Si Cantik & CEO Buruk Rupa

Si Cantik & CEO Buruk Rupa
Belum Memaafkan


__ADS_3

Adira menatap tajam pada Arkan yang sedang duduk di sebelahnya. Ia tidak tahu harus bagai mana. Apakah harus merasa bahagia atau sedih. Tapi hanya satu yang ia rasakan saat ini, yaitu marah. Ya, Adira sangat marah karena merasa Arkan sudah membohonginya selama ini.


"Maaf. Aku tidak bermaksud untuk membohongi mu." untuk kesekian kalinya Arkan mengucapkan kata maaf.


Arkan menggenggam tangan Adira meskipun Adira berkali-kali menariknya. Tapi berkali-kali juga Arkan mengambil tangan wanita itu.


"Tidak. Aku paling tidak suka jika di bohongi." kata Adira tegas.


Arkan menghela napasnya mendengar jawaban Adira. Arkan sanggup menurunkan egonya di hadapan Adira. Wanita ceroboh dan keras kepala yang sialnya wanita yang sangat tulus menerimanya.


"Kau pasti sudah tahu mengapa aku melakukan itu." Arkan yakin jika ibunya pasti sudah menceritakan tentang bagaimana masa lalunya kepada Adira.


"Tunangan ku pergi meninggalkan ku hanya karena takut melihat wajah ku yang buruk rupa. Wanita yang setiap harinya mengatakan cinta pada ku nyatanya tidak bisa menerima keadaan ku saat itu. Karena itu lah aku terus menjadi si buruk rupa untuk mencari wanita yang benar-benar tulus dan mau menerima ku dengan tidak memandang harta dan rupa." kata Arkan berterus terang.


"Kau tahu kecelakaan yang kita alami satu minggu yang lalu itu persis sama seperti kecelakaan yang aku alami dua tahun lalu."


Ya, kita kecelakaan karena kau mengejar mantan tunangan mu. Sungut Adira dalam hatinya mengingat kejadian satu minggu yang lalu.


"Saat itu aku juga masih terjebak di dalam mobil dan dia punya kesempatan untuk membantu menyelamatkan ku. Tapi dia tidak melakukannya." Arkan kembali mengingat masa lalu. Saat itu Sera hanya terduduk sambil melihatnya yang sedang kesusahan berusaha menyelamatkan diri keluar dari mobil.


"Tidak seperti mu yang sanggup membahayakan diri sendiri untuk membantu ku. Maaf, karena dulu aku meragukan ketulusan hati mu." Arkan mengecup bekas luka di telapak tangan kanan Adira. Bukti tanda ketulusan hati wanita itu padanya.


Sebenarnya Adira mengerti alasan mengapa Arkan melakukan itu. Adira juga merasa simpati dengan Arkan. Pasti saat itu Arkan mengalami masa-masa yang sangat berat. Tapi karena memang sifat Adira yang tidak suka jika di bohongi membuat wanita itu enggan menerima permintaan maaf dari Arkan.


Arkan menghembuskan napas berat. Ia sudah mengatakan semuanya kepada Adira. Arkan tidak ingin memaksa Adira untuk memaafkannya. Arkan takut jika Adira bertambah benci kepadanya dan malah pergi meninggalkannya. Arkan tidak akan pernah melepaskan wanita sebaik Adira.


Adira hanya diam mendengarkan apa yang Arkan sampaikan. Adira tidak membalas atau berkomentar apapun.

__ADS_1


"Kau pasti belum makan malam. Aku akan memesan makanan. Kita akan makan malam di sini." kata Arkan mengalihkan topik pembicaraan.


Adira beranjak ingin mengganti pakaiannya yang sangat tidak nyaman ini dengan baju yang ia pakai dari rumah tadi. Tapi belum sempat ia melangkah jauh, tangannya lebih dulu di tahan oleh Arkan.


"Mau ke mana ?" tanya Arkan setelah meletakkan gagang telepon pada tempatnya.


"Aku mau ganti baju." jawab Adira ketus.


Arkan memindai tubuh Adira yang sedang berdiri di depannya dari atas sampai ke bawah. Melihat betapa seksinya wanita itu malam ini memakai gaun yang ia pilih.


"Mengapa di ganti ? kau sangat cantik memakai gaun ini." puji Arkan.


