
Setelah menunggu waktu untuk bersantai di rumah bersama suaminya, dan akhirnya itu tiba, baru tibalah ia merasakan waktunya yang pas untuk Yiren menceritakan apa yang sudah terjadi pada hari ini. Bayu sangat seksama dalam mendengar cerita Yiren.
Bayu hanya mengangguk dan mengiyakan apa saja yang terjadi pada hari ini, karena rasanya tidak ada yang salah. Dia juga enggan mengetahui kehidupan orang lain, cukup mendengar versi istrinya saja sudah lebih dari cukup. Yang dia kehendaki hanya lah kejujuran saja. Selebihnya dia tidak pernah mementingkannya.
Menanyai, apakah putrinya nyaman saat bertemu tantenya itu. Mendapatkan jawaban nyaman saja maka Bayu tidak akan bertanya lainnya. Lagi pula Dinda atau pun siapa pun yang berhubungan dengan mantan istrinya dulu, memang punya hak juga atas Viola, akan tetapi bukan berarti Bayu akan membiarkan anaknya terlalu dekat dengan mereka. Tentu punya batasan nanti.
"Kalau ka Dinda, datang ke rumah ini. Boleh?" tanya Yiren.
"Siapa yang akan melarang?" tanya Bayu.
Yiren tidak perlu bertanya lagi, dia cukup mengerti kandungan ucapan tersebut. Pastinya seperti pradugaan nya jikalau Bayu sama seperti dia yang memberi izin. Selagi, niatnya datang hanya untuk bersilaturahmi. Mengapa tidak boleh( ?) Bukan kah itu hal yang bagus dan harus di jalani antar setiap manusia di dunia bukan(?)
"Viola, tidur lah. Sudah malam," kata Bayu.
"Masih jam delapan Pa, masih ada film kartun kesukaan Viola nih," kata Viola menolak untuk di suruh tidur.
"Kalau iklan, langsung tidur ya sayang?" tawar Bayu.
"Oke," balas Viola.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Viola langsung ke kamarnya. "Hati-hati, baca doa sebelum tidur."
"Iya Mama, selamat malam. Viola tidur dulu," kata Viola mencium pipi kedua orang tuanya bergantian setelah ini. Dia langsung ke kamar saja tidak ada bantahan lagi, dia cenderung selalu jadi anak penurut karena ssejak kecil sudah banyak di ajari oleh Bayu ini. Dia menciptakan karakter anak yang baik dalam diri anaknya sendiri.
"Kamu masih nonton?" tanya Bayu.
"Iya, ada acara masak mas. Selesainya jam sepuluh malam." Yiren masih terfokus ke layar televisi.
"Nontonnya di kamar saja, jangan ganggu mbo Darmi juga pasti ingin istirahat, ini sudah malam." Mengetuk jam arloginya.
"Lebih seru, nonton di ruang keluarga mas. Aku berani kok nonton sendirian," balas Yiren
Mau tidak mau, menurut apa lagi kalau dapat ancaman gituan di malam-malam sebelumnya. Langsung nurut aja udah, dari pada besok banyak tanda cinta yang tercipta. Yiren paham sekali kekuatan suaminya ini di kala saat lapar, dia seperti pemangsa yang tanpa pandang waktu.
•••
Arka kecapean dan membuatnya kehilangan pokus, dan berujung menabrak pagar pembatas jalan. Masih ada untungnya juga, karena dia tidak terlalu keras menabraknya. Membuat tubuhnya hanya lecet-lecet sedikit.
Kebetulan. Angel, menanggani dia. Ucapan pertama yang di katakan oleh Angel adalah.
__ADS_1
"Masih hidup?"
Arka terkekeh sinis mendengarnya, segitu entengnya dokter ini terhadap dia. Ya, walaupun itu hanya dia dapat mendengar.
"Angel, kalau saya meninggal. Tidak mungkin saya bisa bicara di sini," kata Arka
"Ulangi lagi, kecapean biasa bisa berakibat fatal. Harusnya hati-hati," peringat Angel.
"Cie, dokter perhatian ke saya."
Angel tidak merespon, dia hanya kembali menjalani tugasnya.
"Tante Dwi, akan tiba sebentar lagi. Saya masih ada urusan lainnya," kata Angel.
"Oh seperti ini, penangganan seorang dokter?" tanya Arka lebih ke sindiran.
"Jangan kekanakan, ada suster yang akan menunggu Tante Dwi hingga datang," jelas Angel.
"Baiklah," balas Arka.
__ADS_1
Tidak lama setelah Angel pergi, benar juga. Ternyata Tante Dwi dan om Hardi datang. Mulanya Tante mengomeli Arka yang bandel, di tuduh membawa mobil dengan ugal-ugalan. Padahal, tidak sama sekali. Arka mendapatkan pembelaan dari om Hardi, hubungan keduanya sudah semakin membaik.