Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Ketiadaan Adira membuat Arkan begitu galau. Dan galaunya Arkan sangat berdampak positif pada perusahaan. Karena Arkan akan bekerja lebih dari lima belas jam sehari untuk mengalihkan kesedihannya tentang kehilangan sang istri. Usaha untuk mencari Adira pun terus di lakukan tiada henti. Tapi sampai saat ini kabar tentang Adira pun tidak bisa di ditemukan. Wanita itu tiba-tiba hilang bak di telan bumi.


Arkan juga tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan pada kedua orang tua dan mertuanya. Meskipun ia sudah menyuruh orang untuk mengawasi mereka. Padahal, Ibu Ririn dan mama Nia sudah beberapa kali pergi mengunjungi Adira di pulau. Tentunya hal ini tidak lepas dari campur tangan sang Ayah, Raka Wiratama.


Selama ini Raka lah yang sudah memanipulasi dan mengecoh orang suruhan Arkan yang mengikuti Ririn dan Nia ketika kedua wanita itu akan pergi menemui Adira.


Ririn dan Raka berjalan tergesa-gesa menuju ke ruangan UGD di salah satu Rumah Sakit milik Wiratama Grup. Mereka baru saja mendapatkan kabar dari Hen, tentang Arkan yang tiba-tiba jatuh pingsan saat sedang rapat.


"Arkan kenapa dokter ?" tanya Ririn pada Dokter yang memeriksa putranya.


"Tuan Arkan mengalami dehidrasi berat dan kelelahan akibat kurang tidur dan istirahat." terang dokter.


Stres dan banyak beban pikiran juga memperburuk kesehatan Arkan selama beberapa bulan terakhir.


"Hen ?" tatapan tajam Ririn kepada asisten Arkan itu mengisyaratkan agar Hen menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Arkan.

__ADS_1


Hen menghela napas panjang sebelum ia menceritakan tentang keadaan Arkan sehingga membuatnya drop dan masuk rumah sakit.


Triing


Triing


Dua buah pesan masuk di ponsel milik Adira. Ia berhenti sejenak dari menggambar desain untuk melihat pesan yang baru masuk itu. Ririn mengirim foto Arkan yang sedang terbaring di brangkar rumah sakit dengan tangan yang terpasang infus.


Dan satu pesan lagi yang merupakan video Hen yang sedang menceritakan tentang keadaan Arkan sehingga Arkan jatuh pingsan dan masuk rumah sakit.


Adira memejamkan mata sambil merasakan hatinya yang sedang entah merasa apa. Adira begitu sedih melihat keadaan Arkan saat ini. Apa lagi ketika mendengarkan cerita dari Hen. Rasanya ia ingin berlari memeluk erat tubuh suaminya yang sedang terbaring lemah itu. Tapi lagi-lagi bayangan Arkan yang sedang berpelukan dengan Sera, membuat langkah Adira terkunci di pulau ini. Dia masih belum mau bertemu dengan Arkan.


"Nona, anda kenapa ?" tanya seorang pelayan cemas melihat Adira bernapas termegah-mengah.


Adira membuang napas beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan pelayan itu.

__ADS_1


"Aku, tidak apa-apa." jawab Adira sambil mengusap-ngusap perutnya.


Kondisi perutnya yang besar dan berat itu mungkin menyebabkan ia sulit untuk berjalan.


"Jika nona butuh sesuatu, panggil saja saya." kata pelayan itu lagi. Karena itu memang tugasnya, melayani nona muda Wiratama.


"Aku cuma mau ambil air minum. Lagi pula kata dokter aku harus banyak bergerak biar sehat." balas Adira.


*


Beberapa jam kemudian, sebuah helikopter mendarat di halaman belakang villa. Mama Nia bersama papa Abizar datang. Mereka sengaja ke sini untuk melihat keadaan Adira. Mereka takut berita tentang Arkan akan mempengaruhi kesehatan dan kehamilan Adira.


"Sayang, apa kau baik-baik saja ?" Adira mengangguk sambil menarik sudut bibirnya. Terlihat jika ia senyum dipaksakan.


Selain untuk melihat keadaan Adira, Nia dan Abizar juga ingin membujuk anak perempuannya untuk kembali.

__ADS_1


"Kau tidak mau melihat Arkan yang sedang sakit ?" tanya Abizar saat mereka sudah masuk ke dalam villa dan duduk di ruang tengah.


Meskipun Abizar sudah tahu permasalahan rumah tangga Adira dan Arkan, tapi ia tidak menyalahkan atau juga membenarkan Arkan. Ia tahu betul bagai mana sifat putrinya ini. Jika sudah merasa kecewa pada seseorang, bertemu dengan orang itu pun Adira tidak mau. Apa lagi untuk berbicara dengannya.


__ADS_2