
Dasar orang-orang sialan!" Bela memaki para pria berseragam yang sudah pergi menjauh.
"Ini pasti gara-gara kalian ?" Bela menatap marah ketiga temannya yang di usir tadi. Begitulah Bela, dia selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padanya.
"Nesa apa yang terjadi ? mengapa orang-orang itu mengusir kalian dan merusak ponsel kita ?" tanya Sera ingin tahu.
Nesa pun menceritakan tentang ia yang telah ketahuan mengambil foto Arkan dan Adira secara diam-diam. Karena itulah mereka jadi di usir dan ponsel mereka di rusak sebab sudah mengirimkan fotonya ke grup chat.
"Keterlaluan sekali. Hanya karena mereka orang kaya bisa berbuat seenaknya kepada kita." umpat Bela dengan marah setelah ia mengetahui jika teman-temannya di usir hanya karena Adira sedang berada di dalam mall tersebut.
"Bukankah sudah aku katakan, mereka tidak bisa kita sentuh. Sebaiknya kita pergi dan menjauh dari mereka." sekarang Sera sudah pasrah karena bagaimanapun ia sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Arkan. Jangankan menemui Arkan, untuk mendekatinya saja tidak bisa.
"Iya, ayo Bel kita pergi dari sini." ajak temannya yang lain.
Meskipun tidak puas hati, tapi Bela tetap ikut pergi bersama teman-temannya seraya masih memikirkan bagaimana caranya untuk membalas Adira.
"Sudahlah, Bel. Buang jauh-jauh pikiran untuk menghancurkan wanita itu jika kau masih mau hidup."
__ADS_1
Bela hanya mendengus mendengar nasehat yang di berikan oleh Sera. Bela menganggap remeh dengan apa yang di katakan oleh Sera. Mungkin karena Bela sendiri belum pernah berurusan langsung dengan Arkan. Jadi dia tidak tahu bagaimana berkuasanya seorang Arkan Wiratama. Pria itu bisa melakukan apa saja yang dia mau. Begitu dunia mengenalnya.
Sementara itu Arkan menarik sudut bibirnya membaca laporan dari ketua tim pengawal. Mereka baru saja mengusir beberapa orang wanita temannya Sera dan Bela.
Setelah selesai makan siang, Adira langsung mengajak Arkan pulang. Rencana untuk melanjutkan kegiatan belanjanya pun di tunda besok. Karena hari ini rasanya Adira begitu mengantuk dan ingin pulang untuk tidur di rumah. Arkan tersenyum mendengar ajakan sang istri yang ingin pulang. Tapi beberapa detik kemudian senyum itu menghilang ketika mengingat besok Adira akan pergi berbelanja lagi dan pastinya dia harus ikut.
Arkan meraup wajahnya frustasi melihat kelakuan wanita yang tengah mengandung anaknya itu. Tapi saat dia menoleh ke samping, ke arah wanita yang sedang berjalan sambil merangkul lengannya itu seketika rasa lelah dan kesalnya pun langsung hilang karena melihat wajah Adira tampak bahagia sekali.
Tidak apa-apa jika Adira menjadi cerewet dan selalu menyusahkannya. Asalkan wanita itu selalu berada di sampingnya. Lebih baik seperti itu dari pada ia harus kehilangan sang istri yang hampir membuatnya gila seperti waktu itu. Arkan tiba-tiba mencium kening Adira yang membuat wanita itu terkejut. Adira mengangkat wajahnya melihat sang suami yang juga tengah tersenyum menatapnya dengan tatapan sayang.
"Aku juga sangat mencintai mu, suami buruk rupa ku." balas Adira sambil terkekeh mengingat bagaimana ia bisa menikah dan jatuh cinta dengan pria buruk rupa yang ternyata sangat tampan.
Saat ini mereka sudah sampai di depan pintu mall, di mana Hen sudah membuka pintu mobil untuk tuan dan nyonya nya. Tapi ke dua orang itu masih berdiri di tempat sambil menunjukkan kemesraan mereka.
Mendengar Adira mengatakan ia si buruk rupa membuat Arkan merasa gemas dengan wanita hamil itu. Arkan pun segera mengikis jarak untuk mencium istrinya, namun dengan cepat Adira menahan wajah Arkan.
"Jangan di sini. Aku malu." Adira sadar saat ini mereka sedang di tempat umum.
__ADS_1
Meskipun tidak ramai orang yang berlalu lalang di sana. Bahkan sejak tadi Adira merasa orang-orang sangat berjarak dengan mereka. Apakah karena hari ini pengunjung mall sedang sepi atau apa. Yang jelas Adira tidak tahu jika mereka di jaga oleh puluhan orang -orang suruhan Arkan.
"Sayang sedikit saja." Arkan masih ingin mencium Adira dan Adira menggeleng tanda menolak.
"Aku mohon, sayang. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemani mu hari ini."
Mendengar itu Adira langsung mencium bibir Arkan dan mengecupnya sekilas. Lalu melepaskannya.
"Sudah. Kan mintanya sedikit." kata Adira dengan senyum yang tak lepas dari wajah cantiknya.
"Hem, tapi lanjut di rumah ya." Arkan mencuri ciuman di pipi Adira. Kemudian menuntun sang istri masuk ke dalam mobil.
Jauh di seberang jalan sana, seorang pria yang sedang duduk di dalam mobil, melepas kaca mata hitamnya untuk mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mata. Ia tidak tahu apakah menangis karena sedih atau karena bahagia, saat melihat wanita yang ia cintai kini bahagia dengan pria lain. Kini ia benar-benar harus ikhlas untuk melepaskan dan melupakan wanita yang ia cintai itu. Pria itu lalu menghidupkan kembali mobilnya dan berlalu pergi. Pergi bersama rasa cintanya untuk Adira.
Baik Leo maupun Sera sadar jika kini mantan kekasih mereka sama-sama sudah bahagia dan tidak ada lagi tempat untuk mereka kembali.
\=\=\=\=\=TAMAT\=\=\=\=\=
__ADS_1