk yang terakhir kalinya." kata Leo sambil berjalan mengikuti Adira.


"Aku janji ini yang terakhir." Leo menahan pintu mobil Adira saat wanita itu ingin masuk ke dalam mobilnya.


"Katakan apa yang ingin kau sampaikan. Setelah ini jangan pernah menemui ku lagi." Adira menatap datar Leo.


"Terima kasih."


Leo tersenyum melihat wanita yang ia cintai bisa duduk di depannya lagi.


"Jadi apa yang ingin kau katakan ?" tanya Adira yang dari tadi melihat Leo hanya tersenyum kepadanya.


"Bagaimana kabar mu ? apa kau tidak merindukan ku setelah satu minggu tidak bertemu." tanya Leo lembut.


Adira mendesis tidak suka mendengar perkataan Leo. Pria itu masih bisa bersikap manis setelah ketahuan selingkuh.


"Tidak. Jangan basa basi lagi. Langsung saja pada intinya." kata Adira yang tidak mau berlama-lama menghabiskan waktu bersama Leo.


Adira takut ia akan kembali luluh dengan kata-kata Leo. Ya, meskipun sejak kejadian pagi itu Adira selalu bersikap cuek dan marah kepada Leo tapi jauh dalam lubuk hatinya masih ada rasa yang tertinggal. Tidak mungkin kenangan selama satu tahun menjalin hubungan hilang begitu saja.

__ADS_1


"Adira, apa kau yakin ingin menikah dengan pria itu ? apa kau tahu kalau pria memiliki wajah yang cacat ? dia sungguh tidak pantas untuk menikah dengan mu yang begitu cantik." kata Leo mencoba memujuk Adira.


Untuk sesaat Adira terdiam mendengar perkataan Leo. Apa benar yang di katakan oleh Leo ? memang aku belum sempat bertemu dengan calon suami ku. Namanya pun juga aku tidak tau.


Leo yang melihat reaksi Adira tersenyum. Mungkin saat ini Adira mulai goyah dengan pilihannya. Dan Leo akan mengambil kesempatan itu untuk membuat Adira kembali padanya.


"Jika kau ragu, aku bersedia membantu mu bicara dengan orang tua mu untuk membatalkan pernikahan mu dengan pria itu. Aku yakin orang tua mu pasti mengerti dan tidak akan keberatan atas penolakan mu." kata Leo lagi.


Adira masih diam menatap wajah Leo. Seketika bayangan kejadian pagi itu terlintas di pikirannya. Adira mendapatkan kembali kesadarannya.


"Tidak. Aku tidak akan membatalkannya. Itu lebih bagus untuk ku. Setidaknya pria itu tidak akan selingkuh mengingat wajahnya yang cacat dan pasti tidak akan ada wanita yang mau dengannya." kata-kata Adira penuh sindiran.


Leo bagaikan tertampar dengan kata-kata Adira. Niatnya yang ingin membuat Adira membatalkan pernikahan justru membuat wanita itu semakin yakin dengan keputusannya.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi. Aku sudah janji untuk bertemu dengan calon suami ku." bohong Adira yang sengaja membuat alasan untuk menyakitkan hati Leo.


Adira pergi begitu saja meninggalkan Leo yang masih mematung di tempat duduknya. Leo meremat rambutnya kasar merasa frustasi.


"Ahhh, mengapa jadi seperti ini." Leo mengebrak meja dengan kuat sehingga pengunjung yang lain melihat ke arahnya. Tak berapa lama kemudian Leo juga pergi dari cafe tersebut.


"Ayo, jalan." perintah Arkan kepada asistennya setelah melihat Adira pergi dengan mobilnya.


Ya, sejak tadi Arkan melihat Adira sedang duduk bersama seorang pria di sebuah cafe dari dalam mobilnya. Entah apa yang mereka bicarakan, Arkan tidak bisa mendengarnya. Kemudian Arkan memerintahkan asistennya untuk menyelidiki siapa pria yang sedang bersama calon istrinya itu.


Sang asisten sejak tadi memperhatikan Arkan dengan berbagai macam pertanyaan di benaknya. Apakah tuan cemburu melihat calon istrinya bersama dengan pria lain ? apa mungkin tuannya sudah mulai mencintai wanita itu ?


"Buang semua pikiran yang tidak masuk akal itu dari otak mu jika kau masih ingin bekerja dengan ku." kata Arkan yang terus fokus dengan ponselnya.


Arkan menyadari jika sejak tadi asistennya itu terus melirik kearahnya dari spion mobil. Arkan seperti dapat membaca pikiran sang asisten yang sedang memikirkan tentang dirinya.

__ADS_1


"Maafkan saya, tuan." kata asisten gugup. Dia menelan ludahnya kasar dan kembali fokus mengendarai mobilnya untuk mengantarkan tuannya pulang.


__ADS_2