
Sejenak Adira berpikir tentang pertanyaan Arkan yang tidak jelas. Apa Leo yang di maksudkan oleh Arkan ? Adira bertanya dalam hatinya. Mengingat siapa pria yang menjadi suaminya itu yang bisa mencari tahu semuanya dengan mudah, Arkan pasti tahu jika Leo tadi datang menemuinya.
"Siapa ?" tanya Adira pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura tidak mengerti maksud ku." kata Arkan.
"Aku benar-benar tidak mengerti siapa yang kau maksudkan. Setiap hari puluhan orang datang ke butik. Jadi yang mana satu yang kau tanyakan ?" Adira balik bertanya.
"Ck, kekasih mu." jawab Arkan dengan nada kesal karena sejak tadi Adira banyak bicara.
Adira tersenyum melihat reaksi Arkan yang sedang kesal karena ulahnya. Seketika muncul ide usil di pikirkan Adira.
"Kau cemburu ?" tanya Adira sengaja. Adira menatap wajah suaminya, ingin melihat bagaimana reaksi pria itu.
"Cih." Arkan mendengus mendengar pertanyaan Adira yang begitu percaya diri.
Adira terkekeh karena berhasil mengerjai suaminya. Hari ini Arkan jadi banyak bicara karena ulah Adira.
"Jadi mau tahu tidak mengapa dia datang menemui ku ?" tanya Adira menggoda Arkan. Tapi pria itu hanya diam dan melanjutkannya makannya.
"Hem, ya sudah kalau tidak mau." sambung Adira.
Kau pikir aku peduli dengan urusan mu dengan pria itu. Kata Arkan dalam hatinya.
Arkan pun tidak berbicara apapun lagi setelah itu. Karena pria yang hampir sembilan puluh persen menuruni sifat ayahnya itu terlalu gengsi untuk menunjukkan rasa penasarannya.
Setelah makan malam Arkan menuju ke ruang kerjanya. Ia menghubungi seseorang untuk menyelidiki pria yang pernah menjalin hubungan dengan Adira sebelum mereka menikah.
*
__ADS_1
Adira hanya melihat ponselnya yang terus berdering oleh panggilan masuk dari Leo. Adira sengaja tidak mau mengangkat panggilan yang ia anggap tidak penting dan ia pun terus menggambar desain untuk menghabiskan waktunya sebelum makan malam sebentar lagi.
Adira terkesiap ketika tiba-tiba saja sebuah tangan me-reject panggilan telepon dari Leo. Adira menatap sang pemilik tangan tersebut yang tidak lain adalah Arkan. Sebenarnya Adira ingin marah, tapi ia tidak mau berdebat dengan Arkan. Bukannya Adira takut. Ia hanya ingin hidup damai bersama Arkan meskipun tidak saling mencintai.
Hari ini Arkan pulang lebih awal. Saat ini bahkan baru jam enam sore tapi pria itu sudah tiba di rumah. Arkan yang baru saja tiba di rumah langsung masuk ke kamar Adira. Arkan sempat mengetuk pintu beberapa kali, namu Adira tidak mendengar karena suara ponselnya yang terus berdering.
Belum sempat keduanya berbicara, ponsel Adira kembali berdering. Arkan kembali menggeser icon berwarna merah untuk menolak panggilan dari Leo.
"Bersiaplah. Kita akan makan malam di rumah ibu." kata Arkan dengan ekspresi datar. Belum sempat Adira menyahut, pria itu langsung keluar dari kamar.
Di dalam mobil, Adira yang tidak tahu alasan mengapa Arkan mengajaknya ke rumah orang tuanya akhirnya bertanya.
"Hari ini ibu ulang tahun." jawab Arkan.
"Apa ?" Adira terkejut karena Arkan baru mengatakannya sekarang. Itu pun karena ia bertanya.
"Kenapa kau tidak mengatakan dari awal." kesal Adira.
Jika Adira tahu lebih awal, pasti ia akan memakai gaun pesta dan bisa menyiapkan kado untuk ulang tahun ibu mertuanya.
