Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Adira Pulang


__ADS_3

Adira hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaan papanya. Biasanya hanya Ririn dan Nia saja yang berusaha untuk membujuk Adira. Tapi kali ini Abizar yang bersuara. Meskipun Abizar selalu terlihat tenang tapi ia juga memiliki sikap yang tegas.


"Bicaralah dulu dengan Arkan dengan kepala dingin. Jika memang dia salah, kami tidak akan melarang mu untuk berpisah." Abizar memberikan nasihat kepada Adira.


"Membiarkan masalah berlarut-larut seperti ini tetap tidak akan menyelesaikan masalah." kata Abizar bijak.


"Sekarang ikutlah pulang bersama mama dan papa. Kau boleh tinggal bersama kami untuk sementara waktu sampai kalian mendapatkan keputusan tentang rumah tangga kalian." lanjut Abizar lagi.


Mendengar perkataan papanya yang panjang lebar itu membuat Adira hanya mampu menurutinya dan malam itu juga Adira ikut pulang bersama ke dua orang tuanya.


Begitu tiba di Jakarta, Adira tidak langsung menemui Arkan ke rumah sakit. Nia menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu malam ini dan besok pagi baru pergi ke rumah sakit. Adira juga tidak pulang ke rumahnya, melainkan ke rumah kedua orang tuanya.


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Ririn datang ke rumah Nia untuk bertemu dengan Adira. Ririn sangat bahagia akhirnya Adira kembali pulang.


Kabar kepulangan Adira pun tidak luput dari orang-orang suruhan Arkan. Pagi itu, Hen datang dengan tergesa-gesa untuk menemui tuanya. Arkan masih terbaring lemah di ruang rawatnya, sarapan pagi yang di antarkan oleh perawat setengah jam yang lalu masih utuh. Sedikit pun belum ia sentuh. Sejak Adira pergi ia tidak begitu berselera makan, apa lagi di tambah dengan keadaannya yang sakit seperti ini.


"Kapan aku bisa keluar dari sini ?" tanya Arkan begitu melihat asistennya datang. Belum sampai dua puluh empat jam di rawat, Arkan sudah merasa bosan.

__ADS_1


"Kata dokter, tergantung kondisi tubuh anda. Jika sudah membaik dokter akan mengizinkan pulang. Sebaiknya anda sarapan dulu." jawab sang asisten sekaligus memberi saran.


"Aku tidak berselera makan." kata Arkan melengos ke arah jendela kaca. Ia sangat merindukan rasa masakan Adira.


"Anda harus makan tuan." kata Hen sedikit memaksa.


Sang asisten pun mengambil napan yang berisi makanan dan meletakkan di depan Arkan. Mau tidak mau Arkan menurut. Ia pun mulai memakan bubur meskipun hanya beberapa suap.


Melihat Tuannya sudah selesai makan, Hen pun mulai memberikan laporan. Laporan pertama yang ia sampaikan tentu saja tentang nona Adira yang sudah pulang dan saat ini sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Arkan begitu terkesiap mendengar laporan dari Hen.


Dengan tubuh bergetar Arkan mencoba turun dari tempat tidur dan mencabut jarum infus di tangannya.


"Minggir aku mau keluar." Arkan berontak ingin melepaskan lengannya yang di tahan oleh Hen.


"Tapi kondisi tubuh anda masih lemah." cegah Hen.


"Lepaskan aku. Aku ingin menemui istri ku." Arkan menyentak kuat tangannya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya sehingga mau tidak mau Hen terpaksa melepaskan lengan Arkan.

__ADS_1


"Tuan.. "


"Jangan halangi aku." Arkan memotong perkataan sang asisten.


Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Adira. Ia ingin meminta maaf dan mengakui kesalahannya yang telah membiarkan wanita lain menyentuhnya.


"Aku harus bertemu Adira sekarang !" suara Arkan tegas seperti biasa. Tapi tidak dengan tubuhnya yang tampak bergetar saat berdiri.


Dengan tertatih Arkan berjalan menuju pintu kamar ruang rawat inapnya. Jika bisa, Arkan ingin berlari sekencang-kencangnya menuju ke rumah orang tua Adira. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dan memeluk sang istri yang sudah lima bulan ini meninggalkannya.


Akhirnya Arkan berhasil mencapai pintu kamar dan segera keluar dari sana. Arkan semakin mempercepat langkahnya menyusuri lorong koridor rumah sakit menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai bawah. Semangatnya Arkan untuk bertemu Adira mengalahkan rasa sakit dan pusing yang ia rasakan saat ini.


Tiba-tiba Arkan berhenti berjalan. Tubuhnya hampir saja terjatuh ke lantai jika Hen tidak sigap menahannya dari belakang.


"Tuan."


\=\=\=\=

__ADS_1


Jika ingin tahu bagaimana sifat papa Abizar yang tenang dan juga tegas silahkan baca di novel author yang berjudul PERNIKAHAN RAHASIA ya✌️


__ADS_2