
"Sayang ambilkan handuk," pinta Bayu dari dalam kamar mandi.
Menghela napas sejenak, lalu membuka lemari mencari handuk yang di inginkan.
"Buka pintunya," suruh Yiren.
"Kamu harus janji, jangan liat-liat."
"Idih, kenapa emangnya. Aku udah sering liat kok. Buru nih, ambil handuknya," ujar Yiren
Bukannya hanya mengambil handuk, Bayu malah menarik pergelangan tangan Yiren otomatis Yiren ikut masuk ke kamar mandi.
"Mas, iih. Ngapain coba jangan aneh-aneh deh," protes Yiren.
"Kenapa istriku selalu saja cemberut, apa uang belanjanya kurang?" tanya Bayu.
"Soalnya kamu, kalau lagi mode kaya gini bisa lamban semaunya mas," kata Yiren.
"Padahal, saya cuma ingin kamu pasangin handuk saja. Tidak macem-macem," tukas Bayu.
"Anak kecil aja bisa pakai handuk sendiri, kamu segede ini. Manja banget mas," celoteh Yiren.
"Biarin, saya kan anak kecil di mata kamu sayang. Buru deh, dari pada saya lama di kamar mandinya," kata Bayu.
Usai melilitkan handuk di tubuh suaminya, Yiren meninggalkan kamar mandi dan di ikuti oleh Bayu juga. Sekarang, Yiren membantu suaminya bersiap untuk ke kantor.
__ADS_1
"Berkas ini, di bawa mas?" tanya Yiren.
"Hampir lupa, iya sayang di bawa. Pagi ini ada meeting juga, " ujarnya.
"Makanya, aku bangunin dari tadi pagi buta kamu mas, kamu nya ngebo terus," cibir Yiren.
......................
......................
Sepeninggalan mereka berdua, Yiren membantu mbo Darmi membereskan rumah, tidak terlalu kotor hanya sedikit debu membandel yang suka mengotori beberapa tempat.
Pukul dua belas siang, waktunya dia menjemput Viola, tidak menyetir sendiri. Bayu belum mengajarinya untuk melakukan hal itu, jadi Yiren masih di temani oleh Pak supir yang siap sedia menemani kemanapun ibu negara mau pergi.
Viola berdiri di gerbang sekolah dan mencari keberadaan mamanya, karena dia tau pastinya Yiren lah yang akan menjemput dia.
"Mama," panggil Viola tidak sabar.
"Viola sayang, apakah Mama jemputnya lama?" tanya Yiren.
"Enggak kok, baru aja bel pulang bunyi. Mama Yiren boleh ya, beli makanan di pinggir jalan. Seperti dagangan Nanang itu," jelas Viola.
"Sayang, jangan deh. Kamu nanti bisa sakit kalau makan di luar rumah, Mama masih ingat lho, kamu pernah sakit perut karena makan sembarangan," peringat Yiren.
"Keliatannya makanannya enak," lirih Viola.
__ADS_1
"Baiklah, cuma kita jangan beli di sini. Kita cari tempat yang lain, yang lebih bersih. Gimana?" Yiren meminta pendapat dan semoga saja di setujui langsung.
......................
......................
Terlihat Yiren juga menikmati bakso yang ada di pinggir jalan, kedainya juga tampak bersih dan ini memang tempat yang di sukai oleh Yiren dahulu.
"Gimana sama, Baksonya. Enak?" tanya Yiren.
"Enak banget, Papa harus coba makan di tempat begini. Pasti Papa tidak pernah makan di sini," jelas Viola.
"Kamu benar nak, ya udah kita lanjutkan makan dulu setelah itu kita bergegas pulang," ucap Yiren.
Mereka berdua melanjutkan makan baksonya sampai habis, tidak lupa juga supir pun ikut makan bersama dengan keduanya. Yiren tidak pernah menganggap pekerja di rumah mereka sebagai bawahan justru dia menganggap mereka merupakan tambahan keluarga.
"Mang bungkus satu," ujar Yiren.
"Siap!"
"Buat siapa Ma?" tanya Viola
"Mbo Darmi," kata Yiren.
Betapa senangnya mbo Darmi karena bisa menikmati bakso yang sangat enak tersebut, Yiren menikmati waktunya dengan merapihkan beberapa bunga yang indah.
__ADS_1
Viola yang sibuk bermain dengan mbo Darmi di ruang keluarga, setelah lelah maka dia akan Menonton televisi.
Sampai sore tiba, Yiren sudah mandi begitu pula dengan Viola. Kini, mereka sedang bersantai di ruang keluarga, lebih tepatnya menemani Viola untuk belajar