Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Perdebatan


__ADS_3

Adira segera berdiri dari duduknya melihat Arkan masuk ke dalam kamar.


"Ibu meminta kita menginap di sini." beri tahu Adira kepada suaminya.


"Kita akan pulang." balas Arkan sembari berjalan menuju meja nakas di samping tempat tidur. Arkan mengambil sesuatu dari sana kemudian keluar dari kamar.


Sementara Adira yang masih terdiam di tempatnya segera menyusul ketika Arkan bersuara.


"Kau mau tetap di sini ?"


"Tidak." jawab Adira yang kini sudah berjalan di belakang suaminya.


Tadi Ririn sudah mengatakan kepada Arkan meminta mereka untuk menginap di sini. Tapi Arkan menolak dan tetap ingin pulang. Ririn hanya mampu menghela napasnya ketika usahanya untuk mendekatkan Arkan dan Adira agar tidur bersama tidak berhasil. Arkan yang mengetahui jika permintaan ibunya memiliki motif terselubung langsung menolaknya. Sungguh Arkan belum siap untuk sedekat itu dengan Adira.


Adira terlihat sudah mengantuk. Wanita itu beberapa kali menguap. Mobil yang di kendarai oleh supir pribadi Arkan terasa begitu lambat. Adira sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya dan akhirnya tertidur.


"Nona, kita sudah sampai." suara pak supir membangunkan Adira.


Saat Adira membuka mata, Arkan sudah tidak ada lagi duduk di sampingnya. Bahkan pria itu sudah masuk ke dalam rumah tanpa membangunkannya. Adira keluar dari mobil dan langsung menuju ke kamarnya karena sudah sangat mengantuk.


*


Setelah dua bulan.


Hari ini Leo sudah resmi bercerai dengan Bella. Kini ia kembali menjadi pria single. Leo akan berusaha lagi untuk kembali mendapatkan Adira meskipun wanita yang dicintainya itu sudah menikah. Karena ia tahu Adira menikah dengan pria buruk rupa itu hanya karena ingin membalaskan sakit hati padanya.


Saat ini Leo ingin menemui Adira di butik, tapi sebelum ia menepikan mobilnya, Leo melihat mobil Adira pergi meninggalkan butik. Leo kemudian mengikuti Adira sehingga mobil yang dikendarai oleh wanita itu berhenti di sebuah mall.

__ADS_1


Hari ini Adira pulang lebih cepat karena ia akan singgah untuk berbelanja barang-barang pribadinya terlebih dahulu. Adira tidak menyadari jika ada seseorang yang sejak tadi mengikutinya.


"Adira." sapa Leo yang seolah-olah tidak sengaja bertemu.


"Aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Apa kau sendirian ?" tanya Leo melihat kesekeliling.


Adira tidak menjawab dan terus mengabaikan keberadaan Leo, seakan-akan pria itu tidak ada di sana. Dengan tidak tahu malau Leo terus mengikuti dan berjalan di samping Adira. Terus berbicara meskipun Adira tidak menanggapi. Sekilas mereka terlihat seperti pasangan yang sedang berbelanja bersama.


Mata Arkan membola ketika melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Foto Adira sedang berdua dengan Leo. Seketika darah Arkan mendidih karena marah. Entah mengapa Arkan tidak suka melihat itu. Tidak mungkin karena cemburu. Pasti hanya karena aku tidak suka milik ku diganggu orang lain. Arkan menyakinkan dirinya sendiri.


"Berhentilah mengikuti ku." Adira membentak Leo dengan suara tertahan karena tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang yang juga sedang berbelanja di sana.


"Aku mohon izinkan aku menemani mu kali ini." pinta Leo.


"Pergilah. Aku tidak ingin membuat suami ku salah paham." kata Adira membawa nama suaminya sebagai alasan untuk mengusir Leo.


Leo ingin menyahut perkataan Adira, tapi tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


Adira dan Leo sama-sama terkejut melihat pria di depan mereka yang tidak lain adalah Arkan.


