
Jangan lupa ya untuk!
Like
Vote
Favorit
......................
......................
Dengan segera Yiren mendorong Bayu menjauh dari jangkauannya. Viola masih menatap keduanya dengan tampang curiga.
"Kenapa kalian begitu gugup?" tanya Viola.
"Gugup? siapa yang gugup, tidak kok. Viola sejak kapan di situ?" tanya Yiren.
"Sejak tadi," balas Viola.
"Jadi Viola melihat Mama dan Papa, eh–" tak sanggup menyelesaikan ucapannya lebih merasa cemas akan otak polos anak kecil itu.
"Temboknya, menghalangi jadi Viola enggak tau kalian ngapain. Cuma, tadi Viola denger suara aneh. Makanya Viola tanya kalian ngapain?" jelas Viola.
"Ooo, itu apa. Ya, tidak penting itu sayang. Ya sudah kalau Viola udah renangnya, Mama anterin ke kamar aja. Hayo!" Yiren menarik tangan Viola pergi dari tempat sebelumnya.
Begitu pula dengan Bayu yang mengikuti keduanya.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Malam hari telah tiba, Yiren dan Bayu menemani anak mereka mengerjakan PR sekolah. Viola anak yang sangat pandai juga rajin, sehingga semua tugasnya yang di berikan oleh guru, dia sendiri yang membuatnya. Dia hanya ingin mereka berdua menemani dia saja.
Yiren menghabiskan kookies dan juga teh manis, sambil melihat Viola yang menyimpan bukunya.
"Pa, Papa sibuk banget. Hapenya, sampai bunyi terus." Melirik ponsel Bayu.
"Ya bener mas, kalau kamu ada kerjaan kamu terima aja telponnya, lagi pula Viola udah selesai ngerjain PR," kata Yiren menambahi.
"Tidak apakan, Jika Papa tinggalin buat kerja sebentar?" tanya Bayu.
Mereka berdua sama -sama menggeleng pertanda tidak keberatan sama sekali dengan apa yang akan di lakukan oleh Bayu.
Menguap dalam beberapa kali, Yiren sadar jika putri kecilnya itu sudah di Landa rasa mengantuk yang berat. Yiren menyanyikan lagu tidur dan tidak lupa menyelimuti Viola sampai dia juga ikut tertidur di sebelahnya.
Usai bekerja melalui laptopnya, Bayu merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Melirik jam dinding ruang kerja sudah pukul dua belas malam, ia meninggalkan ruangan kerja kemudian ke kamarnya, ternyata tidak ada Yiren. Sudah pasti Yiren masih di kamar Viola, bergegaslah dia ke sana. Sesuai dengan ekspektasi yang dia miliki perlahan dia mendekati Viola dan memberikan kecupan sayang di dahinya, lalu beralih pada istrinya yang terlihat sudah sangat lelap dalam tidurnya.
Bayu menggendong Yiren, memindahkannya ke kamar mereka. Tidak terusik sama sekali dengan tindakan Bayu." Dia benar-benar tidur seperti putri tidur" ujar Bayu.
Melenguh sebentar kemudian, mengatur posisi tidur dengan nyaman. Yiren memeluk Bayu, tentu saja Bayu membalas pelukan hangat tersebut.
"Selamat bermimpi, sayangku." Tersenyum memandang istri cantiknya dan mengakhirinya dengan memadamkan lampu ruangan kamar, dan hanya menyisakan lampu di dekat ranjang yang berada di atas meja.
Membuat suasana menjadi temaram dan lebih tenang hal itu bisa membantu untuk bisa ikut tidur dengan nyaman.
...----------------...
...----------------...
"Mas bangun, udah pagi. Kamu tidak ke kantor?tany Yiren karena belum berhasil juga membangunkan suaminya ini.
Menjewer telinganya, mencubit pipinya. Menendang pelan bokong suaminya, tidak ada yang berhasil. Yiren mulai jengkel, akhirnya dia mencubit puncak bukit milik suaminya.
__ADS_1
"Kya...! Yiren, haish. Kenapa kamu mencubit ini," protes Bayu.
"Akhirnya berhasil juga, kamu harus bangun bukannya kamu mau ke kantor?" tanya Yiren.
"Banguninnya, bisa pakai cara lain. Yang manis, masih pagi ini, udah dapat kekerasan intim saja," celoteh Bayu.
"Gak ada, buruan Mas. Kamu bisa kena Omelan Viola kalau terlambat nganter dia lho mas," terang Yiren.
Bayu mengusap kering wajah kusutnya, dan melihat cela jendela yang sudah bersinar cukup terang.
"Baiklah, saya akan mandi." Bergegas ke kamar mandi sampai lupa membawa handuk.
Yiren ke kamar Viola untuk membantunya bersiap-siap. "Mama, Viola enggak sarapan ya, soalnya buru-buru juga. Mana Papa ya, Ma?" tanyanya.
"Kenapa enggak sarapan, itu tidak bagus sayang. Walaupun sedikit kamu harus sarapan ya," peringat Yiren.
"Nanti telat gimana?" tanya Viola.
"Tidak akan, Mama anterin ke dapur lagian Mama udah siapin roti selai coklat buat kamu, jadi kamu tinggal makan sama minum susu aja," terang Yiren.
"Beruntungnya Viola punya Mama seperti Mama Yiren, yang perhatian baik, juga cantik. Viola sayang Mama," ungkapnya.
"Mama juga sayang banget sama kamu," balas Yiren.
Usai mengantar juga menemani anaknya sarapan, Yiren teringat akan suaminya, yang sampai saat ini belum juga ikut bergabung.
"Mama ke kamar sebentar ya, takutnya Papamu kembali tidur lagi," ucap Yiren.
"Oke,ma!" Viola mengacungkan jempol.
Bersambung
__ADS_1