
---
Bayu memberikan sapu tangan pada Yiren. Tertegun beberapa saat, lalu meraih nya. Yiren juga menghapus jejak air matanya.
Yiren berniat membalikkan sapu tangan itu, cuma langsung di tolak oleh Bayu.
"Ambil saja, saya kira kamu masih membutuhkan sapu tangan itu," kata Bayu.
Tumben nada bicaranya santun dan penuh kelembutan, biasanya. Dia akan memarahi Yiren.
"Aku enggak nyangka, Bapak bisa baik denganku," ujar Yiren.
Bayu cuma melihat dan menjadi pendengar saja.
"Kamu sudah nangisnya?" tanya Bayu.
Yiren mengangguk.
"Kita pulang," simpul Bayu.
Viola sangat khawatir ketika melihat mata Yiren membengkak, ia sempat bertanya tapi tidak ada jawaban dari Yiren.
"Papa, kenapa mata Mama bengkak?" tanya Viola.
"Papa juga tidak tau," balas Bayu.
Viola menatap lekat-lekat tidak lupa tangannya mengusap bawa mata Yiren.
"Lembab, Mama habisan nangis'ya?" tanya Viola.
Tampaknya, pengaruh Yiren begitu besar. Membuat anak kecil seperti Viola juga hendak menangis.
"Sayang, kamu jangan sedih. Mama cuma, kurang enak badan saja, makanya. Begini," dusta Yiren.
"Beneran? kalau mama sedih, jangan di simpan sendiri ya. Viola juga ikut sedih soalnya," kata Viola.
"Tidak ko, Mama tidak kenapa-napa." Memeluk Viola.
---
Yiren merasa aneh, karena. Pembantu di rumah tidak memasak untuk menu makan malam.
Tidak seperti biasanya, sehingga Yiren menemui dan bertanya. Mungkin saja pembantu sedang sakit.
"Mbo, kenapa. Tidak ada menu makan malam?" tanya Yiren.
"Maaf Nona, memang Tuan melarang saya untuk memasak menu malam ini," jawabnya.
Kedua alis Yiren bertaut, tentu saja dia bingung dengan jawaban itu.
"Kita akan makan di luar, Ma." Berjalan mendekati Yiren yang masih bingung.
"Makan di luar?" ulang Yiren sambil menatap pada Bayu yang juga menatap arahnya.
Tidak perlu beraduh kontak lama-lama. Yiren memilih menundukkan pandangannya, bisa bahaya juga menatap mata pria itu. Terasa, di sengat listrik. Aneh juga dengan hati Yiren.
__ADS_1
"Iya, kita akan makan di luar. Itupun, kalau kamu mau ikut," kata Bayu.
Baru saja Yiren ingin bicara, kalah cepat dengan Bayu.
"Kalau tidak, juga. Itu lebih baik," sambung Bayu.
'Nyebelin banget si,' batin Yiren.
"Papa, ko gitu. Mama jangan denger Papa, mendingan Mama siap-siap aja, aku sama Papa tunggu di mobil," jelas Viola.
Yiren tersenyum dan mengacungkan jempolnya untuk Viola.
Beberapa menit kemudian.
"Lama, bener. Udah lah, kita tidak usah tunggu," kata Bayu.
"Papa, apaan coba. Viola marah mau?" ancam Viola dan dia melihat kedatangan Yiren yang tampak cantik sekali.
"Papa, itu. Mama Viola wah. Mama cantik banget," puji Viola.
Bayu juga baru menyadari adanya Yiren itu, matanya tidak bisa berpaling dari Yiren. Sampai-sampai, Yiren berdehem barulah dia mengerjakan matanya dengan segera mungkin masuk ke dalam mobil tanpa mengomel. Pada biasanya, dia suka mengomel jika menunggu seseorang lama kecuali anak nya sendiri. Dia tidak pernah bisa marah dengan Viola.
Saat dalam perjalanan. Sesekali, Bayu melihat Yiren dari spion mobil.
'Kenapa kamu membuat jantungku, berdetak seperti ini. Saya yakin ada yang tidak beres dengan semua ini,' batin Bayu.
Sebelum ketauan, Bayu segera mengalihkan penglihatan nya. Berganti juga dengan Yiren yang melirik Bayu di depan.
'Apa aku, telah menemukan. Pengantin Daren dari hatiku, tapi masa iya. Sama bos nyebelin juga menjabat sebagai kulkas berjalan,' batin Yiren.
