Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Dia Lebih Sempurna


__ADS_3

Setelah memastikan Adira benar-benar tidur dengan nyenyak, Arkan melepaskan kulit sintetis yang menempel di wajahnya dan menyimpannya di tempat yang aman. Arkan kembali mematikan lampu tidur sehingga kamar kembali gelap.


Ya, selama ini Arkan menggunakan kulit sintetis untuk membuat luka bakar di wajahnya. Setelah kecelakaan yang dialaminya wajah Arkan benar-benar terbakar dan tunangannya langsung pergi setelah melihat melihat wajah Arkan yang jadi buruk rupa. Enam bulan setelah itu Arkan melakukan operasi pada wajahnya di luar negeri secara diam diam. Hanya kedua orang tua dan pelayan di rumahnya yang tahu.


Pagi harinya Adira terbangun dan tidak mendapati Arkan di sampingnya. Masih terlalu pagi. Matahari saja masih belum muncul. Adira lalu bangun dan mencuci mukanya. Ia akan menyiapkan sarapan seperti biasanya.


Sementara itu di dalam ruang olahraga, Arkan menambah kecepatan treadmill nya. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh Arkan. Beginilah aktivitas Arkan setiap pagi. Pria itu memang bangun pagi-pagi sekali dan berolahraga selama satu jam.


Setelah selesai memasak sarapan Adira kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Adira pikir Arkan sudah pergi. Jadi dengan santainya ia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Adira terkejut lagi-lagi melihat Arkan ada di dalam kamar. Ia menelan ludahnya kasar melihat tubuh six pack Arkan yang di penuhi bulir-bulir keringat. Terlihat sangat menggoda. Sepertinya pria itu baru selesai olahraga. Pikiran Adira mulai traveling ke mana-mana.


Adira menunduk menyembunyikan wajah meronanya. Dengan cepat ia mengambil pakaian di dalam lemari dan kembali ke kamar mandi tanpa peduli pada Arkan yang menatapnya dengan tatapan yang entahlah.


Selesai bersiap Adira lebih dulu ke luar kamar. Dari pada berdua bersama Arkan lebih baik ia membantu pelayan untuk menata sarapan di meja makan. Tak berapa lama kemudian Arkan turun dan seperti biasa Adira mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Aku akan pergi ke butik hari ini." bukan minta izin, Adira hanya menyampaikan kepada Arkan.


"Aku akan mengantar mu." kata Arkan di sela-sela makannya.


Adira membulatkan matanya mendengar perkataan Arkan. Yang benar saja dia mau mengantar ku. Batin Adira.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." tolak Adira.


"Kau lupa jika mobil mu tinggal di rumah orang tua mu ?" Arkan mengingatkan Adira. Pasalnya semalam Adira pulang bersama Arkan menggunakan mobil pria itu.


"Oh, iya. Aku lupa." jika Arkan tidak mengingatkan maka ia tidak ingat sama sekali saat ini mobilnya tidak ada di rumah.


"Bersiaplah." kata Arkan setelah menyelesaikan sarapannya.


"Iya, tunggu sebentar." Adira segera kembali ke kamar untuk mengambil tasnya.


Arkan mengantarkan Adira sampai di depan butik. Sepanjang perjalanan keduanya tidak saling bicara. Arkan selalu fokus dengan ponselnya. Sementara Adira hanya memperhatikan jalan yang mereka lalui.

__ADS_1


"Terima kasih." kata Adira melirik Hen, asisten Arkan sekaligus supirnya melalui kaca spion mobil.


"Sama-sama, nona." balas Hen.


Adira kemudian menoleh ke arah Arkan, tapi sedikit pun pria itu tidak bergeming dan masih fokus pada urusan sendiri.


"Sudah sampai. Aku keluar dulu." ucap Adira sekedar basa-basi kepada Arkan.


"Ya." Arkan menoleh sebentar.


"Pulang nanti aku jemput." lanjutnya lagi saat Adira mulai keluar dari mobil.


Adira mendengarnya tapi hanya menganggap sekilas perkataan Arkan. Lihat saja nanti sore, jika Arkan tidak menjemputnya ia akan pulang sendiri dengan menggunakan taksi online. Mengingat jam pulangnya yang lebih cepat dua jam dengan Arkan.