Astaga. Dia seperti hantu yang muncul tiba-tiba saat di sebut. Batin Adira.


Sementara Leo merasa yakin jika pria itu adalah suami Adira. Meskipun Leo belum pernah bertemu secara langsung dengan pria yang dikenal dengan julukan si buruk rupa.


Tak ingin berurusan panjang dengan Arkan, Leo memilih pergi dari sana. Sekarang tinggallah Adira bersama dengan Arkan. Entah mengapa Adira merasa hawa kemarahan dari pria yang sudah menjadi suaminya.


"Sudah selesai ?" tanya Arkan dingin.

__ADS_1


Adira menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Arkan. Tiba-tiba ia merasa takut seperti sudah tertangkap basah saat sedang berselingkuh.


Arkan mengikuti Adira memilih barang yang hendak di beli, membuat Adira tidak nyaman. Bukan karena karena wajah suaminya yang buruk rupa. Tapi Adira malu karena ingin membeli kebutuhan tamu bulanannya. Adira segera mengakhiri belanjaannya dan keluar dari mall tersebut. Tanpa sepatah katapun Arkan berjalan meninggalkan Adira dan langsung masuk ke dalam mobilnya pergi begitu saja. Arkan menyadari jika Adira tidak nyaman saat ia mengikuti wanita itu.


Adira yang melihat sikap Arkan begitu hanya mampu menghela napasnya. Ia pun segera menuju ke mobilnya untuk pulang.


Saat makan malam, seperti biasa Adira ingin menggambilkan makanan untuk Arkan, tapi Arkan malah menepis tangan Adira.


"Tidak perlu melakukanya lagi."


"Ada apa dengan mu ?" Adira merasa sakit hati karena ini pertama kali Arkan berbuat kasar pada.


Biasanya pria itu tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Meskipun Arkan selalu bersikap acuh terhadapnya.


"Kau tinggal katakan pada ku jika kau ingin kembali dengan kekasih mu. Aku dengan senang hati melepaskan mu. Tidak perlu berbuat baik seperti ini." balas Arkan yang sudah mengetahui tentang status Leo dan alasan perceraiannya.


"Apa maksud mu ?" tanya Adira yang tidak mengerti. Apa karena Arkan memergokinya dengan Leo tadi, Arkan jadi salah paham.


"Kau pikir aku tidak tahu jika dia ingin kembali pada mu. Kau pasti menyesal telah menikah dengan ku setelah mengetahui jika kekasih mu itu tidak pernah selingkuh." jawab Arkan.


"Kau tidak perlu pura-pura menjadi istri yang baik. Yang bisa menerima segala kekurangan ku. Padahal yang sebenarnya kau malu menikah dengan ku yang buruk rupa ini kan." lanjut Arkan lagi yang menumpahkan segala kemarahan dalam hatinya.


Arkan menyadari jika Adira malu saat berjalan dengan Arkan di mall tadi. Makanya Adira dengan cepat menyudahi acara belanjanya.


Adira mengebrak meja makan karena tidak terima apa yang di tuduhkan Arkan terhadapnya. Padahal Adira sangat tidak suka berdebat apa lagi saat ingin makan.


"Asal kau tahu apa yang selama ini aku lakukan pada mu itu bukan pura-pura. Aku selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik. Tapi jika kau memang tidak bisa menerima ku sebagai istri, sebaiknya kita akhiri saja pernikahan ini."

__ADS_1


Adira segera pergi setelah menjawab segala tuduhan Arkan terhadapnya. Ia bukanlah seorang wanita yang lemah yang hanya bisa menangis saat di marahi.


Begitu juga dengan Arkan yang juga pergi setelah Adira meninggalkan meja makan. Mereka kini sudah tidak berselera lagi untuk makan karena perdebatan yang terjadi. Adira langsung masuk ke dalam kamarnya sedangkan Arkan masuk ke dalam ruangan kerjanya dan memilih bekerja untuk mengalihkan perasaan marahnya.


__ADS_2