
Adira hanya memasang wajah datar ketika tiba di dalam kamarnya bersama Arkan. Dalam hati Adira masih merasa sakit atas tuduhan Arkan terhadapnya. Andai saja mereka tidak terikat oleh pernikahan, mungkin sudah lama Adira meninggalkan pria itu.
Adira tidak berbicara satu patah kata pun kepada Arkan. Seolah-olah pria itu tidak ada di sana. Adira mengambil piyama tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian Adira keluar dari kamar mandi. Alangkah terkejutnya ia melihat Arkan dengan santainya sudah berbaring di tempat tidurnya. Menutup mata dengan sebelah lengannya. Tapi Adira tetap tidak berkata apapun. Ia melanjutkan melakukan ritual malam untuk merawat kulit dan wajahnya. Setelah itu Adira keluar dari kamar. Ia berniat untuk tidur di kamar kakaknya yang berada di sebelah kamarnya.
"Adira, mau ke mana ?" Adira terkejut mendengar suara Nia saat ia akan membuka pintu kamar kakaknya.
"Em, itu ma. Mau pinjam baju kak Melvin buat Arkan." bohong Adira.
"Tidak usah. Ambil baju papa saja. Masih baru, belum pernah di pakai." ujar Nia.
Mau tidak mau Adira terpaksa menerima baju tersebut dan kembali ke kamarnya. Arkan masih di posisi seperti tadi. Adira menyimpan baju itu ke dalam lemarinya. Adira mengambil bantal dan selimut, kemudian menuju ke sofa. Malam ini ia memutuskan untuk tidur di sana dan membiarkan Arkan tidur di tempat tidur miliknya. Meskipun dalam hati Adira menggerutu.
Saat Adira terbangun pagi hari. Arkan sudah mandi dan berpakaian rapi. Memakai pakaian yang di bawa Adira tadi malam. Adira bangun dan langsung menuju ke kamar mandi. Tidak lupa juga ia membawa baju ganti karena saat ini Arkan masih ada di kamarnya.
Saat Adira keluar dari kamar mandi, ternyata Arkan masih ada di kamarnya. Duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Setelah ini langsung pulang ke rumah." perintah Arkan sambil menatap Adira di depannya.
Pandangan mereka saling bertemu ketika Adira juga melihat Arkan melalui cermin di depannya. Apa maksudnya ? apa dia meminta ku untuk pulang ? batin Adira.
Arkan mengikuti Adira keluar dari kamar menuju ke meja makan untuk sarapan. Hanya berjalan bersama. Tidak ada berpegangan tangan atau adegan mesra lainnya. Kedua orang tua Adira juga sudah ada di sana.
__ADS_1
Setelah sarapan Arkan dan Adira pamit kepada Nia untuk pulang. Sedangkan Abizar sudah lebih dulu berangkat ke kantor. Adira berjalan lebih dulu menuju ke mobilnya. Tapi tiba-tiba Arkan menarik tangan Adira untuk masuk ke mobilnya.
Adira berdecak kesal mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Bukannya minta maaf tapi Arkan malah terus menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah orang tua Adira. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling diam. Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Arkan fokus menatap jalanan mengemudikan mobilnya. Sedangkan Adira hanya bersandar melihat ke arah jendela mobil di sampingnya.
Begitu tiba di rumah, Adira langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu tanpa memperdulikan Arkan di belakangnya. Adira segera menuju kamarnya. Tapi sayangnya pintu itu terkunci. Adira lalu meminta kunci kamarnya kepada pelayan.
"Maaf, nona. Kunci kamar ini ada pada tuan. Tapi barang-barang anda sudah di pindahkan ke kamar tuan." kata pelayan yang membutuhkan Adira terkejut.
Kemudian Adira naik ke lantai atas menuju kamar Arkan. Adira langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kembalikan kunci kamar ku." kata Adira begitu masuk ke dalam kamar Arkan.
Saat ini Arkan sedang mengganti pakaiannya dengan kemeja kerjanya. Sepertinya pria itu ingin pergi bekerja. Arkan berjalan ke arah Adira sambil mengancingkan kemejanya.
"Hah, mengapa kau berbuat sesuka hati mu ?" tanya Adira yang juga membalas tatapan Arkan.
"Apa kau sudah mulai mengganggap aku sebagai istri ?" lanjut Adira lagi.
"Kau tidak perlu repot-repot memaksakan diri untuk menerima ku. Lagi pula apa yang kau katakan itu benar. Jika aku menikah dengan mu hanya untuk membalaskan sakit hati pada kekasih ku yang berselingkuh. Jadi sebaiknya kita akhiri saja ..."
"Cukup !" Arkan memotong perkataan Adira.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak tahu kau ingin mengakhiri pernikahan ini agar bisa kembali kepada pria itu setelah mengetahui jika dia tidak selingkuh." lagi-lagi Arkan menuduh Adira.
"Terserah kau mau mengatakan apa. Sekarang kembalikan kunci kamar ku." Adira ingin segera pergi dan mengakhiri pertengkaran ini.
"Sudah aku katakan. Mulai sekarang ini kamar mu, kamar kita. Buktikan ketulusan mu menjalankan kewajiban sebagai istri seperti yang selalu kau katakan."
Adira menelan ludahnya mendengar perkataan Arkan. Arkan kembali ingin bersuara tapi suara dering ponsel lebih dulu menghentikannya dan Arkan segera mengangkat panggilan itu.
"Aku akan segera ke sana." Arkan menutup panggilan setelah mengatakan itu. Arkan melanjutkan kembali memakai pakaiannya.
"Jangan ke mana-mana. Persiapkan diri untuk menjalankan kewajiban mu." Setelah itu Arkan keluar dari kamar.
Adira membuang napasnya kasar. Setelah memastikan mobil Arkan pergi meninggalkan rumah. Adira keluar dari kamar berniat untuk pergi ke butik. Bekerja lebih baik dari pada memikirkan perkataan Arkan tentang kewajiban sebagai istri.
*
Adira bangun dari tidur saat hari sudah sore. Ia segera keluar dari kamar Arkan yang sekarang juga jadi kamarnya untuk memasak makan malam. Ya, Adira tidak jadi ke butik karena di tahan oleh pelayan dan petugas keamanan rumah atas perintah yang diberikan oleh Arkan sebelum ia berangkat kerja tadi. Adira yang merasa bosan di rumah menghabiskan waktunya hanya dengan tiduran setelah makan siang.
Setelah selesai dengan masakannya, Adira kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Alangkah terkejutnya ia ketika keluar dari kamar mandi melihat Arkan sudah ada di kamar. Adira melihat jam di dinding, sekarang baru pukul setengah enam. Biasanya Arkan pulang masih satu jam lagi.
Adira mengeratkan pegangan pada handuk yang melilit di tubuhnya saat Arkan menatap dalam padanya.
__ADS_1
"Ka kau sudah pulang ?" Adira tergagap saat Arkan berjalan ke arahnya sambil membuka kancing kemejanya.
"Tetap di kamar sampai aku selesai mandi." kata Arkan tepat di depan Adira. Kemudian pria itu langsung menuju ke kamar mandi.