
Arkan tersenyum lebar menatap Adira. Meskipun Adira belum mengatakan jika dia sudah memaafkan Arkan. Tidak masalah jika Adira tidak memberinya maaf. Arkan cukup dengan Adira yang mau memberikannya perhatian seperti saat ini, Adira sedang menyuapi Arkan makan siang.
"Sayang, bagaimana keadaan bayi kita ? kapan dia akan lahir ?" Arkan merasa bahagia saat melihat perut sang istri yang membuncit. Terlihat sangat seksi.
Adira meletakkan piring bekas makanan Arkan yang sudah habis. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan kepada Arkan.
"Apa ini ?" tanya Arkan penasaran pada sebuah amplop yang baru saja istrinya berikan.
Ia pun segera membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Mata Arkan berbinar-binar ketika melihat dua buah foto USG 4D. Terlihat jelas wajah bayi yang masih ada di dalam kandungan sang istri. Tak terasa air mata Arkan menetes.
"Aku sudah tidak sabar menunggu kelahirannya." Arkan mencium foto itu lama.
Kebahagiaan Arkan membuat ia lupa jika dia sedang sakit sekarang. Kehadiran Adira bersama bayi yang masih di kandungan itu memberikan kekuatan tersendiri buat Arkan. Sekaligus menjadi obat untuknya.
__ADS_1
Dua hari kemudian, Arkan sudah di perbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Ririn mengajak Arkan dan Adira untuk pulang ke rumahnya, tapi Arkan menolak. Ia ingin pulang ke rumah pribadinya bersama sang istri.
"Apa kau tidak merindukan rumah kita ?" Arkan menatap dengan penuh harap agar sang istri mau ikut pulang bersamanya.
Adira membuang napas panjang. Sungguh ia tidak tahan melihat wajah Arkan yang memelas. Begitu mudahnya ia luluh dengan rayuan sang suami.
"Hem. Baiklah." jawab Adira akhirnya.
Arkan tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendengar jawaban Adira. Begitu juga dengan Nia dan Ririn yang ikut senang dengan keputusan Adira. Akhirnya, Adira bersedia untuk memaafkan Arkan dan kembali bersama suaminya.
"Sayang, ayo masuk." Arkan tersenyum melihat Adira.
Arkan mengambil tangan Adira dan menautkan jari jemari mereka. Lalu membawa sang istri masuk ke dalam rumah mereka.
__ADS_1
Adira mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan. Tidak ada yang berubah sedikitpun meskipun sudah lima bulan ketiadaannya.
"Selamat kembali, nyonya." para pelayan memberikan ucapan. Mereka juga mengucapkan selamat kepada Adira dan Arkan atas kehamilannya.
Setelah menyapa para pelayan, Arkan membawa Adira ke dalam kamar. Kamar yang selalu di rindukan oleh Adira selama masa pelariannya. Arkan langsung memeluk Adira dari belakang. Kedua tangannya mengusap perut sang istri yang sudah membesar.
"Aku sangat merindukan mu." Arkan menundukkan wajahnya di bahu Adira. Sesaat kemudian terdengar isakan dari tangis Arkan yang membuat tubuhnya bergetar.
"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi." suara lirih Arkan terdengar sendu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya jika saat ini Adira belum juga kembali. Mungkin sampai sekarang Arkan tidak tahu jika ia akan segera memiliki anak.
"Maafkan aku." Adira membalikan tubuhnya. Kini Adira yang memeluk erat tubuh suaminya dan Arkan membalas tak kalah erat. Adira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang selalu membuatnya nyaman. Beberapa menit lamanya mereka berada di posisi itu. Saling memeluk erat dan melepaskan kerinduan yang begitu besar.
Arkan kemudian meleraikan pelukannya dan memegang wajah Adira dengan kedua tangannya. Pandangan Arkan tertuju pada bibir manis Adira yang sudah lama tidak ia rasakan. Arkan pun segera mengikis jarak antara mereka. Dengan lembut ia menyesap bibir milik istrinya, melimatnya penuh rasa sehingga keduanya sama-sama kehabisan oksigen.
__ADS_1
Arkan mengusap bibir Adira yang basah dengan ibu jarinya. Adira tersenyum menundukkan kepala, malu karena Arkan terus menatapnya dengan penuh maksud.
"Bolehkah aku mengunjungi anak kita ?" tangan Arkan mengusap-usap perut besar sang istri.