Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Sera


__ADS_3

Ririn tersenyum melihat sikap Adira yang begitu mencemaskan keadaan Arkan.


"Arkan baik-baik saja. Pagi ini dia ada pertemuan penting di perusahaan jadi tidak sempat datang ke rumah sakit menemui mu. Setelah urusannya selesai pasti dia akan kemari." jawab Ririn sambil menyodorkan lagi makan ke mulut Adira dan kali ini Adira tidak menolaknya.


Adira merasa sangat lega mendengar jika Arkan baik-baik saja. Bahkan pria itu bisa pergi bekerja seperti biasa. Ya, keadaan Arkan tidak terlalu parah seperti Adira. Dokter memang menyarankan agar Arkan juga di rawat tapi pria itu menolak. Setelah selesai luka di tangannya di bersihkan dan di perban. Juga luka-luka kecil lainnya sudah di obati. Arkan masuk ke dalam ruang rawat Adira untuk menjaga sang istri. Dan pada pukul sebelas malam baru Arkan pulang. Itupun atas desakan Abizar karena ayah mertuanya itu tahu Arkan juga butuh istirahat setelah mengalami kecelakaan yang sama dengan Adira.


Sementara itu di perusahan Wiratama Grup, Arkan sedang duduk di kursi kebesarannya. Masih jelas di ingatannya bagaimana Adira berusaha untuk tetap menyelamatkan nyawanya. Wanita itu bahkan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Dan Adira juga sanggup melukai tangannya.


Kemudian ingatan Arkan kembali pada kejadian dua tahun yang lalu. Dimana ia mengalami kecelakaan bersama Sera. Kejadiannya hampir persis sama seperti kecelakaan kali ini. Saat itu tubuh Sera terpental ke luar ketika mobil Arkan berguling. Tapi wanita itu bahkan tidak berusaha untuk menolong dirinya yang masih terjebak di dalam mobil sehingga mobil itu terbakar dan mengenai wajah Arkan. Jadilah Arkan si buruk rupa dengan bekas luka bakar di wajahnya setelah kejadian itu.


Bukannya merasa simpati dengan kondisi Arkan saat itu, Sera bahkan sangat ketakutan dan jijik melihat wajah Arkan. Wanita itu juga tega meninggalkan Arkan dan memutuskan pertunangannya. Padahal Arkan sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya untuk melalui masa-masa sulit itu.


"Tuan, rapatnya di mulai lima menit lagi." suara Hen menyadarkan Arkan dari lamunannya.


Arkan segera bergegas menuju ke ruang rapat untuk memulai rapatnya agar lebih cepat selesai dan setelah itu Arkan akan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan sang istri yang katanya sudah sadar.


*


Setelah selesai sarapan dan membersihkan diri yang di bantu oleh perawat, kini Adira duduk bersandar dengan nyaman di tempat tidurnya.


"Bu." panggil Adira kepada ibu mertuanya yang masih menemaninya.


"Ya, sayang. Kau membutuhkan sesuatu ?" tanya Ririn sambil berjalan mendekati brangkar Adira.

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya." jawab Adira.


"Silahkan, kau ingin bertanya tentang apa ?" Ririn duduk di kursi di samping Adira.


"Siapa Sera ?" tanya Adira langsung tanpa basa-basi


deg


Wajah Ririn berubah ketika mendengar nama yang sudah dua tahun ini tidak pernah ia sebut.


"Sera ? kau bertemu dengannya ?" Ririn mencoba mencari tahu dari mana Adira tahu tentang Sera.


"Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya." jawab Adira jujur.


"Kemarin aku dengar Arkan menyebut nama itu. Sepertinya Arkan melihat wanita yang bernama Sera di dalam sebuah mobil dan dia mengejar mobil itu."


Ririn terkejut mendengar perkataan Adira. Memang dia belum sempat menanyakan kepada Arkan bagai mana mereka bisa mengalami kecelakaan. Ririn sangat marah setelah mengetahui penyebabnya. Marah kepada Sera yang selalu membuat Arkan terluka dan Ririn juga marah kepada Arkan yang mengejar wanita itu. Padahal jelas-jelas wanita itu pergi meninggalkannya. Untuk apa lagi di kejar sehingga membuat menantu kesayangannya seperti ini.


"Bu." suara lembut Adira menyadarkan Ririn dari pikiran.


Ririn langsung menarik sudut bibirnya tersenyum kepada Adira.


"Ibu mengenal wanita yang bernama Sera itu ?" tanya Adira lagi.

__ADS_1


"Iya. Ibu mengenalnya."


Ririn pun menceritakan semua tentang Sera karena tidak ingin menutupi apa pun tentang Arkan. Adira berhak mengetahui masa lalu suaminya. Ririn yakin Arkan pasti belum pernah menceritakan masa lalunya kepada Adira, mengingat sikap dingin yang di miliki putranya itu.


Sekarang baru Adira mengerti mengapa Arkan selalu menuduhnya dan tidak pernah percaya dengan apa yang ia lakukan selama ini. Adira yakin Arkan menjadi begitu karena kecewa kepada Sera. Sehingga Arkan tidak percaya lagi dengan yang namanya wanita.


"Sekarang istirahatlah. Biar cepat pulih dan cepat pulang ke rumah." kata Ririn membantu Adira untuk berbaring dan Adira mengangguk menuruti perintah ibu mertuanya.


Setelah Adira tertidur, Nia tiba di ruang rawat Adira sambil membawa makanan untuk anaknya. Nia membawakan makanan kesukaan Adira yang ia masak sendiri.


"Terima kasih, mba sudah menjaga Adira." ucap Nia kepada Ririn dengan sedikit berbisik karena tidak ingin menganggu tidur Adira.


"Tidak perlu berterima kasih. Adira itu juga putri ku. Aku sangat senang bisa menjaganya." balas Ririn dan mereka berdua saling bercerita meskipun dengan suara yang pelan.


*


Begitu rapat selesai, Arkan langsung pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan sang istri yang sejak tadi malam terus ada dalam pikirannya.


Ketika Arkan masuk ke ruangan Adira, ia langsung mendekat pada Adira yang sedang terlelap tidur. Arkan mencium kening sang istri lama untuk menenangkan hatinya yang sudah di penuhi dengan Adira. Arkan kemudian mengecup sekilas bibir Adira.


Eehhmm


Arkan langsung menoleh ketika mendengar suara deheman seseorang. Wajah Arkan berubah menjadi merah ketika melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2