
Arka tidak salah dalam memilih pria yang menjadi bodyguard anak dari Bayu kebetulan jua tidak jauh berbeda dari umur Bayu saat ini. Pria itu sangat penyayang dengan anak kecil, karena mengingat dia juga telah memiliki dua orang anak. Dia hanya menjaga Viola saat ia di sekolah saja.
Untung saja, Viola bisa menikmati kembali masa sekolahnya perlahan dia sudah mulai melupakan kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
Sekalian saja, Bayu mengajak Arka berangkat kerja bersama, apa lagi mereka ada meeting oudor jam sepuluh pagi.
Dalam perjalanan menuju kafe yang telah di tentukan untuk tempat meeting
Terlihat layar ponsel Arka dan tidak sengaja pula mata Bayu melihat nama yang tertera yakni Arin dengan emoticon love. Alay sekali Arka ini pikirnya, dasar Bayu tidak berkaca padahal dalam ponselnya terutama nama kontak istrinya 'My Wife dengan emoticon cium beserta love'
"Jangan main ponsel, selagi menyetir."
"Maaf bos."
Tidak lagi menatap ponsel, juga mematikan ponselnya tentunya dia sudah mengatakan pada Arin jikalau dia lagi sibuk melalui chat .
Tibalah tujuan mereka, tidak pernah membuang waktu dengan percuma hanya untuk keuntungan bisnis itu lah yang mereka lakukan sekarang. Berjalan cukup lancar sesuai dalam rencana.
Setelah itu pastinya mereka meluncurkan kegiatan lainnya, super sibuk untuk menafkahi orang di rumah, sementara Arka sibuk untuk menabung agar hari tuanya lebih bahagia nanti. Atau dia mulai menyicil untuk biaya mahar jikalau Arin mau ia nikahi. Status pacaran, belum di langsungkan. Tetapi, mungkin saja Arka ingin langsung sat set. SAH!
Obrolan melalui apk WhatsApp kali ini, berhasil membuat Arka lesu, karena dia baru saja di beri kabar. Jikalau, Arin akan berangkat ke New York untuk pekerjaan nya. Tentu, dia pulang hanya menghabiskan cuti pertahunnya saja. Dia telah mengabdi di negara itu, lagi pula memang dia sudah tinggal di sana sejak lama. Indonesia, tidak bisa di lupakan akan tetapi kota yang membuat dia percaya akan daya minatnya tidak juga bisa di tinggalkan.
__ADS_1
Mungkin nasib Arka akan lebih baik menjomblo saja, tidak ada wanita yang cocok dengannya. Ada saja, alsan dari Tuhan yang membuat mereka menjauh dari Arka. Jika tau kecewa yang ia raih, lebih baik dia tidak mencoba membuka hati untuk Arin ini. Author benar sedang mempermainkan pemain tampan ini.
"Ada apa?" tanya Bayu.
Mendapatkan kusamnya wajah Arka yang tertampang saat ini. Arka menumpahkan diri di sofa lalu mengambil pemetik dan menyalahkan pada sebatang rokok.
"Tidak ada, hanya menyukai suasana ruanganmu saja," kata Arka.
"Oh," balas Bayu singkat.
Ia juga memilih duduk di sofa single.
"Kau tidak mau?" tawar Arka sambil menyodorkan rokok yang ada beberapa batang lagi.
"Gak asyik bos, main asap begini lumayan membuang stres," kata Arka.
"Dari pada main asap, mendingan main sama istri."
"Ya, yang sudah banyak mainnya."
Brak!
__ADS_1
"Siapa yang main di belakang aku?" tanya Yiren yang tiba saja datang. Kedatangannya di waktu yang kurang pas, apa lagi mereka membahas hal yang membagongkan dan membuat seseorang bisa salah paham, akhirnya yang salah paham di sini adalah Yiren.
"Matikan itu, aku tidak suka bau nya. Bikin batuk!" seru Yiren sambil menutup hidungnya.
"I—iya Nyonya besar, he-he." Menekan rokoknya di dalam asbak.
"Kalian belum jawab pertanyaan aku, siapa yang main di belakang. Aku denger lho mas, itu suara kamu. Udah mulai nyari jajanan murah kamu?" tuduh Yiren.
"Enggak, cuma asal ngomong aja buat candaan. Kamu jangan salham sayang. Mana mungkin aku berkhianat dari istri hebat seperti kamu ini," kata Bayu.
"Salham apa?" tanya Arka.
"Salah paham, gitu aja tidak mengerti."
"Awas aja ya mas, kalau berani kamu main di belakang aku. Aku bakalan cincang punyamu aku kasih makanan dobi," kata Yiren.
"Dobi, siapa sayang?" heran Bayu.
Seperti nama laki-laki. Akan tetapi, siapa itu. Membuatnya penasaran.
Yiren tersenyum sembari kembali ke depan pintu karena ada sesuatu yang tertinggal.
__ADS_1
Bersambung