
Adira menelpon Arkan, panggilannya tersambung tapi tidak di angkat dan Adira mencoba beberapa kali lagi tetap sama
Arkan tidak menjawab panggilan darinya.
Arkan merasakan getaran ponsel di sakunya yang membuat pria itu tersenyum. Tapi di mata Adira senyum itu terlihat seperti sebuah seringaian licik.
"Suami mu tidak akan bisa menjawab panggilan itu karena .." Arkan menggantungkan kalimatnya sehingga membuat Adira curiga.
"Karena apa ? Apa yang kau lakukan pada suami ku ? di mana dia sekarang, hah ?" tanya Adira sedikit berteriak karena ia takut Arkan di apa-apakan oleh pria asing ini.
"Tenanglah. Suami mu akan baik-baik saja jika kau mau melayani ku malam ini." Arkan mengulur tangannya untuk menggapai wajah Adira yang sangat cantik malam ini.
Tapi belum sempat tangan itu menyentuh kulit mulus Adira, wanita itu lebih dulu menepisnya dengan kasar.
"Dasar brengseg ! Aku tidak sudi di sentuh oleh badji-ngan seperti mu." meskipun merasa takut tapi Adira berusaha untuk melawan. Ia tidak mau di sentuh oleh pria lain selain dari suaminya.
"Ck, kau menolak ku ? bukankah aku lebih tampan dari suami mu. Apa kau tidak jijik di sentuh oleh suami mu yang wajahnya begitu menakutkan seperti monster ?"
"Tidak. Aku mencintai suami ku. Hanya dia yang berhak untuk menyentuh ku." jawab Adira tegas.
Hati Arkan berbunga-bunga ketika mendengar perkataan Adira. Rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera mengukung tubuh indah wanita di depannya ini.
Arkan sedikit menunduk untuk menyembunyikan senyum senang wajahnya yang tampan itu. Melihat itu Adira segera mengambil kesempatan untuk berlari menuju pintu kamar melarikan diri.
Baru saja tangan Adira mencapai gagang pintu, Arkan langsung memeluk tubuhnya dari belakang.
"Jangan pergi." kata Arkan lembut berbisik tepat di telinga Adira.
"Lepaskan !" Adira memberontak ingin melepaskan diri.
__ADS_1
Sungguh Adira merasa jijik saat tubuhnya di peluk oleh pria lain yang bukan suaminya.
"Tenanglah, sayang. Ini aku." kata Arkan semakin mengeratkan pelukannya tak ingin melepaskan Adira.
"Lepaskan aku !" Adira semakin kuat memberontak saat Arkan memeluknya dengan erat.
Arkan memutar tubuh Adira agar wanita itu menghadap ke arahnya. Adira memukul-mukul dada Arkan dengan sekuat tenaga tapi sedikit pun Arkan tidak merasa sakit.
"Hei, tenanglah sayang. Ini aku, suami mu."
Adira langsung menghentikan tangannya mendengar perkataan Arkan yang terakhir. Ditatapnya dalam-dalam wajah pria tampan di depannya ini.
"Jangan bicara omong kosong. Sekarang lepaskan aku." Adira menolak tubuh Arkan untuk melepaskan diri. Mana mungkin ia percaya dengan perkataan pria asing itu. Siapa pun bisa mengaku-ngaku sebagai Arkan tanpa menunjukkan bukti.
"Aku tidak bohong. Lihat ini." Arkan menunjukkan cincin pernikahan mereka yang melingkar di jarinya.
"Dari mana kau mendapatkan itu ? Apa yang kau lakukan pada suami ku ?" Adira tidak langsung percaya begitu saja dan ia malah mulai terisak.
Mendadak Adira merasa cemas pada Arkan. Takut suaminya di bunuh oleh pria ini dan di ambil cincinnya. Air mata Adira mengalir begitu saja memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi.
"Mengapa menangis ?" Arkan mengusap air mata di pipi mulus sang istri.
"Di mana suami ku ? hiks hiks." tiba-tiba saja kaki Adira menjadi lemas dan jika saja Arkan tidak menahan tubuhnya pasti Adira sudah ambruk di lantai.
Seketika Arkan menjadi panik melihat Adira menangis dan hampir pingsan.
"Adira, maafkan aku." lirih Arkan yang menyadari jika mungkin ia sudah sangat terlalu mengerjai istrinya.
Arkan mengangkat tubuh Adira yang sudah tidak berdaya ke tempat tidur meskipun Adira masih memberontak di sisa-sisa tenaganya yang masih ada.
__ADS_1
"Di mana suami ku ?" hiks hiks hiks. tanya Adira dalam isak tangisnya.
"Aku di sini, sayang. Aku, Arkan Wiratama suami dari Adira Putri Abizar Putra." kata Arkan lembut untuk meyakinkan sang istri.
"Aku minta maaf karena sudah membuat mu takut." Arkan hanya mengelus kepala Adira untuk menenangkan.
Arkan tidak lagi memeluk Adira karena tidak ingin membuat sang istri ketakutan. Arkan memanggil Hen masuk ke dalam kamar untuk membantunya meyakinkan bahwa dirinya benar adalah Arkan.
"Tuan." sang Asisten memberi hormat.
"Kau boleh bertanya kepadanya tentang aku." kata Arkan kepada Adira.
Adira memandang Arkan dan Hen secara bergantian. Ingin melihat apakah mereka berdua bekerja sama untuk menipunya atau tidak.
"Silahkan bertanya apa pun, nona." kata Hen yang melihat nonanya masih ragu.
"A-apa benar dia Arkan, suami ku ?" tanya Adira memastikan.
"Benar, nona." jawab Hen singkat.
"Ta-tapi bagai mana bisa ? kau tidak sedang menipu ku kan ?" tanya Adira lagi.
Hen pun menjelaskan kepada istri tuanya tentang Arkan. Sang asisten juga menunjukkan kulit sintetis yang selama ini di pakai oleh Arkan. Setelah menjawab dan menjelaskan kepada Adira, Arkan menyuruh asistennya keluar.
Sekarang tinggallah Arkan dan Adira berdua di dalam kamar. Arkan tersenyum menatap wajah cantik sang istri. Arkan membuka kembali baju jas yang menutupi tubuh bagian depan Adira karena ia tidak ingin asistennya itu melihat tubuh sang istri.
Sementara itu Hen berjalan keluar meninggalkan hotel sambil menghela napasnya memikirkan tentang kelakuan tuanya hari ini. Dulu saja tuanya itu begitu cuek dan selalu memarahi istrinya. Tapi sekarang menjadi bucin setengah mati. Sampai-sampai harus melibatkannya untuk menjelaskan kepada nona Adira.
Seorang wanita yang sedang duduk di lobi hotel terus memperhatikan Hen dari sejak keluar dari lift hingga keluar dari hotel. Wanita itu semakin yakin jika pria yang ia lihat satu jam yang lalu tadi adalah benar Arkan. Bukan hanya mirip. Karena di mana ada Hen di situ pasti ada Arkan, asisten yang selalu setia dengan tuannya.
__ADS_1