"Gaun model apa ini ? kau ingin aku jadi wanita penghibur ?"


Arkan terkekeh mendengar perkataan Adira.


"Tapi hanya boleh menghibur ku seorang." Arkan memegang erat pinggang ramping Adira dengan kedua tangannya.


"Kau .."


Belum sempat Adira melanjutkan kalimatnya Arkan langsung memotongnya.


"Bukannya tadi kau sendiri yang mengatakan jika hanya aku, suami mu yang berhak menyentuh tubuh mu."


Arkan menyeringai karena telah berhasil membuat Adira tidak berkutik. Dan benar saja Adira tidak bisa membantah karena memang benar itu yang ia ucapkan tapi.


Arkan menarik tubuh Adira semakin dekat kearahnya. Sampai hidung Arkan menempel di dada wanita itu. Saat ini posisi Arkan sedang duduk di pinggir ranjang sedangkan Adira berdiri tepat didepannya. Arkan sengaja memajukan mulutnya untuk mengecup kulit mulus Adira di belahan dadanya yang terbuka. Karena gaun yang di pakai Adira sangat terbuka di bagian depan dan belakangnya. Juga sangat minim di atas lutut.

__ADS_1


Mata Adira terpejam merasakan sensasi seperti sengatan listrik yang menjalar dalam tubuhnya saat mendapat kecupan dari Arkan. Begitu juga dengan Arkan yang seperti terbuai dengan wangi tubuh sang istri. Sehingga Arkan terus memberikan kecupan dan ciuman pada bagian tubuh Adira yang terbuka. Tanpa disadari sebuah lengu-han lolos begitu saja dari mulut Adira.


Arkan mendongak sambil tersenyum melihat wajah Adira yang sudah memerah. Ternyata wanita itu juga menikmati sentuhan darinya.


"Apa yang kau lakukan ? Aku belum memaafkan mu." kata Adira kesal untuk menutupi rasa malunya setelah ketahuan oleh Arkan.


"Aku tahu kau belum memaafkan ku. Tapi aku juga tahu istri ku yang baik hati ini akan selalu menjalankan kewajibannya meskipun ia sedang marah." sekali lagi Arkan memuji sifat Adira yang sangat ia sukai.


Sejak menikah enam bulan yang lalu, Adira selalu menjalankan kewajibannya menyiapkan makanan dan melayaninya di meja makan meskipun Arkan selalu marah dan bahkan saat mereka bertengkar. Begitu juga saat Arkan menciumnya dengan panas. Adira tidak pernah menolak jika Arkan menginginkan lebih. Arkan saja yang selalu menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya.


Arkan melepaskan pelukannya saat mendengar suara bel di pintu kamar. Dua orang pelayan mengantarkan makanan.


"Ayo, kita makan." Arkan menarik tangan Adira, mengajaknya untuk duduk di sofa di mana makan malam mereka sudah terhidang di sana.


Benar seperti yang dikatakan oleh Arkan. Meskipun marah dan mengatakan tidak mau memaafkan Arkan. Tapi wanita itu tetap melayani dan mengambilkan makanan untuk Arkan.


Sementara itu seorang wanita yang sejak tadi duduk di lobi hotel terus memperhatikan pengunjung yang datang dan pergi. Tapi sudah hampir pukul sepuluh malam orang yang di nanti-nantikan tidak kunjung keluar.


"Permisi, nona Sera ?" tanya seorang pria yang sudah tidak muda lagi. Tapi juga tidak terlalu tua.


"Iya, saya."


Pria itu tersenyum karena tidak salah sasaran.


"Tuan Jimy ?" balas Sera dan pria itu mengangguk.


Sera memiliki janji dengan pria yang bernama Jimy untuk bertemu di hotel ini. Sebenarnya mereka janjian pukul tujuh malam tadi. Tapi karena sesuatu hal, Jimy terlambat datang. Beruntung Sera masih menunggunya di hotel. Tapi yang sebenarnya adalah Sera sedang menunggu Arkan yang masuk ke dalam hotel ini dan belum juga keluar.

__ADS_1


Sera terpaksa mengikuti pria itu meskipun ia masih ingin menunggu Arkan. Ah, besok aku akan menunggu Arkan di kantornya saja. Batin Sera.


__ADS_2