Sampai juga akhirnya, mereka di restoran. Yiren, Bayu dan Viola memilih tempat duduk yang nyaman.
"Samain aja, Pak." Dengan gerakan tangan sebagai bentuk kesopanan.
"Oh, oke." Menutup buku menu.
Mereka menikmati hidangan yang ada di meja, selagi makan. Diam-diam Bayu menatap Yiren, begitu sebaliknya. Mereka, saling pandang-pandangan. Bibir Yiren memperlihatkan senyuman manisnya. Sementara Bayu tidak ada senyum apapun.
•••
---
Skip dua bulan berlalu.
Viola ulang tahun yang ke enam tahun. cukup sederhana pestanya, karena Viola memang tidak terlalu suka dengan keramaian.
Hanya ada, Viola, bi Ijah, Papa dan juga Yiren.
Kue pertama Viola langsung berikan pada, Papanya lalu ke Yiren dan terakhir pada Bi Ijah.
"Besar sekali hadiah nya, apa itu Mama?" tanya Viola.
"Coba aja kamu buka," suruh Yiren.
"Papa akan bantuin," kata Bayu.
Ternyata isi hadiahnya berupa boneka beruang berwarna putih dan pink. Viola memeluk boneka raksasa itu.
__ADS_1
"Wah, Viola seneng banget dapat hadiah dari Mama, terus Papa mana hadiahnya?" tanya Viola.
"Tutup mata dulu, karena hadiah Papa sangat spesial," kata Bayu.
Tanpa berlama-lama, Viola segera menutup mata.
Viola meraba sebuah liontin yang sudah di pasang di leher mungilnya.
"Bagus pa, aku suka. Makasih Papa, makasih juga Mama," kata Viola dan memeluk mereka berdua.
Dengan ragu-ragu demi menyenangkan hati Viola. Yiren Dan Bayu membiasakan untuk memeluk dengan menghilangkan rasa kecanggungan.
"Mama, Papa."
Viola melirik mereka berdua bergantian.
"Sebenarnya, bukan ini yang Viola pengenin saat ulang tahun Viola," ujarnya.
"Lho sayang, emang kamu mau hadiah apa. Pasti Papa bakalan beliin, kamu sih. Enggak bilang dulu sama Papa," kata Bayu.
"Kalau Viola bilang, Papa bakalan kabulin?" tanya Viola
Chup!
Merasa gemas dengan mimik wajah anaknya itu, Bayu sampai menciumi pipinya.
"Apapun, pasti Papa akan kabulkan. Emang apa?" tanya Bayu.
"Janji?" Viola memastikan.
"Janji, apa sih. Papa jadi penasaran," ucap Bayu.
Sebenarnya Yiren juga cukup penasaran dengan apa yang di inginkan oleh Viola.
Viola meraih tagan Yiren dan juga tangan Papanya, dan tidak lupa menyatuhkan kedua tangan itu.
"Viola pengen, kalian berdua. Menikah, jadi. Mama Yiren bakalan jadi mama sambung aku," jelas Viola.
Bayu dan Yiren sangat terkejut mengenai keinginan Viola, walaupun itu sudah lama sekali, karena Viola lah yang sering membujuk Bahakan merayu mereka agar selalu bersama.
"Menikah saja Nyonya, Tuan. Kalian sudah sangat serasi. Pasti kalian akan selalu bahagia," kata Bi Ijah.
Pipi Yiren merona mendengarnya, tidak tau sejak kapan. Memang rasa nyaman sudah muncul ketika bersama dengan majikannya itu, terlebih Bayu sering memberikan sedikit perhatian.
Seepetinya juga, Bayu merasakan hal yang sama. Akan tetapi, dia meragu karena ingat bahwa Yiren masih mencintai Daren.
"Papa enggak bisa nikahin Mama Yiren sayang," kata Bayu.
Yiren seketika merasa kecewa dengan perkataan itu, Yiren melepaskan genggaman tangan Bayu. Tetapi, Bayu malah memperkokoh genggamannya.
"Kecuali, kalau Mama Yiren mau menikah dengan Papa," lanjut Bayu.
Sudah lah, pipi, telinga Yiren memerah secara bersamaan. Rasanya ia bahagia dan juga merasa malu atas lamaran ini.
"Gimana mama, mau'kan?" tanya Viola.
Yiren mengangguk.
__ADS_1
Bersambung