
Seperti biasa Yiren akan melakukan kegiatan rutinnya, tidak ada masalah. Dia sudah menjadi istri idaman sekarang, itupun ia pelajari dari mbo Darmi, karena si mbo memiliki keluarga di kampung, anaknya sudah berkeluarga dan bekerja, pendapatan anaknya hanya cukup untuk makan sehari-hari mereka, mendengar kabar mereka sehat saja sudah menjadi daya syukur bagi mbo Darmi. Bekerja dengan Tuan Bayu sudah enam tahunan, membuatnya merasa nyaman berada di rumah ini. Tentunya, dia tidak sendiri melainkan di sini juga ada suaminya sebagai tukang kebun.
Banyak cerita yang tersampaikan pada Yiren, jadi dia banyak tau tentang rumah ini dari mbo Darmi, kesukaan mantan istri Bayu dulu atau apapun. Yiren merasa jikalau almarhumah istri Bayu dulu benar-benar bisa membuat Bayu luluh, sayangnya tuhan telah mengambilnya.
Rasanya Yiren, ingin sekali mengunjungi makam ibu dari Viola tersebut, tidak ada salahnya bukan? menziarahi kuburannya.
Kebetulan hari ini weekend, jadi. Yiren rasa waktunya begitu pas. Dia akan mengajak suaminya beserta anak mereka berziarah.
"Mas, kamu lagi sibuk enggak?" tanya Yiren pelan.
"Tidak sayang, inikan jadwalnya quality time sama kamu dan Viola, kamu mau jalan-jalan ya? Ke mana memangnya?" tanya Bayu.
"Bukan mas, rencananya aku mau ngajak kamu sama Viola buat ziarah kubur ke makam almarhumah istri kamu," jelas Yiren.
Beberapa saat membuat Bayu tertegun, bahkan dia saja sudah tidak pernah datang ke sana, terakhir dia ke sana saat melihat istrinya terbaring dan terbujur kaku di liang tanah. Ke sana, hanya membuat dirinya kembali mengingat peristiwa yang betul-betul membuat dia sedikit trauma.
"Ngapain ke sana?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Enggak ngapa-ngapain kok mas, cuma mau ke sana dan doain istri kamu dulu," ucap Yiren.
"Tidak ada tujuan bukan? akan lebih baik jangan ke sana," ucap Bayu.
"Mas, maaf kalau aku lancang. Kasian mama Viola mas ... jika kamu begini tidak mendatangi tempatnya, dia bisa sedih."
____
"Ini, makam Mama. Ya. Pa?" tanya Viola.
Wajar anaknya bertanya, di umurnya yang menginjak tujuh tahun ini, baru kali ini dia di ajak ke sini. Mulanya terdapat perselisihan pendapat sebelum ke mari, akan tetapi dia tidak tega melihat istrinya merasa sedih dan malah menyalahkan hadirnya, maka dia turutilah kemauan dari Yiren.
"Mama, makasih ya. Sudah melahirkan Viola di dunia ini, maafin Viola kalau baru dateng," ucap Viola.
Tidak terasa air mata Yiren terjatuh begitu saja, dia ikut tersentuh dengan ungkapan Viola. Tidak terbayang olehnya, jika harus berada di posisi Viola. Mungkin dia tidak akan kuat, di tinggal ibu kandung untuk selamanya padahal dia sendiri belum sempat menatap wajah sang ibu. Yiren melirik Bayu yang juga sedang menatap makam tersebut, terlihat jelas ia juga masih merasa sedih atas meninggalnya sang istri.
"Ayo kita tabur bunganya," ujar Yiren.
__ADS_1
___
"Ini pertama dan terakhir kalinya, kalian ke sini. Ku harap, kamu jangan minta hal seperti ini lagi," peringat Bayu.
"Baiklah mas, aku mengerti akan luka batin yang kamu rasakan. Maafkan aku mas," lirih Yiren.
"Jangan minta maaf, tidak ada yang salah. Pakai sabuk pengaman kalian, kita akan ke pantai," ujarnya.
"Yeay!"
Hari weekend itu di habiskan untuk mengisi waktu bermain di pantai. Viola begitu girangnya, baik Bayu ataupun Yiren selalu memantau aktivitas Viola, mereka tidak ingin hal buruk terjadi walaupun tempat mereka berada adalah kawasan aman untuk anak-anak, waspada itu wajib seperti penyakit, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Ini benar di terapkan oleh keduanya.
Suara riang gembira mengisi hari sore mereka, sampai malam tiba. Barulah mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di perjalanan pulang, Viola tertidur di pangkuan Yiren, Bayu melirik mereka sebentar."Viola pasti kelelahan habis main," kata Bayu.
"Bener mas, makasih banyak atas waktunya hari ini. Aku seneng banget," kata Yiren.
__ADS_1
Bersambung