Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)

Si Duda, Kulkas Berjalan ( Duda Meresahkan)
SDKB √Alergi


__ADS_3

Agar tidak mendapatkan suatu masalah lebih besar lagi, akan lebih baik Bayu segera mengatakan iya saja. Bila mana sejujurnya dirinya alergi dengan hewan berbulu lebat tersebut.


Melihat tatacara Yiren memperkenalkan Dobi serta memuji hewan adopsinya hari ini, membuat Bayu yakin. Istrinya memang membutuhkan hewan lucu tersebut.


"Aku boleh, pelihara di rumah'kan?" tanya Yiren.


"Ya, cuma. Jangan di kamar kita'ya. Aku tidak bisa terlalu dekat dengannya," kata Bayu.


"Iya, enggak apa. Yang terpenting dia boleh di rumah kita saja, ngomong-ngomong kalian berdua sudah makan apa belum?" tanya Yiren .


"Belum, Bu bos. Pak bos kita makan yok!" ajak Arka begitu semangatnya.


"Tadi lesu bener muka, giliran ada tawaran makan paling ngegas," sindir Bayu.


Tidak perlu waktu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk ke kafetaria kantor saja. Karena rasanya malas untuk sekedar mencari restoran yang mereka inginkan.


"Bagaimana kamu dengan Arin, sudah ada perkembangan belum?" tanya Yiren.


"Pertambangan yang cukup pesat," kata Arka.


"Bagus dong, kamu sudah mengatakan cinta padanya?" tanya Yiren lagi


"Bagaimana aku akan mengatakan cinta. Dia saja sudah kembali ke new York. Untuk pekerjaannya di sana," jelas Arka.


"Maka dari itu sayang, makanya tadi. Arka menghabiskan waktu untuk meroko di ruanganku," kata Bayu.


"Membuang stres katanya," sambung Bayu lagi.


"Ooo, aku rasa Arin menyukaimu juga. Dia banyak bertanya mengenai kamu padaku," kata Yiren.

__ADS_1


"Jika begitu, kenapa dia memilih pergi kenapa tidak di sini saja. Paling tidak sebulan," kata Arka.


"Dia dan kamu sama saja, berambisi dalam hal berbisnis. Tidak ada salahnya, jikalau kamu nanti bisa menemui dia di sana," ucap Yiren


"Ya benar, tidak ada masalah dengan hubungan jarak jauh. Jikalau keduanya sama-sama yakin dan percaya," kata Bayu.


"Semua tergantung padamu juga pada Arin, kami sekedar mengatakan apa yang menurut kami benar," kata Yiren


Arka memiliki satu kesempatan untuk menata hidupnya, ia seperti sudah menemukan sosok wanita yang pantas untuknya. Dia adalah Arin, dia rasanya tak mungkin bisa mendapatkan wanita seperti itu lagi.


Walau harus mengisi waktu seperti jomblo pada biasanya. Apa boleh buat, yang terpenting nanti dia memiliki suatu ikatan dengan seseorang yang akan menemani dia ketika mereka sudah mampu untuk bersama.



"Dobi ...!"


"Kucing siapa ini Ma?" tanya Viola.


"Viola, kamu sudah pulang nak?"


"Itu Dobi nak, kucing rumah kita. Mama adopsi dia hari ini," kata Yiren.


"Oh, Papa udah tau?" tanya Viola.


"Mama udah ngasih tau tadi, cuma katanya tidak boleh di ajak ke kamar saja," kata Yiren


"O, iya Ma. Papa sensitif sama bulunya," kata Viola.


Viola memberikan kucing tersebut pada Yiren. " Viola ganti baju dulu," katanya lagi sambil ke kamarnya.

__ADS_1


"Iya sayang, mama juga sudah memasak makanan kesukaan kamu. Jangan lupa makan ya," kata Yiren.



Menghabiskan makanannya, Viola ikutan gemas dengan hewan tersebut. Jadi dia ingin ikut bermain juga seperti apa yang di lakukan oleh Mamanya.


"Viola suka sama kucing juga?" tanya Yiren.


"Suka," balas Viola


"Kenapa selama ini, kamu tidak memelihara hewan ini?" tanya Yiren


"Karena aku enggak di bolehin sama Papa, karena aku pastinya enggak bisa ngurusin ini kucing ... Aku'kan masih kecil," jelas Viola


"Iya bener juga sih, itulah kenapa Papa larang kamu adopsi kucing. Tapi kamu tenang saja karena ada Mama, mama ini akan menjaga dia seperti mama jagain kalian berdua, bagaimana sekolah kamu. Tidak ada yang berani ganggu'kan," ucap Yiren sungguh dia ingin segera tau apa yang terjadi hari ini. Berharap kejadian yang tidak menyenangkan itu tidak akan pernah lagi dia dengar.


"Aman ma, semuanya berjalan dengan baik. Viola belajar sama gurunya pada baik semuanya. Nilai Viola ada seratus, sama Delapan puluh. Maaf ya ma nilai satunya rendah," jelas Viola ia merasa bersalah.


"Siapa bilang rendah? enggak dong, nilai delapan puluh itu lumayan tinggi sayang. Cuma kalau kamu mau seratus juga, kamu harus banyak belajar lagi. Pelajaran apa yang nilainya delapan puluh?" tanya Yiren.


"Pelajaran pendidikan kewarganegaraan, aku masih kecil mana ngerti aku ma, soal misalnya ada permasalahan gitu antar anak sekolah, coba deh mama baca soalnya," kata Viola.


"Mana, coba mama liat yang mana si. Anak mama ini kurang ngerti," kata Yiren.


Viola memberikan buku paketnya, dan menunjuk pembelajarannya pada hari ini.


"Oh, ini. Hari ini kita belajar ini ya. Mama masukin Dobi ke kandangnya dulu," kata Yiren.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2