
Merasa cukup kesal dengan pembatalan jadwal perginya, membuat Arin enggan membalas WA dari Arka.
Jika di ingkari sekali seperti ini, apa tidak akan membuat masalah lebih besar di kemudian hari. Dasar Arka tidak bisa di pegang ucapannya.
Arka sendiri yang mengajak dia bertemu di taman malam ini, akan tetapi pria itu baru mengatakan jikalau semuanya di kensel. Bete dan kesal rasanya. Arin mungkin terlihat seperti gadis bodoh berdiri di tengah kerumunan orang-orang berpasangan. Karena taman ini memang khusus bagi pasangan muda saja, tidak ingin lama di tatap penuh jenaka dari pengunjung taman lainnya, hingga Arin memutuskan untuk pergi.
Setibanya di rumah, ia kembali dibuat terkejut karena si pria yang sedang ia omeli sudah berdiri di depan pagar rumahnya.
Bukannya tadi pria itu mengatakan jikalau mereka tidak bisa bertemu di karenakan si pria tersebut ada pekerjaan tambahan yang di beri bosnya.
"Bunga, aku pikir mungkin kau menyukainya." Menyodorkan setangkai bunga rose.
Menyambut bunga itu dan mencium aromanya sekilas. Aroma bunga yang masih sangat segar, karena ini di petik langsung dari pohonnya.
"Kamu bilang, sibuk untuk bekerja. Kenapa bisa di sini?" heran Arin.
"Pekerjaanku telah selesai, ku pikir waktuku masih ada. Jadi apa kamu mau pergi bersamaku?" tanya Arka.
"Kenapa tidak," balas Arin.
__ADS_1
Perihal soal malam itu di mana Arka mengetahui Arin, yang selalu pergi dengan penyamaran yang penuh semata untuk meringankan beban anak jalanan. Kehadiran nya di ketahui oleh Arin, hingga mereka harus berbicara empat mata. Arin pun mengakui jika dirinya memang melakukan semua itu. Berpura-pura seperti wanita tidak punya apa-apa, agar bisa di terima oleh mereka yang butuh bantuannya. Jikalau, dia muncul dengan jati diri yang sebenarnya. Mungkin saja mereka berpikir jikalau Arin hanya pencitraan belaka. Membuat Arka merasa tersentuh, dan akhirnya mengucapkan kata bangga dia ingin mengenal lebih banyak Arin ini. Merasa tidak keberatan sama sekali, Arin menyetujui hal tersebut, hingga mereka memutuskan untuk pergi bersama bisa di katakan dengan pergi berkencan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Arka.
"Pesto chicken baked, jus storberi " balasnya.
"Ya sudah mbak, pesto chicken baked dua sama jus stroberi satu dan jus jeruk satu," terang Arka pada si pelayan kafe. Pesanan mereka telah di dalam list, pelayan tersebut langsung undur diri untuk segera menyampaikan pada pihak dapur.
'Semoga uangku masih cukup,' batin Arka.
Tidak berapa lama, pesanan mereka datang langsung di hidangkan di atas meja keduanya. Dengan ramahnya pelayan tersebut mempersilahkan untuk keduanya menikmati.
"Apa tidak enak? kalau tidak kamu bisa pesan yang lain saja," ucap Arin
"Tidak kok, ini makanan enak. Aku sangat suka," kata Arka dengan melahap makanan nya. Membuat saos tomat menempel di hidungnya. Mungkin terlalu bersemangat, membuatnya bisa mengalami insiden tersebut.
"Makannya, sampai belepotan lho." Arin membersihkan memakai tisu yang ada.
Dari luar kafe, tanpa sengaja Mahira melihat semua ini. Mendidih rasanya hati juga otaknya saat ini, bisa-bisanya Arka malah asyik bersama wanita lain ketimbang dia. Dia yang pertama, kenapa selalu jadi bayangan belaka. Ini tidak bisa di biarkan.
__ADS_1
"Hai ayang!" seru Mahira memeluk Arka.
Membuat Arin heran, siapa gadis kecil ini. Di lihat dari wajah juga poster tubuhnya dia masih sangat jauh di umurnya.
"Mahira apaan kamu, lepaskan saya!" Melepaskan pelukan itu.
"Kamu kok tega bener, selingkuh dari aku. Sama dia lagi, heh denger ya. Ka Arka ini calon jodoh nya Mahira, kamu tidak pantas melakukan ini," kata Mahira.
"Sembarangan saja, Arin jangan dengarkan dia. Saya masih sendiri hanya saja dia gadis tidak waras," kata Arka.
Arin tidak bicara apa-apa, dia segera menenteng tasnya lalu pergi dari kafe itu.
"Arin tunggu hei! Lepaskan. Jangan sampai saya berbuat sesuatu padamu ya Mahira!" bentaknya karena Mahira selalu menempel padanya.
"Pak, pak. Anda tidak boleh pergi sebelum melakukan pembayaran," kata pelayan kafe.
Terpaksa Arka tertahan sementara waktu.
"Maaf pak, apa ada kartu lain. Ini di tolak," ujar pelayan.
__ADS_1
"Ya sudah, cash saja. Ini ambil saja," kata Arka.
'Untung masih punya cash' batin Arka.