Di butik, Adira mulai di sibukkan dengan pekerjaannya sehingga tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat. Sore harinya Adira mulai bersiap-siap untuk pulang tiba-tiba saja pintu ruangannya di buka dengan kasar.


"Leo ?" ucap Adira ketika melihat siapa yang baru saja menerobos masuk ke dalam ruangannya.


" Tidak apa-apa. Pergilah." ucap Adira tidak marah kepada stafnya karena Adira tahu bagai mana Leo yang pasti akan tetap memaksa masuk sekali pun sudah sering kali di larang.


Adira membuang napas kasar melihat kedatangan mantan kekasihnya yang keras kepala itu.


"Mau apa lagi kau ke sini ?" tanya Adira ketus.


"Aku hanya ingin menemui mu." jawab Leo jujur. Ia memang tidak ada keperluan lain selain hanya ingin melihat Adira saja.


"Aku sudah katakan, berhenti menemui ku. Aku tidak ingin membuat suami ku salah paham."


"Adira, aku tahu kau tidak mencintai pria itu. Kau pasti tidak bahagia dengan pernikahan mu. Pernikahan tanpa cinta hanya akan membuat mu tersiksa." kata Leo yang sudah merasakan bagaimana rasanya menikah dengan orang yang tidak di cintai.


"Kau salah !" Adira membantah perkataan Leo.

__ADS_1


"Aku sangat bahagia dengan pernikahan ku. Kami hidup bahagia dan saling mencintai." bohong Adira yang ingin terlihat baik-baik saja di depan Leo dan ingin lebih bahagia dari pada mantan kekasihnya itu.


"Jangan bohong Adira. Pria itu bahkan tidak pernah mengajak mu untuk makan malam romantis dan menghabiskan waktu bersama mu karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya." diam-diam Leo selalu memperhatikan kehidupan Adira.


"Ayolah Adira kembali bersama ku dan tinggalkan suami mu yang buruk rupa itu. Dia.."


"CUKUP !" Adira menggebrak meja kerjanya, membentak Leo dengan suara keras. Mungkin karyawannya di luar bisa mendengar suara Adira.


"Jangan pernah kau menghina suami ku. Dia jauh lebih sempurna dari mu. Tak ada satu pun kekurangan yang ada padanya. Dia sangat menyayangi ku dan yang pastinya tidak akan pernah selingkuh seperti mu." bela Adira.


Entah mengapa Adira paling tidak suka jika ada orang yang membanding-bandingkan atau menghina seseorang apa lagi menghina suaminya sendiri.


"Jangan jadi munafik Adira. Kau pasti merasa jijik melihat wajah pria itu."


Adira ingin membalas perkataan Leo tapi sebelum mulutnya berucap pintu ruangannya kembali terbuka. Arkan sejak tadi berdiri di balik pintu dan mendengar semua pembicaraan antara Adira dan Leo. Adira terkejut dengan kedatangan Arkan yang tiba-tiba. Takut jika Arkan mendengar apa yang di katakan oleh Leo tadi dan membuat Arkan sakit hati.


"A Arkan." sapa Adira yang merasa takut dalam hatinya.


Tapi itu hanya sesaat karena tiba-tiba muncul ide gila di otak Adira.


"Sayang, kau sudah sampai ?" Adira menampilkan senyum bahagia. Berjalan mendekat kepada Arkan yang masih berdiri di depan pintu.


Cup.


Adira mencium pipi kanan Arkan yang tertutup masker. Tidak hanya Arkan, Adira saja terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Jika berakting jangan tanggung-tangung. Batin Adira. Kemudian Adira melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh Arkan dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu seolah-olah ia sangat merindukan suaminya.


"Aku kangen, sayang." kata Adira manja.


Adira tidak peduli Leo yang masih ada di sana. Karena itu lah tujuan dia menunjukkan adegan mesra bersama Arkan agar Leo melihatnya sendiri jika ia benar-benar hidup bahagia bersama Arkan.


Arkan mengepalkan tangannya. Tidak suka dengan apa yang di lakukan oleh Adira yang sudah berani-beraninya mencium dan memeluknya.

__ADS_1


"Ayo pulang."


__ADS_2