
Arkan begitu terkejut melihat Adira dan ibunya yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Adira, ibu."
Adira menjatuhkan kue ulang tahun dan bungkusan kado yang di bawanya karena terkejut melihat Arkan sedang berpelukan dengan wanita yang merupakan mantan tunangannya.
"Adira, ini tidak seperti yang kau lihat." kata Arkan cepat karena takut istrinya salah paham.
Arkan langsung mendorong kuat tubuh Sera, sehingga wanita itu terjatuh di lantai dan Arkan melewatinya begitu saja. Arkan berjalan cepat menuju ke arah pintu. Dengan tanpa berkata-kata Adira langsung berlari pergi dari ruangan Arkan.
"Adira, tunggu. Sayang." Arkan ingin mengejar Adira tapi Ririn menahannya sambil menatap tajam.
"Untuk apa kau mengejarnya lagi." kata Ririn dengan nada marah.
"Aku akan menjelaskan pada Adira, Bu. Dia pasti sudah salah paham." Arkan kemudian melewati ibunya dan saat itu Adira sudah masuk ke dalam lift.
Arkan kemudian menyusul Adira bersama ibunya. Tapi sayang, setelah tiba di halaman perusahaan, wanita itu sudah tidak ada lagi di sana. Sementara Ririn langsung pergi meninggalkan putranya yang sedang kebingungan mencari Adira.
"Sayang, kau di mana ?" tanya Ririn cemas setelah panggilannya di angkat oleh Adira.
"Aku sedang di taman, Bu." jawab Adira.
Meskipun tidak menangis tapi Adira cukup merasakan sesak di dadanya melihat suaminya sedang berpelukan dengan wanita lain. Apa lagi wanita itu adalah mantan kekasih Arkan. Mungkin saja Arkan masih mencintai Sera.
__ADS_1
*
Arkan buru-buru kembali ke ruangannya untuk mengambil ponsel dan kunci mobil. Ia akan menyusul istrinya yang pasti sedang marah karena salah paham dengan apa yang Adira lihat tadi.
"Apa lagi yang kau tunggu. Pergi !" bentak Arkan saat melihat Sera masih ada di ruangannya.
"Dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi jika kau masih ingin hidup." lanjut Arkan lagi sambil melemparkan kado yang di bawa Sera tepat di kaki wanita itu.
Arkan menelpon orang suruhannya untuk menanyakan keberadaan Adira dan orang itu mengatakan jika nonanya dan nyonya besar datang ke perusahaan Wiratama Grup. Setelah itu dia tidak mengawasi Adira lagi karena menurutnya istri tuannya itu pasti akan aman bersama nyonya besar yang selalu di jaga oleh pengawal pribadi.
"Dasar bodoh !" Arkan langsung memutuskan panggilannya.
Arkan kemudian menelepon ibunya ingin menanyakan tentang sang istri. Tapi sayangnya, ibunya tidak mengangkat panggilan Arkan. Arkan lalu memutuskan untuk pergi ke butik. Mungkin Adira pulang ke butik. Tapi begitu sampai di butik Adira malah tidak ada. Arkan bahkan langsung masuk ke ruangan Adira untuk memastikan sendiri jika sang istri benar-benar tidak ada di sana.
Hari sudah menjelang sore, namun Arkan masih tidak menemukan keberadaan istrinya, meskipun ia sudah mengerahkan orang-orang suruhannya untuk mencari.
Lalu Arkan kembali masuk ke mobilnya untuk pergi ke rumah orang tua Adira.
"Arkan." sapa Nia begitu melihat kedatangan menantunya. Pria muda itu terlihat muram dan kusut.
"Mama, apa Adira ada di sini ?" tanya Arkan tanpa basa-basi kepada mama mertuanya.
Belum sempat Nia menjawab pertanyaan dari menantunya, suara Abizar tiba-tiba mengalihkan perhatian Arkan dan Nia.
__ADS_1
"Papa."
"Duduk dulu." kata Abizar yang selalu tampak tenang mengajak Arkan masuk dan duduk di ruang keluarga.
Sekarang Arkan duduk di hadapan kedua orang mertuanya.
"Apa yang terjadi ?" tanya Abizar membuka bicara.
Arkan menghela napasnya sebelum bercerita. Arkan hanya mengatakan jika terjadi salah paham antara ia dan Adira.
Baik Abizar maupun Nia sama sekali tidak menyalahkan Arkan. Kehidupan rumah tangga memang terkadang selalu terjadi kesalahpahaman. Mereka pun tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anak menantunya.
"Sekarang kau pulanglah dulu. Nanti papa akan hubungi jika ada kabar dari Adira." Abizar menepuk pundak menantunya.
"Terima kasih, pa. Aku pulang dulu." kata Arkan berpamitan kepada papa dan mama mertuanya.
Setelah Arkan pergi, ponsel Nia tiba-tiba berdering. Nia melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo, mba."
*
Arkan melangkah dengan gontai masuk ke dalam rumahnya. Ini bahkan sudah hampir tengah malam. Pulang dari rumah orang tua Adira, Arkan memutuskan menemui ibunya untuk menanyakan tentang Adira. Tapi yang ia dapatkan hanyalah kemarahan sang ibu. Arkan hanya diam dan tidak melawan. Ia sadar sepenuhnya adalah kesalahannya karena sudah membiarkan wanita lain menyentuhnya. Arkan menyugar rambutnya kasar. Ia merasa frustasi karena belum bertemu dengan Adira.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Arkan kembali mencoba menghubungi nomor Adira dan nomornya sekarang sudah tidak aktif lagi. Arkan semakin frustasi memikirkan istrinya saat ini sedang di mana di tengah malam begini.