Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Belanja Ibu Hamil


__ADS_3

Memasuki usia tujuh bulanan kandungan, Adira mengajak Arkan untuk pergi berbelanja perlengkapan bayi. Sebenarnya Arkan bisa dengan mudah untuk menyuruh orang menyiapkan semuanya karena tidak ingin membuat Adira kecapean, tapi Adira tetap kekeuh ingin memilih dan membelinya dengan tangan sendiri. Adira juga ingin Arkan menemaninya.


"Sayang, apa kau tidak lelah ?" tanya Arkan untuk yang kesekian kalinya.


Ia sangat khawatir dengan kondisi sang istri yang berjalan dengan perut besarnya itu. Sudah satu jam mereka berkeliling di mall.


"Tidak, sayang. Masih banyak yang harus di beli." jawab Adira yang masih sibuk memilih baju-baju bayi tanpa mengalihkan pandangannya pada sang suami.


Apa ? masih banyak katanya ? Arkan hanya bisa mengatakan dalam hati. Karena jika sampai Adira mendengar ia mengatakan itu, maka sudah bisa di pastikan Adira akan menangis dan merajuk sampai berhari-hari.


Arkan menghela napasnya melihat belanjaan Adira yang sudah memenuhi kedua tangannya. Itupun sudah dua kali Arkan menyuruh seorang pengawal untuk mengantarkan belanjaan Adira sebelumnya ke mobil.


Setelah puas memilih-milih Adira membawa pakaian bayi yang ingin di belinya ke kasir dan Arkan yang harus membayarnya. Kini bertambah lagi empat paper bag di tangan Arkan.


"Sayang, kita makan dulu ya. Kasihan bayi kita pasti sudah lapar ." pinta Arkan dengan nada memelas untuk membujuk Adira agar mau beristirahat sejenak.


Sungguh ia benar-benar sangat mencemaskan Adira dan bayi yang ada di dalam kandungan sang istri. Arkan tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka. Mendengar kata bayi kita yang di katakan oleh Arkan membuat Adira menurut dengan permintaan sang suami. Ia pun tidak ingin bayinya kelaparan. Meskipun ia belum merasa lapar sama sekali.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kita makan di sana." Adira menunjuk salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut.


Rencananya setelah makan, Adira ingin melanjutkan lagi belanjaannya untuk membeli produk bayi seperti shampoo, sabun, popok, minyak telon, bedak, dan lain sebagainya.


Arkan memanggil salah satu pengawal yang sejak tadi mengawasi mereka dari jarak aman. Kemudian ia menyerahkan belanjaan di tangannya untuk di bawa ke mobil. Sejak mereka keluar dari rumah tadi Arkan sudah menugaskan lebih dari sepuluh orang pengawal untuk menjaga ia dan juga Adira. Arkan tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi. Baik pada dirinya maupun pada Adira. Selain menjaga keselamatan, para pengawal juga harus menjauhkan Arkan dan Adira dari orang-orang masa lalu mereka. Terutama Sera dan Leo.


Tidak hanya hari ini, Arkan sudah memberikan tugas ini sejak dua bulan lalu. Sejak Adira kembali ke padanya. Meskipun Arkan sudah tahu jika Adira sebenarnya tidak di culik, melainkan sengaja di sembunyikan oleh ibunya, Ririn. Tapi, tetap saja Arkan tidak akan mengizinkan Adira untuk di bawa pergi darinya oleh siapapun itu. Bisa-bisa ia akan jadi gila jika berpisah dengan sang istri dan anaknya.


Sementara itu dua orang wanita tampak kesal karena tidak di izinkan masuk ke sebuah mall. Padahal mereka ingin berbelanja sekaligus berkumpul bersama teman-teman mereka di sebuah cafe yang ada di dalam mall tersebut.


"Pak, mengapa mereka di izinkan masuk, sementara kami tidak ?" Bela bertanya sekaligus protes kepada dua orang scurity yang ada di pintu masuk mall.


"Memangnya ada apa sih di dalam sana ?" Sera hanya menjawab dengan mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


Ditengah kekesalan dua wanita itu, tiba-tiba ponsel Bela berdering. Salah seorang temannya menelpon.


"Bela, kalian di mana ? mengapa belum tiba ?" tanyanya begitu Bela mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Kita sudah nih di mall, tapi tidak di izinkan masuk."


"Hah ?" teman Bela terkejut mendengar jika Bela dan Sera tidak di izinkan masuk.


"Kalian tidak pernah berbuat kriminal kan ?" tanya temannya Bela.


"Ya, tidaklah. Memangnya kita ini orang jahat. Sembarangan nuduh orang." kata Bela kesal.


"OMG !" suara terkejut teman Bela terdengar jelas dari seberang sana. Kemudian panggilan itu terputus begitu saja.


"Halo Nes, Nesa. Nesa !" panggil Bela setengah frustasi setelah panggilan terputus.


Belum hilang kekesalannya kepada scurity mall, kini bertambah kesal karena temannya tiba-tiba memutuskan panggilan sepihak. Beberapa saat kemudian masuk sebuah pesan bergambar di grup chat bersama teman-temannya. Bela dan Sera pun segera membuka pesan itu dan ingin melihat gambar apa yang baru saja di kirimkan oleh Nesa.


\=\=\=\=\=\=\=


Halo, readers tersayang. Terima kasih sudah setia membaca karya author yang amatiran ini. Sebentar lagi novel Adira dan Arkan akan segera tamat ya dan silahkan baca karya author berikutnya.

__ADS_1


Sekarang kalian sudah boleh masuk grup chat author ya, GSlover. Biar kita bisa saling menyapa.


Mohon dukungan dan komentarnya agar author bisa lebih baik lagi dalam berkarya 🤪


__ADS_2