
Setelah jam makan siang Arkan kembali ke kantornya. Sedangkan Adira di temani oleh mama Nia. Menjelang sore hari, karyawan butik datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adira. Ruangan yang tadinya cukup ramai oleh suara Meta dan kawan-kawan kini mendadak sepi saat Arkan masuk. Semua karyawan menunduk hormat kepada suami dari bos mereka.
"Sudah sore, nona. Kami ingin permisi pulang." kata salah satu karyawan wanita mewakili teman-temannya.
"Iya. Terima kasih sudah datang." balas Adira.
"Sama-sama. Semoga nona lekas sembuh." do'a mereka sebelum keluar dari ruangan kamar rawat Adira.
Arkan berjalan mendekati Adira yang sedang duduk di tempat tidur. Lagi-lagi Arkan membuat Adira terkejut dengan sikap manis yang di lakukan oleh pria itu. Arkan mengambil tangan kanan Adira dengan hati-hati dan menciumnya di atas panggung tangan yang di perban itu.
"Bagai mana kabar mu ? apa masih ada yang sakit ?" tanya Arkan lembut.
"Hanya kaki ku yang masih sakit." Adira melihat ke arah kaki kanannya yang di perban.
"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit ?" tanya Adira lagi.
Baru satu hari di rawat di rumah sakit, Adira sudah merasa bosan karena ia tidak bisa bergerak ke mana-mana. Hanya berbaring di tempat tidur saja.
"Tunggu sampai kaki mu pulih." jawab Arkan sambil memainkan jari jari tangan kiri Adira.
"Ck, tapi aku bosan di sini terus." kata Adira kesal dengan memanyunkan bibirnya.
Arkan menghela napasnya melihat tingkah Adira yang seperti anak kecil.
"Baiklah. Jadi kau ingin apa ?" tanya Arkan yang ingin menyenangkan sang istri.
"Aku ingin pulang." jawab Adira melihat Arkan dengan tatapan memohon.
"Ok. Aku akan menanyakan kepada dokter terlebih dahulu. Tapi jika dokter mengatakan kau belum diperbolehkan pulang maka kau harus menurut." terang Arkan.
__ADS_1
Dan sore itu juga Arkan membawa Adira pulang ke rumah setelah mendapatkan izin dari dokter. Arkan juga telah memberi tahukan kepada ke dua orang tua mereka.
Begitu sampai di rumah Arkan langsung menggendong tubuh Adira dan membawanya masuk ke dalam kamar. Arkan meletakkan tubuh sang istri di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
"Jika kau ingin apa-apa katakan pada ku. Kau jangan terlalu banyak bergerak. Apa lagi menggunakannya kaki mu." pesan Arkan.
Kenapa dia jadi cerewet sekali. Biasanya hanya cuek dan irit bicara. Batin Adira yang bingung melihat perubahan sikap Arkan.
Apa dia mengalami geger otak ya setelah kecelakaan ? Adira tersenyum sendiri dengan pemikirannya.
"Kau pasti mengatai ku ?" suara Arkan tiba-tiba membuyarkan lamunan Adira.
"Ti-tidak. Aku sedang tidak mengatai mu." elak Adira.
Arkan tidak membalas perkataan Adira. Tapi pria itu malah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sehingga membuat Adira salah tingkah.
Ehmmm, ehmmm
"Boleh tolong ambilkan air itu ?" pinta Adira dengan hati-hati dan tanpa bertanya apa pun Arkan mengambilkan segelas air putih yang ada di nakas dan memberikannya kepada Adira.
Adira segera meminum air tersebut sehingga habis meskipun dengan susah payah.
"Terima kasih." Adira menyerahkan gelas yang sudah kosong kepada Arkan.
"Sekarang istirahatlah. Aku akan keluar sebentar." kata Arkan sambil meletakkan kembali gelas itu ke tempat semula.
Arkan membantu Adira untuk berbaring dengan nyaman sebelum ia keluar dari kamar. Dan karena mengantuk, dalam sekejap Adira pun terlelap.
Entah sudah berapa lama Adira tertidur, saat ia sadar hari sudah mulai malam. Adira melihat Arkan tengah duduk di sofa. Sepertinya pria itu sedang bekerja melihat beberapa berkas di depannya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun ?" tanya Arkan menghentikan pekerjaannya sejenak.
Adira mengangguk menjawab pertanyaan suaminya.
"Sekarang waktunya untuk makan malam." kata Arkan sambil berjalan mendekat ke tempat tidur dan mengambil napan yang berisi makanan di meja nakas.
"Emm, aku ingin mandi dulu. Badan ku rasanya lengket semua." pinta Adira yang merasa sangat tidak nyaman karena sudah hampir dua hari tidak mandi.
Mendengar perkataan Adira, Arkan segera mengangkat tubuh sang istri membawanya ke kamar mandi dan dengan hati-hati meletakkannya ke dalam bathtub. Arkan ingin membantu Adira untuk melepaskan pakaian wanita itu tapi Adira menolak.
"Aku bisa sendiri. Kau tunggu saja di luar."
Rasanya sangat malu jika sampai Arkan membantunya untuk mandi juga.
"Kaki mu tidak boleh bergerak. Bagai mana kau akan melakukannya sendiri." kata Arkan yang tetap ingin membantu Adira mandi.
"Tapi, aku malu." akhirnya Adira mengatakan alasan yang sebenarnya.
"Untuk apa malu pada ku ? Kau istri ku. Tidak ada salah dan dosa jika aku melihat tubuh mu." kata Arkan yang tidak mau di bantah.
Arkan melanjutkan pergerakan tangannya untuk membuka pakaian Adira dan membantu wanita itu untuk mandi hingga selesai. Arkan bahkan membantu Adira untuk memakaikan baju sang istri setelah selesai mandi. Adira hanya mampu menghela napasnya menerima semua perlakuan Arkan padanya meskipun ia sangat malu setengah mati. Tapi ia juga sangat membutuhkan bantuan itu.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Arkan memanggil seorang perawat masuk ke dalam kamar untuk merawat luka di tangan Adira dan juga mengganti perban di tangan dan kakinya. Setelah selesai dengan tugasnya, perawat itu keluar dari kamar. Adira memperhatikan perawat wanita yang cantik itu sampai pintu kamar tertutup. Sejak kapan Arkan mempekerjakan perawat di rumah ini. Tanya Adira dalam hati.
Apa dia juga yang merawat luka di tangan Arkan ? batin Adira. Tiba-tiba saja dada Adira terasa sesak dengan pemikirannya sendiri.
"Buka mulut mu."
Suara Arkan mengalihkan perhatian Adira dari menatap pintu kamar. Adira segera membuka mulut menerima suapan dari Arkan. Adira ingin sekali menanyakan kepada Arkan apakah perawat wanita itu juga yang merawat luka di tangan Arkan dan mengganti perbannya. Tapi Adira takut untuk mendengar jawaban Arkan. Bagaimana jika jawabannya 'iya'.
__ADS_1
Adira begitu larut dengan pikirannya sehingga tidak sadar jika ia sudah menghabiskan makanannya. Adira bahkan tidak sadar jika tadi Arkan juga memakan makanan di piring yang sama dengannya.