"Bolehkah kita mampir di sebuah toko pakaian dulu ?" Adira ingin mengganti pakaiannya sekaligus ingin mencari sebuah gaun untuk di jadikan kado.
"Tidak."
Adira langsung mendelik mendengar jawaban Arkan. Tidak tahukah pria ini jika perbuatannya itu bisa menjatuhkan harga diri Adira sebagai seorang menantu. Adira ingin menjawab perkataan Arkan. Tapi, saat ini mobil yang membawa mereka sudah memasuki halaman rumah yang cukup mewah.
Apa sudah sampai ? tapi kenapa sepi sekali ? Batin Adira yang melihat keadaan di sana seperti tidak ada tanda-tanda mengadakan sebuah pesta.
Sedang larut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba Arkan memberikan sebuah box yang dibungkus dengan kertas kado kepada Adira. Ternyata Arkan sudah menyiapkan kado untuk ibu. Dan Adira juga baru menyadari jika Arkan hanya mengenakan kaos dan jaket. Sepertinya memang tidak ada pesta.
__ADS_1
Mereka berdua melangkah masuk di dalam rumah yang cukup mewah milik keluarga Wiratama. Ini kali pertama Adira menginjakkan kakinya di rumah mertuanya meskipun sudah hampir enam bulan menikah. Karena sekali pun Arkan tidak pernah membawanya ke sini.
"Kalian sudah sampai." Ririn menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan gembira.
Ririn memeluk Adira karena sudah hampir satu bulan tidak bertemu. Biasanya Ririn selalu datang berkunjung ke rumah Arkan untuk bertemu Adira.
"Selamat ulang tahun, Bu." ucap Adira setelah meleraikan pelukannya. Adira memberikan kado yang sudah di siapkan oleh Arkan kepada ibu mertuanya. Entah apa isinya, Adira bahkan tidak tahu.
"Terima kasih, nak. Tidak perlu repot-repot bawa kado." balas Ririn masih dihiasi dengan senyuman di wajahnya.
Mereka lalu berjalan menuju ke ruang makan, Raka sudah meninggu di sana.
"Selamat malam, ayah." sapa Adira kepada ayah mertua yang sangat jarang ia bertemu.
Mereka pun mulai makan malam. Sejak dulu Ririn dan Raka memang tidak pernah mengadakan pesta untuk merayakan hari ulang tahun. Setelah makan malam Arkan dan Raka berbicara berdua. Yang tidak lain membahas tentang bisnis dan perusahaan. Sedangkan Ririn membawa Adira untuk berkeliling di dalam rumah yang cukup besar.
Setelah menunjukkan beberapa ruangan, kini Ririn mengajak Adira masuk ke dalam kamar Arkan.
"Adira, ini kamar Arkan."
Adira menelisik ruangan kamar suaminya. Tak jauh berbeda dari kamar Arkan yang ada di rumah yang mereka tempati sekarang. Ruangan yang cukup besar yang hanya di isi oleh sedikit perabotan. Karena tidak terlalu suka dengan ruangan yang penuh dengan perabotan.
"Kau istirahatlah dulu di sini. Ibu akan meminta Arkan untuk menginap di sini." kata Ririn yang ingin langsung menuju pintu keluar.
"Tapi Bu, kami tidak membawa baju ganti." Adira menolak secara halus permintaan ibu mertuanya.
"Tenang saja. Ibu sudah menyiapkan baju untuk mu. Ada di lemari itu dan baju-baju milik Arkan juga masih ada yang tertinggal di sini." balas Ririn yang membuat Adira tidak punya alasan lagi untuk mengelak.
Adira memilih duduk di sofa setelah ibu mertuanya keluar. Padahal ia ingin sekali berbaring di kasur, tapi tidak berani. Mata Adira kemudian kembali menyapu seluruh ruangan kamar milik suaminya. Tapi apa yang ingin ia lihat tidak ada. Sejak di ruangan bawah tadi juga ia sudah mencari-cari sesuatu yang membuatnya penasaran tapi juga tidak ada.
__ADS_1
Huh.
Adira membuang napasnya kasar. Lalu ia bersandar di sofa sambil memejamkan mata. Adira kembali membuka matanya saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka.