Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Rencana Sera


__ADS_3

Adira mengeliatkan tubuhnya di bawah selimut untuk mencari kenyamanan. Ia menarik selimut sampai ke wajah saat merasakan hawa dingin menerpa kulit tubuhnya. Tak hanya dingin, Adira juga merasakan tubuhnya seperti remuk semua. Hembusan napas hangat menyapu wajah Adira membuat wanita itu membuka matanya. Sesosok wajah tampan yang ia lihat pertama kali sedang tersenyum hangat ke arahnya.


Awalnya Adira ingin menjerit karena terkejut. Tapi sedetik kemudian ia mendapatkan kembali ingatannya jika pria tampan yang ada di depannya saat ini adalah Arkan. Suami buruk rupanya dan tadi malam mereka sudah ... . Adira menutup wajahnya dengan selimut saat mengingat kejadian tadi malam.


"Kenapa kau menutup wajah ?" Arkan mencoba menarik selimut yang menutupi wajah cantik Istrinya.


"Aku malu." kata Adira sambil mempertahankan kain tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


Mendengar hal itu Arkan menghentikan gerakan tangannya untuk membuka selimut. Tapi Arkan ikut masuk ke dalam selimut untuk melihat wajah malu-malu istrinya.


Akh..


Adira menjerit saat tiba-tiba Arkan meraba tubuh polosnya dari dalam selimut. Wanita itu refleks membuka kain tebal itu sehingga terpampang jelas tubuh bagian atasnya. Arkan tersenyum menyeringai melihat pemandangan itu.


"Kau sengaja menggoda ku ?" tanya Arkan sambil menatap Adira penuh arti.


"Tidak. Siapa yang mau menggoda mu." jawab Adira jujur sambil membetulkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi sayangnya percuma. Karena saat ini bagian bawah tubuh Arkan sudah on fire.


Dalam sekejap Arkan sudah merubah posisinya menindih tubuh Adira.


"Ka kau mau apa ?" tanya Adira gelagapan melihat Arkan sudah ada di atasnya.


"Tentu saja mau melanjutkan kegiatan tadi malam." jawab Arkan dan tanpa aba-aba langsung mencium bibir Adira.

__ADS_1


Entah sudah yang ke berapa kalinya Arkan menggauli istrinya sejak tadi malam.


*


Hari mulai beranjak siang. Sera menghembuskan napas kesal karena sudah empat jam duduk di dalam mobil. Tapi yang di tunggu tidak juga datang. Sera menghidupkan mesin mobilnya untuk pergi meninggalkan perusahaan bekas mantan tunangannya karena merasa perutnya sudah lapar. Tadi pagi bahkan wanita itu tidak sempat sarapan karena ingin cepat-cepat tiba di perusahaan Wiratama Grup.


"Kenapa wajah mu di tekuk begitu ?" tanya Jimy yang melihat Sera seperti sedang kesal.


Saat ini Jimy dan Sera sedang menikmati makan siang di sebuah restoran mewah. Jimy adalah seorang pengusaha batu bara yang berasal dari pulau Kalimantan. Pria berusia empat puluh delapan tahun itu datang ke Jakarta untuk urusan bisnis selama satu minggu. Dan selama itu pula ia sudah membayar Sera untuk menemaninya di Jakarta.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah." Sera berucap dengan manja sambil menyunggingkan senyumannya.


"Apa karena perbuatan ku semalam ? aku minta maaf." kata Jimy percaya diri menganggap jika teman kencannya lelah karena melayaninya tadi malam.


"Oh, bu ...Ah. iya. Kau sangat hebat tadi malam. Aku sampai kewalahan." Sera memuji pria yang sudah membayarnya mahal. Meskipun dalam hatinya mengatakan sebaliknya.


"It's ok. Setelah ini apa jadwal mu ?" tanya Sera sekadar berbasa-basi untuk mengalihkan pembicaraan.


"Untuk hari ini sudah selesai. Seharusnya setelah makan siang ini aku ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan Wiratama Grup." Sera menajamkan telinganya saat Jimy menyebut nama perusahaan Arkan.


"Tapi, tiba-tiba saja mereka memundurkan jadwalnya jadi besok pagi." lanjut Jimy.


Jadi besok pagi pria ini akan bertemu dengan Arkan ? batin Sera. Bibirnya tiba-tiba saja tersenyum karena akhirnya ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mantan tunangannya.

__ADS_1


"Kalau begitu setelah makan siang kita balik ke hotel atau kau mau jalan-jalan ?" tanya Sera.


Jimy menatap Sera penuh arti. Ia telah membayar mahal wanita untuk menjadi teman kencannya kali ini tentu saja Jimy tidak akan menyia-nyiakan uang yang telah ia keluarkan.


"Kita ke kamar saja. Aku ingin mandi. Gerah." kata Jimy beralasan.


"Baiklah." Sera tersenyum lebar. Hari ini ia akan melayani pelanggannya dengan sangat baik karena Sera sudah merencanakan sesuatu.


*


Hari mulai beranjak sore. Adira kembali membuka matanya. Seperti tadi pagi, pertama kali yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sedang tidur memeluk tubuhnya. Adira terus memperhatikan wajah Arkan. Sungguh ia benar-benar tidak percaya jika pria buruk rupa yang menikahinya enam bulan yang lalu ternyata seorang pria yang sangat tampan. Jika saja Hen tidak menunjukkan banyak bukti mungkin Adira tidak akan mempercayainya.


"Sudah puas memandang wajah ku ?" Arkan tiba-tiba membuka mata.


Adira sangat malu karena ketahuan oleh Arkan jika ia sedang mengagumi ketampanan wajah pria itu.


"Aku hanya tidak percaya jika kau itu suami ku." jawab Adira jujur.


"Tapi itulah kenyataannya." Arkan mengangkat kepalanya untuk mencium kening Adira.


"Terima kasih." kata Arkan lagi.


"Terima kasih untuk apa ?" tanya Adira bingung.

__ADS_1


"Karena kau sudah mau menikah dengan ku yang buruk rupa dan sanggup bersabar melayani ku meskipun aku selalu marah-marah." kata Arkan lembut.


Wajah Adira berubah murung saat mengingat awal terjadinya pernikahan mereka.


__ADS_2